Home / Ekonomi / Kenapa Anda Baru Ribut Soal Utang Indonesia Sekarang? 42 Tahun Anda Kemana?

Kenapa Anda Baru Ribut Soal Utang Indonesia Sekarang? 42 Tahun Anda Kemana?

Sekarang ini isu utang negara mulai merebak dan memenuhi dunia maya, media-media bahkan group-group whatsup yang kebanyakan dari semua pembicaraan ini menjadi polemik atau perdebatan. Saya melihat semua ini seperti melihat acara Indonesia Lawyer Club dan Indonesia Lawak Club yang bicara dan diskusi tapi tanpa solusi. Hanya membongkar masalah, mengkritik, tapi tidak ada pemahaman yang lebih dalam.

Sebagai rakyat biasa, saya akan melihat dua masalah yang saya tulis menjadi judul diatas dari kacamata dan kapasitas saya sebagai rakyat Indonesia.

Beberapa kali saya mengunjungi Museum Ulen Sentanu di Yogjakarta dimana museum ini adalah museum budaya Yogyakarta dan Solo. Sangat menarik. Namun dari semua cerita sejarah tentang Kesultanan Yogyakarta, ada satu cerita yang menurut saya patut diketahui oleh rakyat Indonesia.

Fakta sejarah itu adlaah bahwa Pemerintah Indonesia berhutang budi pada Kesultanan Yogyakarta.

Pada awal pemerintahan Indonesia berdiri setelah kemerdekaan, Yogyakarta sempat menjadi Ibu Kota negara. Lalu kemudian dipindahkan ke Jakarta. Dan pada saat pindah, Saat itu, Sultan Hamengkubowono ke IX mengatakan kepada Ir. Soekarno sebagai Presiden pertama Indonesia, “Yogyakarta sudah tidak punya apa-apa lagi. Silakan lanjutkan pemerintahan ini di Jakarta,” tutur Hamengku Buwono IX sambil mengeluarkan cek senilai 6 juta gulden dengan berurai air mata di hadapan Ir Soekarno dan menteri-menterinya.

Coba Anda bayangkan. Seorang Raja Jawa yang berwibawa mengumumkan dirinya tidak punya apa-apa di hadapan umum. Kala itu memang Yogyakarta sudah tidak punya apa-apa lagi untuk menopang keuangan RI yang pindah ke Yogyakarta. Hampir semua biaya operasional untuk menjalankan roda pemerintahan, misalnya kesehatan, pendidikan, militer, dan pegawai-pegawai RI, saat itu dibiayai Keraton Kasultanan Yogyakarta.

Itu adalah awal dana yang dimiliki oleh negara sebesar Indonesia. Kecintaan dan rasa nasionalisme seorang Sultan Yogyakarta teruji dengan baik!

Lalu apakah Presiden harus hanya berpangku tangan untuk membangun bangsa dan negara ini hanya dengan uang 6 juta Gulden? Tidak! Pada masa itu, pinjaman luar negeri adalah satu-satunya jalan untuk menopang kehidapan bernegara dan pembangunan. Soekarno meminjam uang ke negara-negara blok timur, Uni Soviet dan sekutunya. Ada bantuan (utang) dari AS, tapi jumlahnya tidak lebih besar dari utang yang diperoleh dari Uni Soviet dan sekutunya.

Dan ketika pergantian kekuasaan terjadi, Bung Karno mewarisi utang sekitar USD 2,3 miliar (di luar utang Hindia Belanda USD 4 miliar) kepada Soeharto.

Dan sejak itu, mulai dari Soeharto, Habibie, Gusdur, Megawati dan SBY, Indonesia tidak pernah berhenti berhutang. Sejarah mencatan bahwa pembangunan Indonesia sangat lambat walaupun sudah berhutang begitu banyak.

Saya tidak setuju jika ada media atau pihak atau bahkan seseorang yang mengatakan “Indonesia punya kebiasaan berutang” atau mereka dengan kesadarannya mengejek pemimpin Indonesia sebagai si Raja Utang. Kalau dasarnya hanya berpegang pada fakta bahwa Indonesia memiliki sumber daya alam yang banyak, kenapa lalu tidak diteruskan kalimatnya bahwa semua sumber daya alam itu masih ada didasar tanah dan harus di keluarkan dan diproses. Dan untuk melakukanitu semua, apakah tidak memerlukan biaya?

Setiap Presiden Indonesia, mereka berkuasa dijaman yang berbeda dengan prioritas negara yang berbeda pula.

Pernahkan Anda bertanya SAAT jaman ORDE BARU, apakah Soeahrto pernah MELUNASI UTANG pemerintahan Soekarno yang hanya USD 2.3 miliar? Tidak! Tapi, bukannya melunasi utang sebelumnya, Soeharto yang berkuasa selama lebih dari 32 tahun justru semakin rajin melakukan pinjaman baru.

Seandainya, Soeharto tidak terlalu sibuk memikirkan dirinya, keturunannya, kroni-kroninya, Dan melihat bahwa Indonesia bangsa yang besar dan kaya raya dengan jumlah penduduk yang lumayan banyak, seyogyanya, dia bisa melunasi warisan utang Soekarno, dan menggali, mengelola dan mengembangkan kekayaan yan dimiliki oleh Indonesia.

Tanamkan budaya mencintai negeri, ajarkan bangsa ini untuk rajin bekerja dan JUJUR, saya yakin, Indonesia tidak akan seketinggalan sekarang! Atau kalaupun harus berhutan, tidak akan sebanyak apa yang dia warisan pada Habibie.

Parahnya, Warisan utang dari Hindia Belanda yang sempat dibatalkan oleh Soekarno, justru di re-schedule ulang oleh Soeharto pada 1964. Selain mereschedule ulang, Soeharto juga mendapat komitmen pinjaman baru.

32 TAHUN!! Bukan waktu yang sebentar untuk menanamkan sebuah budaya! Sayangnya, budaya yang ditanamkan oleh Soeharto adalah budaya KKN. Dan budaya KKN ini menghabiskan sejumlah utang haram karena tidak bisa dipertanggungjawabkan. Uang yang habis karena dikorupsi. Data yang ada menyebutkan, rezim Orde Baru berutang sebesar Rp1.500 triliun yang jika dirata-ratakan selama 32 tahun pemerintahan Soeharto, utang negara bertambah sekitar Rp 46,88 triliun tiap tahun.

Soeharto mewariskan utang negara pada Habibie sebesar USD 171 miliar.

Lalu Habibie. Dia hanya 2 tahun memimpin negara ini. Kepemimpinan yang hanya seumur jagung ini, seyogyanya tidak usah berhutang, bukan?

Sialnya, gerakan reformasipun tidak mampu mengeluarkan Indonesia dari jerat utang luar negeri. Gusdur memang berhasil mengurangi jumlah utang Indonesia sekitar USD 21,1 miliar. Dari USD 178 miliar menjadi USD 157 miliar. Namun, utang pemerintah secara keseluruhan meningkat. Sebelum lengser, Gus Dur mewarisi utang sebesar Rp 1.273,18 triliun ke pemerintahan Megawati.

Di masa Megawati berkuasa, terjadi penurunan jumlah utang melalui penjualan aset-aset negara. Pada 2001 utang Indonesia sebesar Rp 1.273,18 triliun turun menjadi Rp 1.225,15 triliun pada 2002.

Sayangnya, di tahun-tahun berikutnya utang Indonesia terus meningkat. Pada 2004, total utang Indonesia menjadi Rp 1.299,5 triliun. Namun demikian, tambahan utang baru dimasa Gus Dur dan Megawati terbilang sedikit, tidak terlalu besar.

SBY adalah si Raja Utang yang sebenarnya. 10 tahun  masa pemerintahannya, utang Indonesia semakin menggunung. Tapi apa hasil pembangunan yang sudah dia lakukan? Pernahkan Anda mempertanyakan itu semau? Tidak!

Lalu kenapa sekarang Anda ramai-ramai mempertanyakan utang yang dilakukan Jokowi? Padahal seluruh Indonesia dan dunia tahu dan melihat APA SAJA YANG SUDAH JOKOWI BANGUN UNTUK INDONESIA.

Ya, memang benar, utang Jokowi selama 3 tahun menyaingi utang SBY selama 5 tahun, tapi pembangunan yang dilakukan oleh Jokowi sangat melebihi dari pembangunan yang dilakukan 3 Presiden sebelumnya.

Tidakkan Anda ingin mengucapkan terima kasih? Atau Anda lebih senang hidup seperti kaum Amish di Amerika?

 

Ref. https://www.merdeka.com/uang/kebiasaan-mewariskan-utang-sejak-soekarno-hingga-sby.html

 

 

Loading...

About Emily Emily

Check Also

Salah Input Anggaran Lift Dianggap Sepele, Kepercayaan Publik Kepada Anies-Sandi Turun

Mau uangnya hanya ratusan juta atau pun miliaran, uang yang ada di pemerintah dalam APBN …

  • ASGAR MAIPHANK

    semakin tinggi pohon tumbuh semakin besar badai menerpa. semakin bapak presiden membuktikan dan terbukti hasil kerjanya semakin banyak juga yg iri dan mengkrtiki… hmmm

  • No Fear

    Bukan “kemana-nya”, masalah-nya dulu kebagian bancakan , sekarang gak kebagian porsi. Ya marah deh !!

  • Indri Giber

    Tim Jkw IMHO mengambil resiko politik yg besar. Membangun infrastruktur secara masif apalagi dengan hutang. Mengapa? Karena impact dari usaha ini butuh waktu panjang untuk terlihat. Jadi saya kagum juga dengan nyali beliau.

  • minor13

    tidak hanya budaya KKN yang ditanamkan tapi budaya malas budaya menadahkan tangan budaya meminta-minta ….
    sadar atau tidak, ketika bulan puasa, pengemis meningkat, ketika imlekan pengemis meningkat ……
    pengangguran setiap tahun jumlahnya tetap tinggi, bukan hanya alasan lapangan pekerjaan tidak ada tapi tidak mau kerja (jadi petani, jadi buruh, jadi tukang panggul, jadi wirausaha, jadi pedagang kecil dll ngga mau, maunya jadi pns, guru di kota, dokter di kota, jadi bos, jadi peminta2, dll yg ngga kerja keras tpi gaji/penghasilan tinggi) …..

    • Indri Giber

      IMHO, sulit untuk mengubah attitude dari masyarakat keseluruhan, soalnya sudah turun temurun. Misalnya mengandalkan orang lain karena menolong orang berpahala apalagi di bulan puasa. Atau kerja keras baik, tapi takdir yg menentukan. KKN juga gitu, sekarang ditolong, nanti di masa depan balas budi, dan seterusnya. Fundamentally, nilai2 budaya itu baik, tapi kita kurang belajar bagaimana mengaplikasikannya dengan benar, jadi salah kaprah 🙁

      • minor13

        budaya itu lahir dari kebiasaan di masyarakat …..
        di lingkungan kerja (terutama pemerintahan) sudah dibiasakan pungutan liar (korupsi kecil2an) pas kenaikan pangkat pun kemungkinan ini tidak hilang tapi bertambah nominalnya …. ato di masyarakat sendiri memberi sogokan supaya surat2nya cepet diurus …. ini akan membuat mereka males kerja (lebih cepet bahkan sengaja menghambat) supaya dpt fee ….

        sebenernya pemerintah (daerah setempat) bisa mengarahkan si pengemis utk membuat usaha kecil2an sendiri dibantu modalnya dll tinggal si pengemis itu mau kerja ato tetep mengemis …..

        takdir itu masih bisa berubah klo kita kerja keras dan berdoa, banyak org yg sukses itu ngga langsung sukses (walaupun ada yg emang anak org kaya) banyak yg merintis dari nol juga tinggal kemauan dan pantang menyerah ketika gagal saja ….

        • Indri Giber

          I can’t agree more.
          Terlalu sering saya mengamati orang di sekitar saya yg menyerah at the first sign of trouble.

          • minor13

            mereka takut gagal sehingga malas mencoba takut mencoba tapi sukses itu tidak ada yg tanpa kegagalan di awal …. usaha sepi itu biasa ketika baru memulai, kita lah yg harus berubah menyesuaikan dgn calon pembeli/pelanggan …. disini banyak masyarakat yg lebih suka didatangi bola bukan menjemput bola ….. seperti ojek pangkalan (penumpang mencari ojek) dgn ojek online (penumpang dijemput) jelas kan yg mana yg akan lebih ramai …..

        • Felix Lai

          Pengemis di Jakarta, tapi di kampung rumahnya gedong bro….
          Banyak masyarakat kita memang mental pengemis sampai ke pejabatnyapun banyak bermental pengemis.

          • minor13

            nah itu dia …. ada di wawancara Aiman pengemis rumah gedong …..
            menta; dijajah 350th dizolimi 32th dimanja 10th sulit ilang dalam 3th makanya kita harus dukung revolusi mental biar sampe goal …..

          • Felix Lai

            Butuh waktu panjang utk merubah mental orang” seperti itu.
            Tapi memang harus di mulai dari sekarang kalau tdk mau sampai kapan mental mereka berubah.
            Liat saja gerombolan yg demo berjilid” tampak sekali mental pengemisnya, maunya enak dapat duit, teriak” di demo ngarep” bisa anarkis, jadi ada kesempatan bisa ngejarah barang orang lain.

          • minor13

            “teriak” di demo ngarep” bisa anarkis, jadi ada kesempatan bisa ngejarah barang orang lain.” –> nah ini …. kok semakin di tulis 1 1 makin miris ya …. semoga revolusi mental bisa berhasil dan berlanjut …. mental males mental korup mental kriminal mental nipu dan sodara2nya supaya segera minggat dri Indonesia …..

          • Felix Lai

            Ya revolusi harus mulai dari mental pejabat” , itu yg paling utama.
            Kalau mental pejabat bagus, maka rakyat lbh mudah utk mengikutinya.
            Tapi justru yg paling sulit mental pejabatnya nih.
            Seperti Singapore… Mental pejabat bagus, otomatis rakyatnya juga ikut bagus mentalnya.

          • minor13

            pejabat sama penegak hukum …. dua hal yg tak terpisahkan, klo keduanya konsisten dan disiplin sama peraturan UU dan etika moral yg sudah ada, saya yakin hanya masalah waktu saja sila kelima terwujud dan Indonesia menguasai Asia bahkan dunia (pengaruh, ekonomi, politik, dll)

          • Felix Lai

            Masalahnya sampai saat ini masih banyak pejabat yang bermental korup dan memanfaatkan kebodohan rakyatnya utk kepentingan pribadi dan golongannya.
            Ini yg paling sulit karena banyak para pejabat dan aparat hukum adalah orang” berpendidikan tinggi yang rakus akan harta dan tahta.

          • minor13

            mungkin juga kurang berpikir ke depan (generasi mendatang) ….. klo negara ini hancur skrg, mereka ngga mikirin anak cucu mereka …. polusi akan terus meningkat, hutan berkurang, kualitas air memburuk, limbah dan sampah jadi masalah yg sulit diatasi, klo ditambah lagi dgn korupsi gila2an dan hukum goyang2 hanya masalah waktu saja negara akan hancur ….. 1 Jokowi ngga cukup, 1 Ahok ngga cukup, tapi klo kejujuran sama kerjakeras beliau berdua dimiliki jutaan rakyat Indonesia, niscaya negara kita akan lebih baik ….

          • Felix Lai

            Bisa kita lihat dari perhatian para generasi terhadap lingkungan, terutama di kota besar sangatlah minim.
            Kondisi sekarang banyak orang Indonesia sangat egois dan cenderung hanya memikirkan diri sendiri dan kelompoknya.
            Banyak LSM yg berhubungan dgn lingkungan hidup, tapi tak kelihatan kontribusinya bagi lingkungan, yang ada ributnya doang.

          • minor13

            pengaruh industrialisasi ….. pembangunan pendekatannya itu malah ke uang, profit,dan sejenisnya bukan ke pendekatan lingkungan ….
            ini contoh pemimpin yg membangun dgn konsep pendekatan lingkungan ….. #DediMulyadi

            https://youtu.be/rva0Z0RWuYs

          • Felix Lai

            A..ha….Kang Dedi, salah satu tokoh favorite dan merupakan tokoh sangat bagus untuk dijadikan panutan.
            Melihat cara dan gaya beliau berbicara sangat membanggakan.
            Beliau adalah asset bangsa yang sangat berharga.
            Beliau sangat paham akan lingkungan dan masyarakatnya.
            Beruntung Purwakarta punya sosok Kang Dedi.
            Semoga pilkada Jabar menjadikan Kang Dedi sebagai pilihan utama.

    • Felix Lai

      Betul sekali…. Budaya malas sdh menjadi kebiasaan banyak warga.
      Maunya berleha” , kerja santai hasil mau besar.
      Setiap hari pasang wajah memelas minta dikasihani, teriak” miskin di zolimi.
      Melanggar aturan atas nama kemiskinan, berbuat sesuka hati mengatas namakan miskin.
      Negri ini kaya , hasil laut berlimpah, tanah yg subur , tambang dll, gak ada negri lain didunia manapun yang bisa menandingi alam Indonesia, tapi sayang…… Masih banyak penduduknya yang malas dan hanya bisa menyalahkan orang lain.

      • minor13

        ini dia …. makanya penduduknya banyakan yg tidak produktif … kerja masih milih2 dulu …. takut ngambil resiko gagal bahkan jabatan pns (birokrasi, guru, polisi, tni, dll) banyak juga yg pake “backdoor” termasuk daftar sekolah sepertinya masih …..
        saya lebih respek sama pemulung, pengamen drpd sm pengemis atopun yg mengemis (jabatan misalnya) ….
        maunya semua serba instan makanya klikbet berhadiah, investasi bodong, promo penipuan, dll masih menjamur ….

        • Felix Lai

          Betul bro…. Kerja mau enak, dapat duit banyak.
          Kalau gagal salahkan orang lain.
          Bicara soal Agama segudang , pelaksanaan nya NOL BESAR.
          Hidup miskin lalu salahkan yang kaya.

          • minor13

            pas hidup udah membaik (mapan) kebiasaan waktu ngga mampu masih dibawa2 …. mengeluh serba mahal …. ngga mau bayar pajak dll …. #OrgIndoMirisJuga

          • Felix Lai

            Betul bro…. Uang udah dikantong berat rasanya bayar pajak.
            Teriak” serba mahal, tapi makan serba enak.
            Begitu mapan, mulai pamer sana sani, beli baranh” gak penting supaya bisa pamer.
            Lebaran wajib ganti mobil, perabot rumah tangga, baju baru , perhiasan emas.
            Begitu selesai lebaran muali jual”in tuh semua.
            Abis itu gembel, lalu teriak” di zolimi, teriak” gak ada perhatian dari pemerintah.

          • minor13

            pas banget bro ….

  • Prisca

    Membaca artikel ini semakin saya mencintai presiden yg skrg bp Jokowi, …. Hujatan Dan caci maki tdk menyurutkan beliau utk terus kerja ,kerja dan kerja , membangun Indonesia ..

    • minor13

      semoga tidak halangan buat beliau menuntaskan masa bakti nya dan semua yang telah direncanakan dapat berjalan sesuai rencana dan tepat waktu semuanya …… supaya ngga bisa dipelintir2 ….

  • Dr. Lao

    Masalah utamanya, ga ada yang mau baca atau cross check kebenarannya karena tertutup kebencian atau gagal move on.

    • minor13

      karena kebanjiran
      .
      .
      .
      .
      .
      .
      .
      kebanjiran hoax …… kebenarannya jadi terkaburkan …..

  • Robin

    Ibarat sebuah lahan pertanian yg diwariskan turun temurun, pada generasi sebelum kita, sudah ada hutang, walau tak jelas apakah buat menanam di lahan tsb atau masuk kantong sendiri utk foya foya, setelah diwariskan ke kita, kita ingin agar lahan itu bs produktif kembali, harus beli pupuk, beli benih, buat saluran irigasi, namun kita hanya punya lahan, tak punya uang, mau tak mau ya hrs berhutang, dgn harapan setelah panen, hasilnya bs buat lunasin hutang yg kita pinjam serta hutang warisan yg hrs kita tanggung

    • Hendra Sulindra

      jaman orba indonesia sempat kecipratan booming minyak,tapi duitnya di buat bancakan kekeluarga dan kroni2nya,blum lg bocoran devaluasi $.kluarga,mantu,kroni2 memborong dolar duluan,ditambah bisnis monopoli disegala bidang .pantes semuanya jd kaya raya.dgn cara instan .penak jamanku dulu toh