Home / Event / Lomba Menulis Sumpah Pemuda / Pemuda sebagai Ujung Tombak Kelestarian Budaya Bangsa
google

Pemuda sebagai Ujung Tombak Kelestarian Budaya Bangsa

google

Harus diakui bahwa cara keberagaman kita sekarang ini sedang diuji oleh kemunculan berbagai konflik yang selalu meresahkan. Hal ini terus mencuat karena pada dasarnya Negara Indonesia memiliki Kehidupan masyarakat yang sangat majemuk dalam suku bangsa dan budaya sangat beragam. Namun, apabila keberagaman suku bangsa dan budaya itu tidak benar-benar ditangani secara tepat. Kehidupan bangsa Indonesia yang beragam suku bangsa dan budaya, akan diwarnai oleh konflik antar budaya.

Diambil dari Kompas (15/10/2017), Indonesia memiliki 714 Suku, 1.100 lebih bahasa lokal, dan sekitar 17.000 pulau. Keberagaman ini menjadikan Indonesia salah satu Negara dengan budaya paling kaya. Di sisi lain, keberagaman juga dapat memicu konflik bila tak dijembatani dengan baik. Melihat catatan kelam masa lalu, Tempo (21/05/2015) mencatat beberapa tragedi di Indonesia yang bersumber karena perbedaan budaya seperti Tragedi sampit, Konflik maluku, konflik 1998, dan lain-lain. Konflik itu tidak hanya menelan korban materi namun juga menghilangkan nyawa ratusan orang.

Dilansir dari koran Kompas (15/10/2017), sebenarnya banyak Pemimpin Negara lain misalnya, Presiden Afganistan Ashraf Ghani yang  menyebutkan bahwa Indonesia memiliki sesuatu yang luar biasa terutama dalam keberagaman suku dan budaya. Hal tersebut merupakan sebuah “Kekuatan” Negara Indonesia yang justru jarang diketahui oleh masyarakat Indonesia sendiri sehingga ada jalan yang berpeluang untuk menimbulkan konflik yang terjadi di masyarakat Indonesia antara satu sama lain. Apabila dibiarkan, konflik yang semula kecil akan membesar dan sulit diselesaikan.

Salah satu dampak Konflik yang terjadi di antara suku bangsa Indonesia adalah dapat melemahkan kondisi keamanan dan pertahanan pada masyarakat yang bersangkutan. Jika hal ini terus terjadi, di era yang semakin cepat dalam perkembangan teknologi dan globalisasi, maka yang terjadi adalah semakin hilangnya identitas bangsa Indonesia. Karena dengan semakin mudahnya penyebaran manusia (diaspora), yang merupakan salah satu dampak globalisasi ke berbagai pelosok dunia, ternyata menciptakan proses asimilasi dan akulturasi budaya yang pada gilirannya menghilangkan keaslian budaya.

Globalisasi itu berasal dari Negara maju, yang memotori Negara maju, yang mengemudi juga Negara maju. Lalu ke mana tujuan globalisasi tersebut? Dalam konteks ini negara maju telah memainkan perannya yang cukup signifikan terhadap peradaban manusia. Budaya “Menghegemoni” di kalangan Negara berkembang atau Negara dunia ketiga. Persoalan ini dapat dilihat secara mengglobal bahwa adanya dominasi Negara-Negara maju terhadap Negara-Negara kurang maju atau berkembang telah menyebabkan konflik yang tidak dapat terselesaikan.

Jadi, konflik bukan hanya disebabkan karena proses sosial yang disosiatif yang dapat menyebabkan perpecahan dalam masyarakat karena ketidakselarasan dan ketidakseimbangan dalam suatu hubungan masyarakat. Lebih dari itu, dengan semakin berkembangnya teknologi di bidang komunikasi dan informasi sehingga proses arus informasi dapat menghilangkan batas dan waktu.

Informasi dari suatu Negara bisa sangat cepat sampai ke suatu Negara lain dan sebagainya. Contohnya, diambil dari Koran Kompas (27/10/2017), kementerian komunikasi dan informatika, hingga Desember 2016, diperkirakan terdapat 800.000 situs di Indonesia yang terindikasi sebagai penyebar berita palsu (false news) dan ujaran kebencian (hate speech).

Keberagaman budaya itu merupakan tantangan sekaligus peluang bagi masyarakat Indonesia. Merupakan tantangan karena apabila tidak dikelola dan ditangani dengan baik maka keberagaman budaya akan dapat mendorong timbulnya persaingan dan pertentangan sosial. Sebagai peluang, keragaman budaya itu bila dibina dan diarahkan secara tepat, maka akan menjadi suatu kekuatan dan potensi dalam melaksanakan pembangunan bangsa dan Negara Indonesia.

Oleh karena itu, Pemuda adalah ujung tombak dalam menjaga kelestarian budaya sebagaimana yang merupakan amanat Undang-Undang 1945 pasal 32 yang berbunyi “Memajukan Kebudayaan Nasional Indonesia”. Misalnya, pemuda bangsa bisa memelihara kebudayaan nasional, menghidupkan budaya nasional, memperkaya budaya nasional, membina ketahanan kebudayaan nasional, dan menyebarluaskan serta memanfaatkan kebudayaan nasional.

Bangsa Indonesia akan bangun. Salah satu tanda-tandanya adalah melalui historical refeshment, gagasan pencerahan zaman yang mendambakan kaum muda untuk segera tampil memimpin bangsa. Seperti Matahari baru semburat dari timur. Mereka “pemuda” bukan hanya layak tanding, tetapi unggul secara Fenomenologis dan Futurologis. Pemuda Indonesia akan membawa paradigma baru. Mereka adalah pelopor dan perintis. Mereka adalah Obama-Obama Indonesia. Amin.

Salam Sumpah Pemuda

Berani Bersatu Membela Keberagaman

#BeraniBersatuMembelaKeberagaman

#SUMPAHPEMUDA/28OKTOBER2017

 

Kepustakaan:

Bustamam-Ahmad, Kamaruzzaman. 2004. Wajah Baru Islam di Indonesia. Yogyakarta. UII Press.

Ainun Nadjib, Emha. 2016. Demokrasi La Roiba Fih. Jakarta. Kompas.

Riza, Andi. 2017. “Pesan Ashraf Ghani tentang Indonesia”. Kompas, 15 Oktober 2017.

Panolih, Krishna. 2017. “Hoaks Bikin Anak Muda Resah”. Kompas, 27 Oktober 2017.

Rita Hasugian, Maria. Konflik yang Dipicu Keberagaman Budaya Indonesia. https://nasional.tempo.co/read/668047/konflik-yang-dipicu-keberagaman-budaya-indonesia . Diakses pada Tanggal 27 Oktober 2017 Pukul 19.12;

Sumber Gambar:

Alfisya, Defi. Alat Pemersatu Kebudayaan Pada Pluralitas Bangsa Indonesia. http://defialfisya.blogspot.co.id/2015/04/alat-pemersatu-kebudayaan-pada.html . Diakses pada Tanggal 27 Oktober 2017 Pukul 21.02;

About Ammar Waly

Check Also

Setya Novanto Kecelakaan, Resmi Jadi Buronan, Mari Kita Doakan Lekas Pulih

Kejadian buruk tidak ada yang bisa memprediksi dan dapat menduga, Setiap orang dapat merasakan kejadian …