Home / Fiksi / Cerpen / Bidadari Jatuh dalam Pelukan – Bagian 27

Bidadari Jatuh dalam Pelukan – Bagian 27

Mendengar deru halus mobil Dexter, dia keluar rumah sambil membawa bungkusan tadi. Dexter segera memeluknya, begitu juga dengan istrinya. Kirana memberikan oleh-oleh yang dibawanya untuk mereka. Vivian bersorak senang menerimanya.

“Kamu baru sampai?” tanya Vivian. Kirana mengangguk.

“Bagaimana liburanmu?” tanya Dexter antusias.

“Menyenangkan.” jawab Kirana.

“Ayo, kita lanjut berbincang di dalam.” ajak Vivian sambil membuka pintu rumah mereka. Kirana mengangguk. Dexter melingkarkan tangannya di bahu sahabatnya itu.

“Apa kamu baik-baik saja? Apa yang kamu harapkan dari liburan kali ini kamu dapatkan selama di sana?” tanya Dexter setengah sarkas. Kirana tertawa kecil.

“Serius, Dex? Hanya itu yang terbaik yang bisa kamu ucapkan?” goda Kirana.

“Kalau kamu dengarkan dia sepanjang hari, kamu akan mengerti mengapa aku butuh kesabaran lebih untuk hidup bersamanya.” timpal Vivian. Kirana tertawa.

“Hei, hei. Mentang-mentang kalian berdua dan aku sendiri, kalian bersekutu melawanku?” ucap Dexter pura-pura marah.

“Itu yang namanya solidaritas wanita, Drew.” ucap Kirana geli. Dia dan Vivian saling menepuk tangan di udara. Dexter membiarkan mereka masuk ke dalam rumah ketika dia kembali mendekati mobil, sedangkan kedua wnaita menuju dapur.

“Kamu makan malam bersama kami, ya.” ucap Vivian. Kirana segera menggelengkan kepalanya. Dia duduk di salah satu kursi yang mengelilingi meja makan mereka.

“Aku sudah makan di bandara. Terima kasih.”

“Kami beli banyak makanan. Kamu tidak perlu khawatir mengambil jatahku atau Vivi.” Dexter meletakkan kantong belanjaan mereka di atas konter.

“Atau si kecil.” tambah Vivian sambil menyentuh perutnya.

“Atau si kecil.” ralat Dexter. Kirana tertawa geli.

“Terima kasih. Tapi tidak. Aku hanya ingin tidur.” tolaknya.

“Secangkir coklat hangat, mungkin?” tanya Vivian. Dia berdiri dan mendekati konter dapur.

“Tidak, terima kasih.”

“Jadi, kamu datang menemui kami hanya untuk menunjukkan wajah lelahmu lalu langsung pulang untuk tidur? Serius, Ki? Mengapa tidak letakkan saja oleh-oleh darimu di depan gerbang kami.” ucap Dexter keberatan.

“Sepanjang hari ini suasana hatinya memang sangat buruk. Tiga hari tanpamu.” Vivian memutar bola matanya. Kirana hanya menyengir.

“Maaf, sudah membuatmu susah, Vivi.”

“Itu belum seberapa. Aku sudah pernah hadapi yang lebih buruk dari itu.” Vivian terkikik. Dia membuka salah satu pintu lemari dapur. “Bagaimana kalau kamu tinggal sebentar sampai suasana hatinya membaik. Kalau kamu tidak mau coklat hangat, teh mungkin?” Dia menunjukkan sebuah kotak kepadanya.

“Baiklah.” Kirana mengalah.

Vivian menunjukkan ultrasonografi bayi mereka yang berusia dua belas minggu. Kirana terpesona melihatnya dan menanyakan banyak pertanyaan kepada mereka. Ketika mereka menanyakan ke mana saja dia selama liburan, Dexter terkejut mendengar dia bercerita tentang Patung Merlion, restoran Thailand, berenang di hotel bintang lima hingga berkunjung ke Studio Universal.

“Seingatku, kamu tidak mau pernah mau jalan-jalan setiap kali berlibur. Kamu lebih suka berdiam diri di kamar hotel. Kalau bukan karena foto-foto ini sebagai buktinya, aku tidak akan percaya pada ceritamu.” ucap Dexter saat melihat layar pada ponsel Kirana.

“Aku jadi penasaran. Benarkah Kirana tidak suka jalan-jalan?” tanya Vivian. Kirana dan Dexter serentak menganggukkan kepala mereka.

“Sayang sekali pergi berlibur kalau hanya tinggal di kamar hotel.” ucap Vivian tidak percaya.

“Senang punya istri yang sependapat denganku.” Dexter meraih tangan istrinya lalu mencium punggung tangannya. Kirana hanya terkikik.

Foto-foto yang ada di ponselnya telah dia atur di masing-masing folder. Foto selama di Singapura telah disimpannya dalam satu folder untuk memudahkan menunjukkannya kepada orang-orang yang bertanya dan penasaran. Kirana senang Romeo bersikeras memotretnya. Sekarang dia punya bukti bahwa dia berjalan-jalan saat berada di negara tersebut.

Walau dia menyayangkan tidak punya satu pun foto bersama Romeo atau mencuri memotret pria itu saat dia tidak sadar, dia tidak bisa memutar waktu. Hubungan mereka tidak punya masa depan. Hanya untuk dinikmati selama liburan. Dia harus kembali ke Indonesia. Romeo harus kembali ke negaranya. Itu adalah keputusan yang paling tepat.

“Baiklah. Senang berbincang dengan kalian. Tapi aku harus kembali sekarang.” Kirana menguap. Dia menatap Dexter penuh arti agar tidak melarangnya pulang. Pria itu hanya mendesah pelan.

“Sekali lagi terima kasih untuk oleh-olehnya, Ki.” ucap Vivian sama menunjuk ke arah kantong tadi.

“Sama-sama, Vivi.” ucap Kirana sambil berdiri.

“Seharusnya kamu tidak perlu repot. Terima kasih, Ki.” ucap Dexter yang ikut berdiri.

“Sama-sama, Dex.” ucap Kirana. Sahabatnya itu berjalan mendekatinya. “Tidak. Aku tahu jalan ke pintu depan. Tidak perlu mengantarku.”

“Hari ini kamu menyebalkan.” gerutu pria tersebut. Kirana tertawa kecil sambil keluar dari ruang makan mereka. Kalimat itu kalimat yang biasa digunakan Kirana saat kesal. Dexter menirunya.

Sebelum meraih pintu rumah Dexter, Kirana berhenti. Dia merogoh-rogoh saku celananya. Dia baru sadar dia lupa membawa kunci rumahnya. Sambil mengingat-ingat di mana dia melihatnya terakhir kali, dia kemudian menggeleng pelan seraya tersenyum. Terakhir dia memegangnya saat berada di ruang makan. Dia kembali menuju ruang makan.

“Terima kasih, Ki. Sama-sama, Dex.” Terdengar suara Vivian. “Aku muak melihat kalian bersikap seolah-olah kalian hanya bersahabat tetapi kalian tidak berhenti saling menyentuh!”

Kirana menghentikan langkahnya di dekat pintu menuju ruang makan. Dia bersandar di dinding. Salah satu tangannya menekan dadanya. Jantungnya nyaris berhenti berdetak mendengar kalimat itu. Apa dia tidak salah dengar?

“Kami hanya bersahabat, Vivi. Kamu tahu itu. Bukankah selama ini kamu juga tidak keberatan dengan kedekatan kami?”

“Aku tidak keberatan karena aku ingin memenangkan hatimu. Aku ingin menjadi istrimu. Makanya aku menahan diri untuk tidak protes dengan kedekatan kalian. Kalau aku keberatan, apa kamu akan memilih aku daripada dia? Pasti tidak. Kamu pasti lebih memilih dia.” protes Vivian. “Sekarang kasusnya beda. Aku istrimu. Aku berhak meminta kamu menjaga perasaanku.”

“Dia sahabatku sejak kecil, Vivi. Tentu saja kami dekat. Kami besar bersama. Ada apa denganmu? Tadi kamu bersikap begitu baik dan manis kepadanya. Dari mana datangnya semua protes ini?”

“Aku tidak tahan lagi. Aku tidak tahan lagi, Dex! Kamu tidak boleh menemui dia lagi!”

“Tapi, mengapa tidak?” tanya Dexter heran.

“Karena aku terluka melihat kalian begitu akrab. Aku tidak suka melihat caramu menatap dan menyentuhnya!” pekik Vivian kesal.

“Pelankan suaramu, sayang. Kiki tinggal di sebelah. Aku tidak mau dia mendengar semua ini.” Dexter berusaha menenangkan istrinya.

“Mengapa kamu tidak mau dia mendengarnya? Kamu takut dia terluka? Jadi, kamu lebih memilih menjaga perasaannya daripada perasaan istrimu sendiri?”

“Bukan begitu. Oh. Dia meninggalkan kunci rumahnya. Biar aku antar kunci ini sebentar. Dia pasti kebingungan mencarinya.”

“Tidak perlu, Dex. Aku di sini.” ucap Kirana.

Dia melihat dua pasang mata menatapnya dengan terkejut. Vivian melihat ke arah suaminya, kembali menoleh ke arah Kirana, lalu mulutnya membuka dan menutup tidak tahu harus mengatakan apa. Dexter melihat ke arahnya dengan perasaan bersalah dan meminta maaf dalam keheningan. Kirana tersenyum.

“Tidak perlu melihatku seperti itu. Aku baik-baik saja. Apa yang kamu katakan benar, Vivi. Andai aku menikah, aku juga akan merasakan hal yang sama ketika melihat suamiku sendiri begitu dekat dengan wanita lain. Meskipun dia adalah sahabatnya sejak kecil.”

“Aku,” ucap Vivian pelan. Kirana menoleh ke arah Dexter.

“Jangan terlalu keras kepada istrimu. Tentu saja dia benar.” Kirana mengambil kunci rumahnya dari genggaman Dexter. “Dia istrimu. Kamu harus menjadikan dia prioritas pertama.”

“Ki,” ucap Dexter.

“Kita tetap berteman, Dex. Aku tetap temanmu, Vivi. Kalau kalian butuh sesuatu, aku tinggal di sebelah. Tapi untuk sementara aku akan menjauh. Maafkan aku sudah membuat kalian bertengkar. Aku tidak bermaksud mengganggu hubungan kalian. Sungguh.” Kirana mundur satu langkah. “Sekali lagi, terima kasih untuk tehnya, Vivi.”

Kirana membalikkan badannya dan berjalan keluar dari rumah sahabatnya dengan langkah pasti. Dia baru membiarkan air mata yang sedari dari ingin tumpah begitu dia berada di kamarnya. Setelah kehilangan Romeo, kini dia kehilangan salah satu sahabat baiknya. Mungkin Tuhan sudah memulai hukumannya.

(Sumber gambar: pixabay.com oleh @aitoff dengan beberapa perubahan)

Bagian Sebelumnya

Bagian Selanjutnya

English Version

Angel Falls in My Embrace – Chapter 27

Loading...

About Angel R

I love imagination as I love real life. English and Japanese are my second and third languages. Jokowi and Ahok lover.

Check Also

Bidadari Jatuh dalam Pelukan – Bagian 59

Setelah lama hidup dalam penderitaan, untuk pertama kalinya dia merasa begitu bahagia. Dadanya sesak karena …