Home / Event / 100HariKepemimpinanAniesSandi / Anies Pidato, Para Tamu Walk Out, Hukum Sebab Akibat?

Anies Pidato, Para Tamu Walk Out, Hukum Sebab Akibat?

 Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (13/11/2017) KOMPAS.com

 

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menghadiri peringatan 90 Tahun lembaga pendidikan Kolese Kanisius di Hall D JIExpo Kemayoran Jakarta Pusat pada Sabtu malam tanggal 11 November 2017 kemarin. Namun ketika Anies sedang menyampaikan pidatonya, para tamu melakukan aksi walk out dari ruangan. Setelah Anies selesai berpidato dan meninggalkan tempat, mereka yang walk out kembali memasuki ruangan acara.

Salah satu orang yang pertama kali melakukan aksi walk out adalah Ananda Sukarlan, pianis kenamaan Indonesia yang juga merupakan alumni Kanisius. Ananda saat ini dikenal sebagai pianis, komponis, pendidik, penulis dan aktivis kebudayaan Indonesia. Ia adalah orang Indonesia pertama, dan saat ini satu-satunya, yang tercantum di 2000 Outstanding Musicians of the 20th century.

Kiprahnya dalam dunia musik di antaranya mendirikan Yayasan Musik Sastra Indonesia (YMSI) yang bertujuan memberikan pendidikan musik bagi anak-anak tidak mampu. Ia menulis “Rapsodia Nusantara” yang berdasarkan pada lagu-lagu daerah dari berbagai provinsi di Indonesia agar para pianis dunia dapat menemukan identitas musik klasik Indonesia. Ia juga menulis karya-karya musik untuk anak difabel (cacat).

Pada acara malam itu, Ananda adalah 1 dari 5 orang alumni yang mendapatkan penghargaan. Dalam pidatonya ketika meraih penghargaan, selain menyampaikan terima kasih, Ananda juga menyampaikan kritik kepada panitia penyelenggara.

“Anda telah mengundang seseorang dengan nilai-nilai serta integritas yang bertentangan dengan apa yang telah diajarkan kepada kami. Walaupun anda mungkin harus mengundangnya karena jabatannya, tapi next time kita harus melihat juga orangnya. Ia mendapatkan jabatannya dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan nilai Kanisius. Ini saya tidak ngomong politik, ini soal hati nurani dan nilai kemanusiaan.” (Sumber)

Ketika dikonfirmasi oleh salah satu media hari ini, Ananda yang seorang Jawa beragama Islam juga menyebutkan pidato pelantikan Anies yang menyinggung istilah “pribumi”. Ia merasa nilai-nilai yang diusung oleh Anies tentang perbedaan, pribumi dan non pribumi bertentangan dengan apa yang selama ini diajarkan di Kanisius.

Banyak yang salut dengan Ananda karena ia berani menyuarakan apa yang dipikirkan oleh banyak orang. Mungkin ada sebagian kecil yang tidak setuju dengan pernyataan sikap Ananda karena dinilai tidak menghormati tamu undangan, tapi tentu saja banyak juga pihak yang berpendapat bahwa seseorang yang telah begitu jahat menggunakan segala cara demi memenangkan jabatan politik meskipun dengan konsekuensi perpecahan dan pertikaian bangsa, tidak pantas untuk dihormati.

Belum genap 1 bulan sejak pelantikannya, Anies terus menghiasi berita dengan berbagai pernyataan dan tindakannya yang memicu kontroversi. Dimulai dengan pidato pelantikannya yang membuat banyak orang terperangah, karena tanpa rasa jengah sedikitpun ia membawa kembali istilah pribumi dan non pribumi yang dinilai banyak pihak sengaja diucapkan untuk membangkitkan kembali isu sektarian. Terbukti ia berhasil dengan satu kata pemicu itu, dengan mulai maraknya acara yang mengusung tema pribumi bangkit, seakan-akan selama ini terjadi diskriminasi terhadap pribumi oleh non pribumi. Suatu hal yang tidak masuk akal, mengingat pembuat kebijakan di negara kita selama ini bukan dipegang oleh non pribumi.

Selanjutnya adalah sikap dan pernyataan Anies dan wakilnya yang dinilai tidak sesuai dengan janji kampanye mereka, misalnya tentang UMP buruh, rumah dengan DP nol  persen, menghentikan reklamasi, menggratiskan tiket masuk Ancol, juga pernyataan mereka tentang pejalan kaki dan trotoar.

Di satu sisi saya bisa merasakan betapa berat beban yang dipikul oleh Anies Baswedan saat ini, harus melebihi atau setidaknya menyamai standar tinggi yang sudah diterapkan oleh gubernur sebelumnya. Semua mata warga Jakarta tertuju kepadanya. Sedikit saja kesalahan yang ia lakukan, maka tak segan warga mencibir dan mencemooh. Namun di sisi lain, saya tidak bisa menyalahkan mereka yang mencibir tersebut.

Hukum sebab akibat berlaku di sini. Apa yang telah diperbuat harus dipertanggungjawabkan. Anies lah yang telah mengoyak tenun kebangsaan itu, membelah warga DKI Jakarta pada masa Pilkada kemarin dengan istilah muslim dan kafir, mengancam mayat, dan seusai Pilkada kembali mengayunkan pedang pembelahnya, mencoba menciptakan jurang di antara pribumi dan non pribumi.

Namun nasi telah menjadi bubur. Yang bisa Anies lakukan saat ini adalah bekerja dengan setulus hati demi kepentingan masyarakat, seberapa beratpun itu. Buktikan bahwa 58 persen warga tidak salah memilihmu. Percayalah, masyarakat zaman now bisa menilai ketulusan seorang pemimpin, cepat atau lambat. Jangan lagi beretorika, pencitraan ataupun mencoreng wajah sendiri dengan mengubah kebijakan gubernur sebelumnya yang sudah berjalan dengan baik.

Jika tidak, jangan heran jika akan muncul lagi Ananda-Ananda lain yang menyuarakan sikap mereka. Kanisius sebagai salah satu sekolah yang sudah sering mencetak kader-kader berprestasi di tingkat nasional maupun internasional terbukti memang mendidik siswanya dengan sangat baik, sehingga menjadi manusia yang menjunjung tinggi integritas, kebenaran dan kejujuran. Apa yang disuarakan dan dinyatakan oleh Ananda Sukarlan mungkin pahit bagi Anies atau pendukungnya, tapi itulah kejujuran.

 

 

Referensi :

http://megapolitan.kompas.com/read/2017/11/13/12051181/ananda-sukarlan-akui-walk-out-saat-gubernur-anies-pidato?utm_campaign=Kompascom&utm_medium=Social&utm_source=Facebook

https://id.wikipedia.org/wiki/Ananda_Sukarlan

 

Baca juga :

From Jakarta with Love, Terima Kasih Ahok dan Djarot

About Rissa

I write because I care.

Check Also

Setnov Kecelakaan, KPK Tetap Bergerak, Pansus Angket di DPR Gelisah

Ketika menyaksikan siaran langsung Rosi di KompasTV, perdebatan yang sudah memamas antara 2 orang nara …

  • Pingback: Bayi Terlantar Hanya Boleh Diadopsi oleh Agama Mayoritas, Adilkah? - Indovoices()

  • rorohtp

    Waduuuh si mAnies, kena deh! 😆😂

    • Rissa

      Ini tidak ada apa-apanya dengan apa yang mereka perbuat terhadap Djarot, diusir dari masjid.

  • sugeng hartono

    alumni perguruan tinggi penuh dedikasi dan siap cetak prestasi,
    alumni demo penuh haru biru dan siap order berikutnya.

    • Rissa

      Hehehe

  • Ributcoklat

    Sepertinya tindakan Ananda ini bisa mengembalikan kepercayaan diri JKT42 tuk mulai bersuara drpd cuma jadi pihak yg kena dampak dari ke bodohan JKT58 dan ke munafikan itu dua pimpinan lawak DKI JKT.
    Kelak di waktu yg tidak lama akan banyak orang yg berani meng ekspresikan sikapnya tuk menunjukan ato mengingatkan rakyat bhw DKI JKT cuma buat main2 an Gabener dan Wagabener nya karena mrk ga punya konsep yg jelas dan genuine tuk men jalankan jabatannya sebagai pimpinan DKI Jkt.

    • Rissa

      Benar. Sedikit banyak aksi-aksi seperti ini akan memberitahu para pemimpin bahwa rakyat akan selalu mengawal setiap tindakan mereka, bahwa akan ada konsekuensi untuk semua yang dilakukan.

    • Henry KS

      Msih bgus cm walk out, kl ditimpuk air mineral ky p. Djarot gmn?

      • Rissa

        Makanya. Jangan heran kalo pak Djarot tidak hadir di acara pelantikan Anies. Saya sangat bisa memaklumin, soalnya pernah diperlakukan dengan sangat tidak beradab oleh pendukung gubernur itu.

  • betterthangood ina

    wah cakep ini…………secakep org yg nulisnya///////////….:)

    • Rissa

      Terima kasih yah 🙂

  • Sekar Pramudyo

    Si ‘manusia’ ini masih bisa retorika ga tau kejadian walk out di depan mata? Selain buta hati, mata pun dibutakan..

    #banyakyangwalkout

    ======
    https://news.detik.com/berita/d-3724717/anies-soal-walk-out-alumni-kanisius-saya-hormati-beda-pandangan

    Aksi walk out sejumlah alumni Kolese.Kanisius dalam acara peringatan 90 tahun berdirinya sekolah itu ramai dibahas di media sosial.

    • Rissa

      Iya, ketika sudah terlalu banyak retorika dan kebohongan yang diucapkan, kita tidak tahu lagi kapan ia sedang berkata jujur 😀

      • Sekar Pramudyo

        Naas benar jadi ‘manusia’ ini..

        • Rissa

          Hooh : D