Home / Anti Hoax / Tragedi Bayi Debora, Rendahnya Nilai Nyawa Di Rumah Sakit, Teladan Ahok
Foto: dok. pribadi

Tragedi Bayi Debora, Rendahnya Nilai Nyawa Di Rumah Sakit, Teladan Ahok

Foto: dok. pribadi

Sangat menyedihkan kalau melihat apa yang terjadi kepada Tiara Debora Simanjorang, bayi berumur 4 bulan yang harus meninggal hanya karena persoalan uang. Karena RS Mitra Keluarga Kalideres, Jakarta Barat, dan bayaran harus tunai, Debora akhirnya meregang nyawa akibat lamanya penanganan. Rudianto Simanjorang sang ayah hanya sanggup memberikan DP Rp 5 juta tetapi perawatan tetap tidak diberikan.

Total jaminan Debora yang dikasih oleh bagian administrasi adalah Rp 19,8 juta. Meski sudah berjanji akan dilunasi dan memohon untuk segera dimasukkan ke Pediatric Intensive Care Unit (PICU), tetap saja pihak rumah sakit tidak mengijinkan. Yang dilakukan malah mengusahakan pemindahan bayi Debora ke rumah sakit yang melayani pasien BPJS.

Alibi yang dibuat bayi Debora cukup baik untuk melakukan pemindahan rumah sakit. Alibi aneh dan tidak masuk akal, karena status bayi Debora yang harus segera dimasukkan ke PICU saja adalah sebuah fakta yang seharusnya tidak diperbolehkan pindah rumah sakit. Intensive itu sudah jelas kondisi yang tidak baik.

Itu sama saja orang yang harusnya masuk ICU tetapi harus menunggu dan mencari rumah sakit lain yang terima BPJS. Kondisi harus segera masuk ICU menjadi logika jungkir balik karena bisa dipindahkan hanya karena rumah sakit tersebut tidak melayani BPJS. Menyedihkan.

Realita tewasnya bayi Debora tentu membuat kita jadi mempertanyakan apa sebenarnya komitmen rumah sakit ini dibangun. Buat bisnis atau buat kemanusiaan?? Memang benar layanan tidak akan bagus kalau tidak ada pembiayaan yang sesuai, tetapi apakah semua itu harus mengorbankan kemanusiaan??

Ini adalah sebuah tragedi kemanusiaan. Tragedi bukan karena tidak ada pelayanan yang tersedia, tetapi karena tidak adanya hati nurani dari sebuah rumah sakit yang hanya karena persoalan uang tidak memberikan pelayanan terbaik kepada kemanusiaan. Sebuah pukulan nurani yang menohok ke tengah-tengah jantung kemanusiaan kita.

Kemana nurani dan kemanusiaan rumah sakit dan dokter yang menanganinya?? Apakah peraturan rumah sakit lebih penting daripada nyawa seorang bayi?? Apakah tidak ada dana kemanusiaan mendadak seperti ini yang dimiliki oleh rumah sakit tersebut??

Kini semua harus segera berbenah. Pemerintah harus mewajibkan semua rumah sakit untuk melayani pasien BPJS tanpa terkecuali. Kalau ada yang menemukan pasien butuh pertolongan segera, maka rumah sakit yang belum kerjasama dengan BPJS harus diwajibkan melayani terlebih dahulu. Masalah uangnya segera diberikan jaminan oleh pemerintah.

Semua ketua yayasan dan pemilik rumah sakit harus ditanyai komitmen mereka terhadap makna dan nilai sebuah nyawa dibandingkan uang. Perlu juga dimintai tanggung jawab dan jaminan tidak boleh ada nyawa melayang hanya karena persoalan uang di rumah sakitnya. Kalau kedapatan perlu diberi sanksi sampai ancaman pembekuan ijin.

Kalau hal ini tidak diseriusi, maka tregedi seperti yang dialami oleh bayi Debora akan terus terulang. Dokter dan bagian administrasi pasti tidak akan berani melakukan tindakan karena pekerjaan mereka juga akan terancam. Para Dirut, pemilik, dan juga ketua yayasan rumah sakitlah yang harus ditekan dan diberi sanksi.

Saya jadi ingat seseorang yang dulu berjuang mati-matian dan bahkan rela pakai uangnya sendiri supaya tidak ada lagi. Dia mengancam semua Dirut RSUD kalau kedapatan menolak pasien BPJS. Dengan alasan penuh kamar sekalipun dia tidak mau terima.

“Kalau kelas tiga penuh, masukkan ke kelas dua. Kelas dua penuh, masukkan ke kelas satu. Kelas satu masih penuh juga, masukkan ke ruang VIP,” ujar dia.

“Pokoknya kalau ada yang sekarat pun terima dulu. Bapak dan Ibu pusing dari mana bayarnya, pakai uang saya,” ujar dia.

Siapakah dia?? Ya, dia adalah Ahok. Saya tidak perlu deretkan bagaimana kepeduliannya kepada satu nyawa warga DKI. Yang sayangnya, hal ini belum dimiliki oleh mereka yang berbisnis rumah sakit. Kalau seandainya semua pengusaha yang berbisnis rumh sakit seperti AHok, maka bisa dijamin, tragedi bayi Debora tidak akan terjadi.

Mungkinkah itu terjadi?? Sepertinya akan sulit. Karena orang seperti Ahok ini langka dan sangat sedikit jumlahnya di Indonesia. Apalagi di kalangan pebisnis rumah sakit. MIRIS!!

Salam tragedi.

Loading...

About Palti Hutabarat

Die Hard Jokowi-Ahok Sejak 2012 sampai selamanya.. Pengelola Indovoices.. Info, diskusi, kerjasama, dan bergabung silahkan WA: 085820189205 atau email: paltiwest@gmail.com

Check Also

100 hari Anies, inilah pembicaraan JK-Jokowi

        Sebelum kita mulai kisah percakapan JK Jokowi ini, ada baiknya kita …

  • Kwee Seng

    Karena Tuhannya Ahok adalah Tuhan yang penuh kasih…