Home / Fiksi / Cerpen / Bidadari Jatuh dalam Pelukan – Bagian 26

Bidadari Jatuh dalam Pelukan – Bagian 26

Begitu Romeo tidak kelihatan lagi dari pandangannya, Kirana tidak menahan air mata yang mendesak keluar dari pelupuk matanya. Dadanya sesak dengan perpisahan itu. Dia tidak peduli apakah supir taksi yang duduk di depannya melihat ke arahnya atau tidak. Saat ini dia hanya ingin menangis, maka itu yang akan dilakukannya.

Hubungan mereka tidak untuk selamanya, dia tahu itu. Hanya untuk dinikmati selama liburan. Bersenang-senang selama akhir pekan. Mereka melakukannya atas dasar kesepakatan bersama antara dua orang dewasa yang sadar dengan apa yang mereka putuskan. Tetapi bukan berarti ketika segalanya berakhir dia tidak merasakan luka dan sakit yang dihadapi orang-orang saat berpisah. Yang mungkin saja untuk selamanya.

Di dalam hidup dia tidak bisa mendapatkan semua yang dia inginkan. Kadang-kadang dia hanya mendapatkan satu dari tiga hal yang dia inginkan. Kirana telah mendapatkan satu hal yang paling dia inginkan, berhubungan intim di masa suburnya. Menginginkan hal lainnya juga untuk dia miliki, terkesan berlebihan untuk saat ini.

Dia telah menolak kartu nama Romeo. Satu-satunya petunjuk di mana dia bisa melanjutkan hubungan mereka di masa depan. Dia juga menolak untuk tinggal lebih lama. Walau dia menginginkannya, dia sadar cepat atau lambat hubungan mereka harus berakhir. Mengapa diperpanjang lagi bila mereka tidak punya masa depan bersama?

Romeo masih lajang, Kirana juga tidak punya kekasih. Kalau mereka tertarik bisa saja mereka melanjutkan hubungan mereka ke tingkat lebih lanjut. Tetapi pria itu pasti berasal dari suatu negara yang jauh. Kirana tidak tertarik meninggalkan negerinya demi seorang laki-laki untuk kemudian berubah kewarganegaraan seperti yang dilakukan Ratri. Dia tidak mau mengubah identitasnya. Dia juga tidak mau melupakan tanah di mana dia lahir dan tumbuh besar.

Apa yang dia lakukan adalah jalan yang terbaik. Romeo dan dirinya tidak bisa bersama selamanya. Kisah mereka hanya untuk tiga malam saja. Lalu mengapa dia terus menangis dan tidak berhenti mengalirkan air mata? Mengapa dadanya terasa sesak dan nyeri? Apakah mereka terasa begitu dekat karena telah berhubungan intim? Mungkinkah suatu hari nanti dia bisa melupakannya dan melanjutkan hidup tanpa memikirkan dia lagi? Bagaimana dengan Romeonya, mungkinkah dia juga akan melupakannya?

Melihat gerbang masuk bandara, Kirana tidak terkejut dia masih menangis. Dia mengeluarkan selembar tisu dari dalam tas sandangnya. Setelah yakin wajahnya cukup kering dan air matanya bisa ditahan untuk tidak keluar lagi, dia keluar dari taksi. Supir itu telah mengeluarkan kopernya dari dalam bagasi. Kirana memberikan sejumlah uang sesuai angka yang tertera pada argo.

Berkali-kali dia menghapus air mata dengan tisu di tangannya. Berkali-kali juga air mata kembali memenuhi pelupuk matanya. Saat dia masuk ke dalam terminal keberangkatan, saat dia mengantri untuk check-in, saat dia memasuki beberapa took cenderamata untuk membeli oleh-oleh, saat dia mengantri di bagian imigrasi, saat dia menunggu di ruang tunggu, hingga dia masuk ke dalam pesawat.

Duduk satu baris dengan dua orang asing di sisi kirinya, Kirana lega tidak satu pun dari mereka mencoba mengajaknya bicara. Ketika pesawat sudah lepas landas dan lampu tanda sabuk pengaman telah dipadamkan, salah satu dari mereka yang duduk paling ujung berdiri. Dia mengeluarkan tas ransel dari bagasi kabin dan mengambil sebuah laptop dari dalamnya. Dengan laptop itu mereka sibuk berdiskusi mengenai presentasi mereka.

Kirana lega lagi-lagi dia duduk di dekat jendela. Dia bisa menangis sepuasnya tanpa ada yang melihat. Ingin sejenak melupakan tentang Romeo dan akhir pekan mereka bersama, dia memejamkan matanya. Mencoba untuk tidur.

Tiba di bandara kotanya, Kirana lapar. Jadi, dia makan siang di salah satu restoran setelah mengambil kopernya dari tempat pengambilan bagasi. Walaupun tidak selera makan, dia memaksa dirinya untuk menghabiskan makanan yang telah dibelinya. Beberapa wanita melihat ke arahnya dan berbisik kepada orang di dekatnya. Mereka pasti melihat air mata di pipinya. Inilah alasan dia tidak mau menangis di depan umum, tetapi dia tidak bisa menahan dirinya.

Begitu sampai di rumah dan telah menutup pintu depan, dia bersandar pada pintu dan menangis. Kini tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkannya. Karena tidak akan ada yang melihatnya sedang berada di bawah titik terlemahnya. Juga tidak ada yang akan memandang heran melihat matanya yang basah dan wajahnya yang merah. Dia tidak mengerti. Mengapa ini terasa begitu menyakitkan? Apa yang sedang terjadi kepadanya? Ke mana wanita tegar yang selalu kuat menghadapi segalanya itu?

Duduk di tepi tempat tidurnya, Kirana menatap kopernya. Pandangannya kemudian beralih pada bungkusan berisi oleh-oleh. Dia mendesah pelan. Salah satu bungkusan kecil dikeluarkannya dari bungkusan tersebut. Keluar dari kamar, dia meletakkan bungkusan itu di atas meja. Di dapur dia mengisi gelas dengan air minum dan menghabiskannya. Sebelum tidur, ada hal yang harus dilakukannya.

(Cover source: pixabay.com by @aitoff with some changes)

Bagian Sebelumnya

Bagian Selanjutnya

English Version

Angel Falls in My Embrace – Chapter 26

Loading...

About Angel R

I love imagination as I love real life. English and Japanese are my second and third languages. Jokowi and Ahok lover.

Check Also

Bidadari Jatuh dalam Pelukan – Bagian 59

Setelah lama hidup dalam penderitaan, untuk pertama kalinya dia merasa begitu bahagia. Dadanya sesak karena …