Home / Analisis / Akankah Jihad Ahok Berhenti di 2017?

Akankah Jihad Ahok Berhenti di 2017?

Tahun 2017 segera selesai, bagi para relawan Indonesia Baru, tahun 2017 tahun yang cukup pahit. Dua nama yang seharusnya sekarang ini digarda depan, bahu membahu dengan Jokowi untuk mendewasakan Indonesia Baru tergeletak tak berdaya. Masih adakah perang suci (jihad) melawan para penjahat?

Seringai sadir, tawa sinis, sampai cemooh para koruptor bagaikan sang dewa Mamon sendiri yang turun ke Indonesia menghajar para pejuang suci melawan korupsi.

Ahok dan Anies mengambil panggung politik 2017.  Bukannya membawa kebahagiaan, tapi yang ada hanyalah miris dan trenyuh melihat bagaimana mereka jatuh terjungkal.

Anies, entah siapa dia yang sebenarnya, niat hati siapa yang tahu? Yang bisa dinilai hanyalah perbuatannya. Kebijakan, keputusan, dan perilaku politik Anies jauh panggang dari api, sangat berbeda ketika dia masih menjadi relawan di gerakan Sosial.

Tahun 2017 adalah tahun kematian reputasi Anies sebagai “orang baik” yang memiliki niat baik untuk membangun bangsa ini. Yang tercermin hanyalah politikus oportunis yang brutal dan kejam dalam menggunakan segala cara demi semua posisi.

Para relawan Anies boleh saja membantah hal ini, tapi itu fakta yang ada sekarang ini. Tantangan untuk para relawan 0% (istilah yang dipakai tempo dulu) untuk mengkritisi dan menantang Anies dalam permainannya sendiri, bukannya malah menjadi ikut-ikut buta politik. Seperti kerbau dicucuk hidungnya.  Tahta dan Harta yang benar-benar menunjukkan keperkasaannya.

Tahun 2017 pula seorang Ahok, politikus negarawan yang “hampir sempurna” harus tersandung dengan politik SARA yang ujung-ujungnnya adalah mamon juga. Hampir semua elemen dalam birokrasi, politik, sampai ormas terkait keluar dari sarang penyamun dan menghajar Ahok.

Ingat, Ahok masuk penjara karena proses pengadilan yang sah. Jadi, dari kepolisian, kejaksaan, sampai pengadilan berlumurn darah kotor kasus Ahok. Itu realitas yang tidak bisa dipungkiri. Meskipun, faktor X yang mendorong adalah demo-demo SARA, tapi semesta mencatat, bahwa “Ahok Dikeroyok” oleh seluruh sistem.

Dalam bahasa industri kreatif, bisa dikatakan Ahok adalah sebuah disruption. Hampir sama dengan fenomena ojek online, toko online, sampai sekolah-sekolah online yang merubah gaya hidup sosial masyarakat. Itulah dahsyatnya Ahok!

Di tahun 2013, saya pernah menuliskan tentang fenomena Ahok ini dan menyebutkan bahwa apa yang sedang dilakukan Ahok pada dasarnya adalah sebuah Jihad! Jihad Ahok!

 Baca: Belajar Jihad Kristen dari Ahok

Rupa-rupanya 4 tahun setelah itu Jihad Ahok ini harus berhenti, atau terhenti? Ahok tidak bisa lagi menyisir APBD, tidak ada kuasa lagi untuk menghentikan anggaran-anggaran Siluman. Ahok benar-benar harus masuk kerangkeng kehidupan.

Tapi kembali ke pertanyaan semua, apakah Jihad Ahok berhenti? Ternyata tidak. Ahok boleh saja terhenti, tapi justru perjuangan melawan begundal-begundal korupsi semakin menyala. Dalam psikologi massa, Ahok justru menyalakan sebuah api revolusi yang telah menjadi semangat bersama.

Revolusi mental untuk melawan korupsi dan SARA.  Dua setan yang terus melawan gelombang reformasi. Digawangi para bandotan Orba, politikus-politikus muda pun bagaikan greyhound (anjing balap) yang diberi daging didepannya dan terus mengejar.

Jihad Ahok hanya terhenti, tapi sesungguhnya, revolusi itu sudah dimulai. Para relawan Indonesia Baru dimanapun ditempatkan Tuhan, harus terus optimis dan bangkit untuk mengambil bagian dari peperangan suci ini.

Seharusnya kita semua setuju bahwa hidup sesuai konstitusi, dan memperjuangkan keadilan sosial bagi republik adalah suatu misi suci bersama warga negera Indonesia.   Kita semua perlu #turuntangan bersama-sama mengerjakan #PanggilanPulang suci untuk negeri biarpun resikonya adalah mati. (Sumber: Belajar Jihad Kristen dari Ahok)

Jadi, kesimpulannya adalah tidak. Jihad ala Ahok tidak berhenti di 2017. Kebalikannya, itu sedang mulai! Are you in or are you out?

 

Pendekar Solo

Loading...

About Pendekar Solo

Relawan Indonesia Baru

Check Also

Serial 227 Karya Ahok Yang Mencengangkan (7) Keberanian Ahok Bangun Flyover Pancoran

Di ujung jalan terlihat Ipda Darman, salah seorang petugas Ditlantas Polda Metro Jaya yang berjaga di …

  • Amiral Budiman Putra

    Yang anda sampaikan ini adalah opini bukan fakta, anda menyampaikan pandangan ato pendapat anda sebagai kenyaataan.. Bukan cuma anda yang melihat dan mendengar, banyak yang juga lebih mampu dari anda dalam melihat dan mendengar… Tapi berpandangan bersebrangan dengan anda… Move on bro….

  • eddy hans

    jika apa yg dikatakan bung felix benar , maka indo khususnja warga dki akan mengalami kemunduran jauh ke belakang …. saking jauhnja hingga tidak terlihat lg kehidupan …

  • Felix Lai

    Jika suatu saat Ahok kembali ke panggung politik, Ahok memang sebaiknya menjabat posisi” dalam kementrian sajalah.
    Tidak usah sebagai kepala daerah, karena masyarakat masih banyak yg belum membutuhkan seorang seperti Ahok.
    Masyarakat masih terlalu dini utk bisa menerima perubahan, masih mudah utk diprovokasi.
    Karena faktanya Jakarta saja yg boleh dikatakan paling maju diantara semua kota dan propinsi saja masyarakatnya masih banyak yg tidak butuh dengan apa yg namanya perubahan.
    Mereka masih asyik dengan kehidupan statis yg tak butuh semangat, tak butuh disiplin dan tak butuh perjuangan untuk meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup yg baik.
    Banyak masyarakat Jakarta yg hanya perlu bisa cari uang sedikit untuk makan hari ini, urusan besok ya… Nanti sajalah.
    Mereka tak butuh tempat tinggal yg layak, bagi mereka sepetak kecil saja yg penting bisa lewati malam yg dingin, itu sudah cukup.
    Banjir bukanlah bencana buat mereka, tapi justru menjadi lahan rejeki.
    Kemiskinan bukanlah permasalahan bagi mereka, tapi justru merupakan alasan yg tepat untuk melanggar aturan atas nama kemiskinan.
    Anak yg tidak sekolah dgn layak bukanlah hal besar buat masa depan mereka, tapi justru merupakan komoditi untuk menambah penghasilan.
    Ahok terlalu silau buat mereka yg tidak pernah melihat “permata”.
    Mereka lebih senang melihat sebatang besi karat yg bagi mereka lbh berharga untuk diloakin.
    Mereka tidak perduli dengan APBD , karena merekapun tidak pernah dan tdk perlu membayar pajak.

    • betterthangood ina

      mangab bener nih komen………….:)