Home / Fiksi / Cerpen / Bidadari Jatuh dalam Pelukan – Bagian 24

Bidadari Jatuh dalam Pelukan – Bagian 24

Seorang pegawai hotel telah berdiri di depan pintu saat dia membuka pintu. Miles mengangguk mempersilakan pria itu mengambil kopernya. Dia menuju lift dan memilih lantai dasar. Untuk terakhir kalinya dia melihat ke arah restoran di mana dia pertama kali bertemu dengan Juliett. Sebentar. Di sana dia pertama kalinya bertemu dengan wanita itu. Bila dia tidak menginap di hotel maka dia harus memesan tempat sebelumnya.

Miles segera berjalan menuju restoran tersebut. Wanita yang menerima tamu menyambutnya dan dia meminta wanita itu melihat daftar tamu pada tiga malam yang lalu. Walaupun heran dengan permintaannya, wanita itu menurut dan memberikan daftar pada buku kepadanya. Ada sekitar dua puluh orang yang memesan meja pada malam itu. Lima di antaranya adalah perempuan. Begitu melihat nama Juliett, Miles mendesah kecewa. Bahkan untuk pemesanan tempat dia menggunakan nama samarannya. Jelas sekali dia tidak ingin Miles menemukannya.

Setelah berterima kasih, Miles kembali berjalan menuju pintu utama. Di depan hotel sebuah mobil telah menunggunya. Dengan ramah setiap pegawai hotel yang berpapasan dengannya mengucapkan terima kasih atas kunjungannya. Dia membalas sapaan mereka satu persatu.

Beberapa jam kemudian dia tiba di terminal kedatangan. Miles merasa seolah-olah dia kehilangan tenaga. Dia tidak ingin kembali ke rumahnya atau istrinya. Tidak akan ada yang berubah dengan pernikahannya. Semuanya akan kembali seperti selama lima tahun ini. Tetapi pergi ke mana dia tidak tahu. Dia tidak bisa menyusul Juliettnya.

Sudah lama dia tidak merasa tidak berdaya. Baru kali ini, setelah bertahun-tahun, dia merasakannya lagi dan dia membencinya. Baru pertama kalinya juga dia menyadari dia tidak punya kendali atas hidupnya sendiri. Dia yang adalah pemimpin atas perusahaannya sendiri, tetapi bukan pemimpin atas hidup dan pernikahannya.

“Selamat datang kembali, pak.” ucap Markus yang telah menunggunya di depan pintu keluar terminal tersebut. Dia mengambil alih koper milik majikannya dari tangannya.

“Terima kasih, Mark.” ucap Miles pelan. Dia mengikuti pria itu mendekati mobilnya yang diparkir tidak jauh dari pintu keluar terminal kedatangan.

Pulang ke rumah dia merasa tertekan. Bukan karena dia sadar dia telah selingkuh dengan wanita lain. Tetapi karena dia menyesal menginjakkan kakinya lagi di rumah itu, terutama ketika istrinya segera menyambutnya dengan mengatakan sekarang adalah hari suburnya. Juliett dengan aroma khas dan sentuhannya masih terbayang jelas di sekujur tubuhnya. Dia belum mau menggantinya dengan wanita lain. Sekalipun wanita itu adalah istrinya sendiri.

Mengatakan tidak, istrinya pasti marah besar dan kembali curiga kalau dia punya wanita simpanan. Andai saja dia tahu. Dia dengan senang hati ingin mengakuinya di depan wajahnya. Dia mulai bosan dengan keadaan yang sama yang harus dihadapinya di rumah. Tetapi bila dia menurutinya, dia tidak yakin dia akan bergairah melakukannya bersama istrinya.

Terbiasa dengan penampilan Juliett yang harum, rapi dan sedikit berdandan, dia kehilangan gairah melihat istrinya yang tidak mencoba berusaha berpenampilan menarik saat menyambutnya. Hal yang sudah lama tidak diprotesnya itu, kini menjadi sesuatu yang membuatnya mulai membandingkan istrinya dengan Sang Juliett. Istrinya bahkan tidak menunggunya beristirahat sejenak sebelum membuka kancing kemejanya.

Dia membenci hubungan intim yang dipaksakan. Dia muak menjadi mesin pembuat anak. Walau mudah saja baginya menanamkan benih ke rahim istrinya, dia tertekan tidak bisa melakukan sesuatu yang lebih dari itu. Dia tidak bisa memastikan benihnya berhasil membuahi sel telur istrinya. Tanpa menunggu dua minggu, dia tahu peristiwa yang sama akan terjadi lagi. Tidak perlu menjadi cenayang untuk tahu mereka akan bertengkar hebat lagi dan istrinya menuduhnya mandul.

Semalaman itu istrinya memanfaatkan setiap waktu untuk bersetubuh dengannya. Beristirahat beberapa menit, dia mengajaknya melakukannya lagi. Kadang Miles belum siap, istrinya sudah meminta lagi. Terus begitu sepanjang malam. Wanita itu baru merasa puas ketika dia tidak bisa lagi membuka matanya. Mendengar suara tarikan napas istrinya yang teratur, Miles bangun dan menuju kamar mandi.

Menghirup tubuhnya, tidak ada lagi sisa aroma Juliett di sana. Dia mendesah pelan. Di depan cermin dia melihat bekas cakaran istrinya di dada dan punggungnya, sedangkan pada leher dan bahunya dia menemukan beberapa bekas gigitan. Rambutnya berantakan, kulit kepalanya perih karena rambutnya berulang kali dijambak, bibirnya bengkak hingga ukurannya lebih besar dari ukuran normalnya. Pemandangan biasa setiap kali mereka melakukan hubungan intim sepanjang malam.

Dia mandi di bawah air pancur dan membersihkan tubuhnya dari kepala sampai jari-jari kakinya. Rasa nyeri yang menyengat di beberapa bagian tubuhnya tidak seberapa dibandingkan dengan sakit yang dia rasakan saat melihat Juliett pergi darinya. Kenangan saat mereka bersama kembali bermain-main di kepalanya.

Kalau kamu diberi seorang anak, nama apa yang akan kamu berikan?

Pertanyaan yang tidak diduga-duganya itu datang dari Juliett. Dulu dia pernah mengharapkan akan memiliki anak-anak bersama Angelica. Dia bahkan sudah menyiapkan nama untuk anak laki-laki atau anak perempuan yang akan mereka miliki. Tetapi dia membencinya karena harapan itu telah mengubah istrinya. Mimpi mereka untuk memiliki anak telah merusak pernikahan mereka.

Sekalipun selama tiga hari bersama mereka tidak berhenti melakukan hubungan intim setiap kali mereka menginginkannya, Miles tahu Juliett tidak akan pernah hamil. Hanya itu alasan dia memutuskan untuk tidak menggunakan pelindung saat berhubungan badan. Dia mandul, jadi kondom tidak akan banyak membantu. Tetapi mereka menikmati setiap kali mereka berada di tempat tidur. Sayang, mimpi indah itu telah berakhir. Kenyataan kini ada di hadapannya.

(Sumber gambar: pixabay.com oleh @aitoff dengan beberapa perubahan)

Bagian Sebelumnya

Bagian Selanjutnya

English Version

Angel Falls in My Embrace – Chapter 24

Loading...

About Angel R

I love imagination as I love real life. English and Japanese are my second and third languages. Jokowi and Ahok lover.

Check Also

Bidadari Jatuh dalam Pelukan – Bagian 59

Setelah lama hidup dalam penderitaan, untuk pertama kalinya dia merasa begitu bahagia. Dadanya sesak karena …