Home / Event / 100HariKepemimpinanAniesSandi / 100 Hari Anies-Sandi Dalam Bayang-Bayang Ahok
sumber gambar : merdeka.com

100 Hari Anies-Sandi Dalam Bayang-Bayang Ahok

sumber gambar : merdeka.com

Saya selalu bilang, jadi gubernur DKI Jakarta setelah Ahok itu nggak enak. Kenapa? Karena kita akan terus menerus dibandingkan dengan sang mantan yang ujung-ujungnya akan membuat kita jadi gerah. Karena pada dasarnya, tidak ada satu orang pun di dunia ini yang mau di banding-bandingkan dengan sang mantan, apalagi soal kinerja. Dan yang lebih menyakitkan itu, fakta yang tidak bisa di pungkiri bahwa kinerja sang mantan jauh lebih baik dari kinerja kita sendiri.

Mungkin itu yang dirasakan Anies Baswedan, gubernur DKI Jakarta saat ini. Setiap portal berita seperti detik.com share berita tentang Anies-Sandi, dalam waktu sekejap langsung habis di bombandir oleh ratusan komentar. Baik dari pendukung Anies-Sandi maupun pendukung Ahok-Djarot. Pendukung Anies selalu membela gubernur DKI Jakarta dengan jargon “Cieee… yang belum bisa move on karena jagoannya kalah dan harus mendekam di penjara”.

Benarkan? Move on memang selalu menjadi senjata terakhir para pendukung Anies-Sandi. Kalau ngomong soal move on memang tidak akan ada habisnya. Saya sendiri menyadari, move on itu susah. Sama susahnya dengan melihat telinga sendiri tanpa bantuan cermin.

Mungkin saja move on bisa lebih cepat terjadi, kalau kualitas gubernur terpilih lebih baik dari sang mantan. Atau sekurang-kurangnya setara. Tapi sayangnya, seperti yang di lihat oleh banyak orang, kualitas gubernur terpilih masih jauh di bawah kualitas sang mantan. Ini mungkin yang membuat pendukung sang mantan masih belum bisa move on sampai saat ini.

Sedangkan pendukung Ahok-Djarot selalu berkomentar dengan nada menyindir “Cieee… yang gubernurnya tidak bisa kerja. Tapi nggak masalah, yang penting se-iman”.

Kalau sudah begitu, mereka akan ribut sesama mereka sendiri. Segala macam sumpah serapah pun bertebaran. Saya sendiri kadang heran, apa mereka tidak ada kerjaan lain selain ribut? Jangankan seorang Jokowi, seratus Bung Karno pun tidak akan mampu mengubah bangsa Indonesia kalau kerjaan rakyatnya ribut melulu setiap hari.

***

Melihat dinamika yang terjadi inilah yang membuat saya pribadi tidak terlalu berharap banyak dengan seratus hari pemerintahan Anies-Sandi. Kecuali satu hal yakni terlepas dari bayang-bayang Ahok

Mau tidak mau, akan ada saja yang membanding-bandingkan zaman pemerintahan Ahok-Djarot dengan pemerintahan Anies-Sandi. Walaupun mungkin Anies-Sandi gerah, tapi mereka berdua tidak boleh putus asa. Jadikan perbandingan tersebut sebagai motivasi untuk membuktikan bahwa mereka bisa bekerja dan mungkin saja bisa lebih baik dari pemerintahan gubernur dan wakil gubernur Jakarta sebelumnya.

Semua ini memang tergantung pada Anies-Sandi, mau melepaskan diri dari bayang-bayang Ahok atau mau di ikuti terus sampai 5 tahun ke depan.

Caranya bagaimana?

Pertama, fokus saja membuat perencanaan yang matang mengenai solusi untuk permasalahan yang ada di Jakarta. Seratus hari memang terlalu singkat untuk memberikan bukti terutama untuk masalah klasik di Jakarta seperti macet dan banjir. Tapi melalui perencanaan-perencanaan yang matang, sekurang-kurangnya masyarakat Jakarta bisa menilai bahwa Anies-Sandi memang benar-benar bisa bekerja.

Kedua, apa saja “warisan” dari zaman Ahok-Djarot yang baik, pertahan dan lanjutkan saja. Kalau memang ada kekurangan, silahkan di perbaiki. Tidak perlu di utak-atik atau di rombak lagi dari awal. Karena akan memakan waktu yang banyak. Dari pada waktu tersebut terbuang sia-sia, mending di gunakan untuk hal-hal yang lebih produktif. Kalau hasil rombakannya lebih baik tidak masalah, tapi kalau jadi semakin amburadul bagaimana?

Ketiga, kalau ada yang kurang dari sistem pemerintahan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta sebelumnya, jangan itu dijadikan senjata untuk menyalahkan mereka. Mereka sudah jadi mantan, lupakan saja. Sekarang beban ada di pundak kita. Fokus saja dengan yang terjadi saat ini. Menyalahkan mantan bukanlah cara yang cerdas karena masyarakat akan menilai bahwa yang kita lakukan itu hanyalah tameng untuk menutupi kekurangan diri sendiri.

Keempat, jangan mengeluarkan statement yang tidak perlu. Contohi lah Jokowi yang tidak banyak berkata tapi lebih banyak bekerja. Walaupun kinerja Jokowi sebelumnya di ragukan banyak orang tapi waktu telah membuktikan bahwa Jokowi benar-benar bekerja untuk rakyat Indonesia. Terkadang diam memang lebih menguntungkan dari pada bicara. Karena semakin banyak kita bicara, semakin banyak senjata netizen untuk mem-bully kita.

Intinya, saya percaya Anies-Sandi bisa lebih baik dari Ahok-Djarot asal mereka mau membebaskan diri dari bayang-bayang Ahok secepatnya. Seratus hari memang tidak bisa di jadikan takaran untuk menilai kinerja seorang pemimpin secara keseluruhan. Tapi setidaknya, dari perencanaan-perencanaan matang masyarakat bisa menilai bahwa pemimpin tersebut memang benar-benar bisa bekerja nantinya.

Untuk yang pro dan kontra Anies-Sandi, mari melihat dan menilai secara objektif. Sadari lah bahwa menjadi pemimpin itu tidak mudah dan perubahan yang terjadi butuh proses. Di dunia ini tidak ada yang benar-benar instan. Bahkan, mie yang katanya instan pun tidak bisa langsung dimakan dengan bungkus-bungkusnya.

Dari pada sibuk berdebat yang tidak ada ujungnya, mending gunakan waktu tersebut untuk ikut mengawal pemerintahan Anies-Sandi. Kalau kinerja mereka bagus, jangan segan-segan memberi pujian dan kalau ada tindakan mereka yang melenceng, silahkan di koreksi dengan cara-cara yang cerdas. Semoga Jakarta dan Indonesia semakin maju.

#100HariKepemimpinanAniesSandi

Loading...

About Al Firouz

Check Also

Anies, Jakarta Memang Milik Semuanya, Tapi Bukan Berarti Loe Bisa Semaunya

Sebelum membahas larangan bermotor yang melintas di Jalan MH Thamrin yang dicabut oleh MA, saya …