Home / Fiksi / Cerpen / Bidadari Jatuh dalam Pelukan – Bagian 22

Bidadari Jatuh dalam Pelukan – Bagian 22

Miles membenci perpisahan. Dia tahu ketika merasa sangat bahagia, waktu berlalu begitu cepat. Kini dia hanya bisa melihat Juliettnya memasukkan semua barang pribadinya ke dalam koper. Dia tidak berdaya. Mereka tidak punya masa depan. Hubungan mereka hanya sampai di sini. Setiap kali dia memberi sinyal ingin menjalin hubungan lebih dari sekedar asmara selama liburan, Juliett menolak. Dia terus menyebut-nyebut kesepakatan mereka.

Andai sebelumnya dia tahu wanita itu membuatnya ketagihan, dia tidak akan setuju begitu saja dengan semua syarat yang diajukannya. Bila Juliett punya syarat, dia seharusnya mempersiapkan syaratnya juga. Sayangnya, malam itu dia tidak punya rencana mengajaknya seorang wanita untuk mengobrol dengannya, apalagi untuk tiga malam bersama.

Tiga malam. Tiga malam wanita itu tidak hanya menghangatkan tubuhnya, dia juga telah menghangatkan hati dan jiwanya. Memberinya sebuah kepercayaan diri yang telah lama hilang. Sekali lagi dia bisa menjadi pria normal dan bangga kepada dirinya sendiri. Dia bukan lagi sekedar mesin pembuat anak. Tidak perlu khawatir mendengar pekikan panik dan teriakan protes karena tidak berhasil memberi wanita lain seorang anak.

Dia tidak mau kehilangan wanita itu. Dia tidak boleh kehilangannya. Tetapi bagaimana caranya menemukannya kembali bila dia tidak mau memberitahu nama asli atau nomor teleponnya? Andai dia bisa pulang bersamaan dengan penerbangan yang dinaiki Juliett, ke mana pun dia pergi, dia bisa mengikuti mobil yang membawanya pulang. Dia terpaksa tetap pada rencana pulangnya semula. Dia tidak ingin membuat wanita itu mencurigai motifnya. Apalagi membuatnya ketakutan dan berpikir dia seorang penguntit.

Semua sudah masuk. Aku sudah siap untuk berangkat.” ucap Juliett senang.

Mengapa melihat senyum di wajah cantik itu membuat dadanya terasa nyeri? Benarkah wanita itu demikian bahagia berpisah dengannya? Sejak mereka bangun pagi itu, wajahnya tidak lepas dari senyuman. Apakah kebersamaan mereka tidak ada artinya baginya? Tidakkah dia merasa sedikit sedih dan berat dengan perpisahan mereka?

Miles melihat pakaian yang dikenakan Juliett. Dia luar biasa dalam balutan gaun merahnya di malam pertama mereka bertemu. Kini, dia sempurna dengan kaus putih dan celana jins birunya. Melihat wanita itu telah menutup ritsleting kopernya, dia mendekatinya. Dari belakang dia melingkarkan tangannya di pinggang di wanita itu. Dia mencium lehernya sambil menghirup dalam-dalam aroma perpaduan sampo, parfum, dan losion khas wanita tersebut. Manis, seperti dia.

Kita harus ke restoran sekarang kalau kamu ingin sarapan bersama sebelum aku pulang.” ucap Juliett mengingatkan.

Aku sudah minta pelayanan kamar untuk mengantar sarapan kita ke kamar.” Dia tertawa saat tubuh Juliett menegang. Wanita itu tahu apa yang ada dalam pikirannya.

Romeo, aku sudah mandi, berpakaian rapi, dan berdandan. Aku tidak ingin mengulangnya lagi.” Juliett menjauh darinya tetapi Miles mempererat pelukannya.

Hanya untuk yang terakhir. Aku tidak ingin menghabiskan dua jam terakhir dengan duduk manis sambil mengobrol.” Dia memutar tubuh wanita itu hingga mereka berhadapan.

Rom,” protes Juliett. Miles melakukan apa yang biasanya dia lakukan untuk membuat wanita itu berhenti protes, mencium bibirnya.

Begitu wanita itu berhenti protes dan menyerah pada sentuhannya, dia membaringkannya ke tempat tidur. Dia tidak akan merasakannya lagi. Berhubungan intim hanya untuk memuaskan kebutuhan mereka masing-masing. Tanpa rasa kecewa, tanpa mengharapkan adanya anak. Sebelum segalanya berakhir, dia ingin mengenang setiap detik yang dia nikmati bersamanya di tempat tidur. Kehangatan terakhir, sentuhan intim terakhir, pemuasan nafsu terakhir, dosa besar terakhir.

Dua jam kemudian mereka keluar dari kamar. Saat mereka turun ke lantai bawah menggunakan lift, dia memanfaatkan setiap detiknya untuk menyentuhnya yang terakhir kali. Tanpa memedulikan protesnya, dia mencium bibirnya dan menyentuh setiap lekuk tubuhnya. Ketika pintu elevator terbuka dan orang lain masuk ke dalam, dia tidak melepaskan Juliettnya. Dia meletakkan tangannya di belakang kepala wanita itu untuk memperdalam ciumannya.

Rom,” protes Juliett. Dia berhasil menjauhkan wajahnya dan mengakhiri ciuman mereka.

Miles kembali menciumnya. Kini lebih santai agar Juliettnya bisa bernapas dengan lega. Tetapi tidak cukup santai untuk membuatnya kembali bicara dan protes dengan tindakannya. Wanita itu harus tahu, dia tidak ingin mengakhiri hubungan mereka. Setidaknya untuk beberapa saat ke depan. Dia harus bisa mengubah pikiran wanita itu.

Satu hari lagi. Tidak, dia bisa menawarkan tiga hari yang sama. Tetapi tiga hari terlalu singkat. Semuanya akan berakhir tanpa dia sadari seperti saat ini. Seminggu. Mungkin bila mereka menghabiskan waktu bersama selama satu minggu lagi, dia akan merasa terpuaskan. Tidak perlu merasa setidak berdaya itu bila mereka berpisah untuk selamanya. Perusahaannya akan baik-baik saja tanpanya selama satu minggu. Dia mendapat laporan lengkap dari asisten dan para wakilnya.

Ada orang,” protes Juliett lagi.

Mendengar bunyi lift, Miles melepaskan Juliett. Mereka telah tiba di lantai dasar. Tanpa menunggu wanita itu merapikan rambut dan pakaiannya, dia menggandeng tangannya keluar dari lift. Dengan tangannya yang lain dia menarik koper milik Juliett. Sebuah taksi telah menunggu di depan pintu hotel. Dia menyerahkan koper itu pada supir taksi.

Wanita itu boleh menolak kartu namanya, tetapi dia tidak akan bisa menyangkal ketertarikan di antara mereka. Tanpa memedulikan supir taksi yang memasukkan koper Juliett ke dalam bagasi, dia membingkai wajah wanita itu. Juliett yang masih mencoba merapikan rambutnya kembali protes tetapi dia lebih cepat darinya. Dia mencium bibirnya lagi.

Awalnya hanya malas-malasan, ingin menguji reaksi wanita yang telah mencuri hatinya itu. Merasakan balasannya, dia memperdalam ciumannya. Dia mengambil semua yang ditawarkan wanita itu kepadanya. Semuanya. Dia tidak ingin menyisakan sedikit pun untuk dimiliki oleh pria lain. Jantungnya nyaris berhenti memikirkan itu. Tidak. Tidak boleh ada pria lain. Juliettnya hanya miliknya.

Miss me.” bisik Miles. Rindukan aku.

I already have.” ucap Juliett di tengah-tengah napasnya yang memburu. Aku merindukanmu.

Mengapa aku tidak boleh meminta lebih dari ini? Izinkan aku menghubungimu, Juliett.” Miles mempererat pelukan tangannya yang melingkari pinggang wanita tersebut.

Tidak bisa, Romeo. Ingat, kita sudah sepakat. Aku tidak akan melakukan ini denganmu kalau bukan karena kesepakatan itu.” Juliett membelai lembut pipi Miles. Kening pria itu berkerut.

Katakan kepadaku, apa kamu sudah punya pacar di negaramu?” tanyanya kesal. Juliett tersenyum.

Di malam pertama kita bersama, apakah kamu tidak bisa menebak jawabannya?” Juliett balik bertanya. Miles menatapnya kemudian matanya membulat. Yang dia maksud pasti mengenai keperawanannya yang dia serahkan di malam pertama mereka bersama.

Kalau begitu, tinggallah di sini satu minggu lagi bersamaku.” pinta Miles. Dia tidak peduli andai dia harus berlutut untuk memohon kepadanya. “Aku mohon, satu minggu lagi.

Romeo, aku ingin sekali. Sungguh. Tapi aku tidak bisa.

Tapi katamu kamu tidak punya pacar. Jadi, mengapa kamu buru-buru pulang? Ada keluarga yang harus kamu urus?” desaknya. Dia menggelengkan kepalanya.

Tidak. Aku punya pekerjaan yang tidak bisa aku tinggalkan.

Biar aku yang bicara dengan atasanmu.

Kalau Juliett berasal dari Indonesia, Malaysia, Filipina atau Thailand, dia punya beberapa kenalan pengusaha di sana. Bila dia beruntung, ada kemungkinan Juliett bekerja dengan salah satu dari mereka. Kalau pun tidak, kenalannya bisa membantunya bernegosiasi dengan atasannya untuk mengijinkan Juliett cuti satu minggu lagi. Agar mereka bisa bersama. Dia akan lakukan apa saja supaya mereka bisa lebih lama bersama.

Kalau kamu bicara dengannya, apa kamu pikir dia akan setuju saja memperpanjang cutiku? Tidak, Romeo.” Dia mendesah kesal.

Tidak ada salahnya mencoba.” Miles bersikeras.

Terima kasih. Tapi, tidak.” Juliett mengecup bibirnya. Lalu dengan salah satu jempolnya dia menghapus bekas lipstiknya yang menempel di bibir pria itu. “Selamat tinggal, Romeo.

Miles menatapnya lama. Wanita itu menunggunya melepaskan pelukannya. Juliettnya tidak berniat mengubah keputusannya untuk pergi. Sepertinya dia tidak bisa membujuknya untuk tetap tinggal bersamanya. Jelas sekali, kini apa pun yang sedang terjadi di antara mereka, telah berakhir.

Selamat tinggal, Juliett.” Miles mengalah. Dia melepaskan pelukannya.

Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam kantung belakang celana jinsnya. Menahan diri untuk tidak menarik wanita itu kembali ke dalam pelukannya. Juliett melambaikan tangannya saat taksi menjauh darinya. Miles hanya tersenyum.

(Sumber gambar: pixabay.com oleh @aitoff dengan beberapa perubahan)

Bagian Sebelumnya

Bagian Selanjutnya

English Version

Angel Falls in My Embrace – Chapter 22

Loading...

About Angel R

I love imagination as I love real life. English and Japanese are my second and third languages. Jokowi and Ahok lover.

Check Also

Bidadari Jatuh dalam Pelukan – Bagian 59

Setelah lama hidup dalam penderitaan, untuk pertama kalinya dia merasa begitu bahagia. Dadanya sesak karena …