Home / Fiksi / Cerpen / Bidadari Jatuh dalam Pelukan – Bagian 28

Bidadari Jatuh dalam Pelukan – Bagian 28

Kirana tahu kebaikan yang ditunjukkan Vivian suatu hari akan berubah. Istri sahabat baiknya yang lain sudah lebih dahulu melakukannya. Tidak ada wanita yang tidak cemburu melihat kekasih atau suaminya akrab dengan wanita lain. Sekalipun wanita itu adalah sahabat baik atau sahabat sejak kecil mereka.

Dia hanya tidak menduga hal yang sama akan terjadi kepada Dexter. Vivian begitu pengertian dan bersikap baik kepadanya, saat mereka masih pacaran hingga menikah. Kirana memang kurang hati-hati. Tetapi dia tidak melakukannya dengan sengaja. Sejak kecil dia dan sahabat baiknya itu terbiasa menyentuh tangan, kepala, merangkul atau memeluk.

Mereka juga telah terbiasa berbagi mengenai apa saja. Suka maupun duka. Tangis atau tawa. Selama ini Dexter selalu hadir untuknya. Tetapi tidak. Mulai dari sekarang dia hanya punya dirinya sendiri. Tidak bisa lagi bergantung kepada sahabat baiknya itu. Mereka akan tetap bersahabat. Dia tidak akan bisa begitu saja membuang Dexter begitu saja dari hidupnya. Namun dia perlu menjaga jarak agar tidak menyakiti istrinya.

Keesokan harinya Kirana memakai pakaian kerjanya, merias wajah, dan menata rambutnya. Terbiasa mengikat rambutnya di belakang kepala, kali ini dia membiarkannya tergerai. Dia tersenyum melihat bayangannya pada cermin. Romeo benar. Rambutnya indah dan dia terlihat berbeda dengan rambut hitamnya yang jatuh bebas membingkai wajahnya.

Berdesakan di dalam bus menjadi salah satu hal yang dirindukannya di kotanya. Turun di depan gedung kantornya, dia tersenyum melihat keadaan masih sama. Seorang petugas keamanan dengan ramah menyapanya. Kirana membalasnya dengan keramahan yang sama. Masuk ke dalam elevator, dia tersenyum kepada orang-orang yang telah berada di dalam. Sebelum pintu tertutup seseorang bergegas masuk ke dalam lift. Begitu mengenali pria yang berdiri di sisinya, Kirana berdoa dalam hati supaya dia tutup mulut hingga sampai di lantai tujuannya.

“Hei, hei. Lihat siapa yang masuk kantor hari ini.” ucapnya sarkas. Kirana hanya diam. “Apa liburanmu menyenangkan? Singapura, bukan? Ada oleh-oleh untukku?”

Melihat Kirana hanya diam saja, dia tidak menyerah. “Kirana, Kirana. Kamu memang penuh kejutan. Semua orang terkejut dengan hal yang berani kamu lakukan terhadap perusahaan ini. Tidak ada yang menyangka kamu bisa berbuat senekat itu.”

Kirana masih diam. Pria itu tertawa kecil. “Itu bukan yang pertama ‘kan? Kamu pasti pernah melakukannya sebelumnya. Katakan, ke mana semua uang itu kamu simpan?”

Untuk satu kalimat terakhir itu Kirana memberikan respon. Dia membulatkan matanya dan menoleh ke arah Caraka. Pria itu tertawa terbahak-bahak. Orang di sekitar mereka segera menyuruhnya diam. Pria itu tidak peduli.

“Diam, Caraka. Suaramu menggema di lift ini.” ucap seorang wanita dari arah belakang mereka. Kirana menoleh dan melihat Tamara, kepala bagian keuangan, berdiri di belakangnya.

“Ba, baik, bu. Maafkan saya.” ucap Caraka cepat. Tamara tersenyum kepada Kirana.

Pikiran Kirana kembali ke kalimat terakhir yang diucapkan Caraka. Uang? Uang apa? Mengapa dia menanyakan ke mana dia menyimpan uang itu? Pasti telah terjadi sesuatu selama dia pergi. Melihat ekspresi wajah para bawahannya, Kirana tahu sesuatu yang buruk telah terjadi. Dia segera meminta asistennya untuk masuk ke dalam ruangannya.

“Aku tidak mau dengar jadwalku hari ini. Katakan, ada apa selama aku pergi?” desak Kirana sambil meletakkan tasnya di atas meja dan berdiri dengan menyandarkan pinggulnya ke meja tersebut.

“Itu,” ucap asistennya ragu.

“Bicara yang jelas, Ruby. Aku tidak memanggilmu untuk menghukummu. Aku ingin tahu apa yang terjadi yang tidak aku ketahui.” ucap Kirana tidak sabar.

Ruby menarik napas panjang lalu melihat ke arah Kirana tepat ke kedua matanya. “Begini, bu. Kemarin pak direktur masuk ke ruangan anda. Saya mengikuti beliau dan dari laci meja ibu ditemukan banyak uang. Banyak, bu. Saya tidak menghitungnya, tapi kabarnya jumlahnya sekitar tujuh ratus juta.” Kirana mengangakan mulut dan melebarkan matanya.

“Laci mejaku yang ini?” Kirana menunjuknya. Ruby mengangguk. “Tapi meja ini tidak pernah terkunci. Untuk apa aku menyimpan uang sebanyak itu ke dalam laci tidak terkunci ini? Siapa yang melaporkan aku?”

“Tidak ada yang tahu, bu. Hanya pak direktur dan petugas keamanan yang masuk ke dalam ruangan ibu. Tuduhan ibu mencuri uang perusahaan sudah menyebar ke seluruh perusahaan, bu.” Ucap Ruby perlahan. Tentu saja, tidak ada yang bisa menyembunyikan isu sepenting itu dari pegawai lainnya.

“Baik. Ada pesan dari direktur atau wakil direktur untukku?” tanya Kirana. Ruby mengangguk.

“Kalau pak direktur sudah datang, saya akan diberitahu untuk meminta ibu datang ke kantornya.”

“Baik. Segera hubungi aku.” ucapnya mempersilakan Ruby keluar. Tetapi wanita itu hanya diam.

“Bu, saya tahu ibu tidak melakukannya.” ucap asistennya jujur. “Ibu akan dapatkan dukungan dari saya. Saya akan bantu sebisa saya, bu.”

“Aku tahu, Ruby. Terima kasih.” Kirana mengambil bungkusan yang dibawanya. “Ini oleh-oleh untuk kalian semua.”

“Terima kasih, bu.” ucap Ruby sambil menerima bungkusan tersebut.

Kirana duduk di kursinya begitu asistennya keluar dari ruangannya. Mencuri. Dia dituduh mencuri uang perusahaan. Selama dua belas tahun mengabdi dan berhati-hati setiap kali membuat laporan keuangan proyek yang dipercayakan kepadanya, tiba-tiba saja sejumlah uang ditemukan di dalam lacinya. Tanpa mendengar penjelasan darinya, dia dituduh mencuri? Kalau dia ingin melakukannya, dia sudah melakukannya sejak dahulu. Tidak perlu menunggu selama dua belas tahun.

Terdengar bunyi mesin interkomnya. Kirana menekan tombol yang menyala. “Ya, Ruby.”

“Pak direktur menunggu ibu di ruangannya.” ucap asistennya.

Kirana mendesah pelan. “Baik. Aku segera ke sana. Terima kasih.”

(Sumber gambar: pixabay.com oleh @aitoff dengan beberapa perubahan)

Bagian Sebelumnya

Bagian Selanjutnya

English Version

Angel Falls in My Embrace – Chapter 28

Loading...

About Angel R

I love imagination as I love real life. English and Japanese are my second and third languages. Jokowi and Ahok lover.

Check Also

Bidadari Jatuh dalam Pelukan – Bagian 59

Setelah lama hidup dalam penderitaan, untuk pertama kalinya dia merasa begitu bahagia. Dadanya sesak karena …