Home / Fiksi / Cerpen / Bidadari Jatuh dalam Pelukan – Bagian 29

Bidadari Jatuh dalam Pelukan – Bagian 29

Kirana menarik napas panjang. Dia berdiri lalu keluar dari ruangannya. Asistennya beserta seluruh pegawai bagiannya berdiri melihatnya keluar dari ruangannya. Kirana tersenyum pada mereka. Wajah mereka terlihat khawatir. Dia tidak bisa mengatakan apapun untuk membuat mereka lebih tenang. Karena saat ini dia juga sedang tidak tenang.

“Silakan masuk, Bu Kirana. Bapak Herbert sudah menunggu.” ucap asisten direktur yang menyambutnya dengan ramah.

“Terima kasih, Aprilia.” Kirana berjalan mendekati pintu.

“Ibu Kirana, pak.” ucap Aprilia sambil membukakan pintu.

“Terima kasih, Aprilia. Tolong tutup pintunya kembali.” ucap pria itu. Dia kemudian menunjuk ke arah kursi di seberangnya. “Silakan duduk, Kirana.” Dia memberanikan diri dan duduk.

Pria itu menekan tombol interkomnya dan mempersilakan seseorang untuk masuk. Tidak lama kemudian pintu terbuka. Seorang petugas keamanan masuk sambil membawa tumpukan uang di kedua tangannya. Uang itu diletakkan di atas meja. Pria itu lalu keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Direktur itu memerhatikan wajah Kirana dengan seksama.

“Mengapa, Kirana? Mengapa kamu harus mencuri? Apa kamu begitu butuh uang hingga mengambil jalan pintas? Tidak bisakah kamu datang kepadaku kalau memang butuh uang?” ucap Herbert sambil melihat wanita itu dengan tatapan tidak percaya.

Kirana meletakkan ponselnya di depan direktur tersebut. Pria itu menatapnya heran lalu melihat ke arah layar ponsel tersebut. Tidak lama matanya membulat. Dia melihat ke arah wanita di hadapannya lalu kembali melihat ke arah layar.

“Itu jumlah tabungan saya, pak. Saya bisa tunjukkan uang yang ada dalam deposito yang saya buka dua minggu lalu.” ucap Kirana sambil mengambil ponselnya kembali lalu mengunci layarnya. “Saya tidak butuh uang anda. Saya punya lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup saya.”

“Uang ini ditemukan di dalam laci meja kerjamu. Itu lebih dari cukup untuk membuktikan kamu mencuri, Kirana. Tidak peduli berapa pun jumlah tabunganmu, kamu tidak bisa berkelit lagi. Sejak kapan uang pernah cukup bagi seorang pencuri?” tuduh Herbert tajam. Kirana menutup rapat mulutnya.

Dadanya terasa nyeri mendengar tuduhan itu, terlebih lagi ketika mendengar label yang diberikan kepadanya. Pencuri. Dia tidak pernah berterima kasih sebelumnya atas kematian kedua orang tuanya. Kini dia sangat bersyukur sehingga mereka tidak perlu susah melihat anak perempuannya dituduh mencuri bahkan dilabeli pencuri. Tanpa menunggu penjelasan atau pun pembelaan dirinya.

“Apa anda tidak salah, pak? Saya sedang berlibur dan mendadak uang itu ditemukan di dalam laci meja saya?” ucap Kirana heran. “Apa anda pikir saya akan seceroboh itu? Meninggalkan laci meja tanpa dikunci dengan uang sebesar itu selama saya berlibur?”

“Bukti yang berbicara, Kirana. Kamu tidak bisa berkelit. Buktinya ditemukan di laci mejamu.”

“Apakah sidik jari saya ada di salah satu tumpukan uang itu? Sudah dibawa ke kantor polisi untuk diperiksa dengan menyeluruh? Atau tidak ada seorang pun yang berpikir seperti itu sebelum menuduh saya?” ucap Kirana serius.

Dia mendekatkan tubuhnya ke meja. “Laci meja saya tidak pernah dikunci, pak. Anak kuncinya saya tinggalkan di rumah. Hanya orang yang ingin kejahatannya dengan mudah bisa terbongkar yang menyimpan uang sebanyak itu di dalam laci tidak terkunci. Terlebih lagi, pergi berlibur tanpa khawatir ada yang membuka laci itu dan menemukan uang curiannya.”

“Caraka bilang dia melihatmu mengambil uang itu dan memasukkannya ke dalam laci mejamu.” ucap pria itu sengit. Kirana sudah tahu dialah biang keroknya. Tadi pagi di dalam elevator dia begitu bernafsu menuduhnya mencuri.

“Caraka telah membeli dua mobil mewah dalam waktu dua tahun bekerja di sini dengan gaji yang lebih kecil dari saya. Apa anda tidak curiga? Lihat saya. Apakah saya kelihatan seperti orang yang menyimpan uang banyak? Lagipula saya bukan akuntan atau bekerja di bagian keuangan. Dari mana saya mendapat akses untuk mengambil uang sebanyak itu?” tanyanya frustrasi.

“Uang yang pernah saya pegang hanyalah uang proyek.” tambahnya. “Untuk yang satu itu saya telah membuat laporan keuangan lengkap dengan kuitansi masing-masing transaksi. Laporan tersebut selalu lulus verifikasi bagian keuangan. Saya tidak pernah mengambil uang milik perusahaan ini. Tidak sepeser pun yang bukan hak saya, saya ambil dari kas.”

“Tidak ada pencuri yang mengakui perbuatannya, Kirana, termasuk kamu. Aku ingin surat pengunduran dirimu sudah ada di mejaku besok pagi.” ucap Herbert tegas. Kirana mengerutkan kening.

“Maaf, pak. Saya tidak bersalah. Saya tidak akan mengundurkan diri.” ucap Kirana keberatan.

“Apa? Kamu menginginkan pesangon? Itukah yang kamu mau? Supaya kami yang memecatmu?” tantangnya kesal.

“Kalau saya mengundurkan diri, berarti saya membenarkan tuduhan yang dilimpahkan kepada saya.” Kirana mendorong jauh air matanya sebelum jatuh. Dia tidak akan menangis sekarang. “Sekali lagi, saya tidak mencuri uang perusahaan. Silakan tuntut saya. Saya lebih baik membela diri di pengadilan daripada mengaku bersalah untuk hal yang tidak saya lakukan.”

“Besok kamu tidak perlu kembali bekerja.” Dia mengetuk meja dengan penanya. Jantung Kirana berdetak begitu cepat menyakiti dadanya.

“Apakah itu berarti saya tidak akan diberi surat rekomendasi? Saya pergi tanpa apresiasi selama saya mengabdi?” tanyanya dengan suara serak.

“Kamu mencuri, Kirana. Tidak ada yang perlu diapresiasi dari tindak kejahatan itu.” Ucapan itu membuat Kirana merasa ditampar-tampar dari segala arah. Tetapi dia tidak mau menunjukkan ekspresi yang menyatakan dia terluka di depan bosnya. Dia tidak akan membiarkan siapa pun merasa menang.

“Terima kasih sudah mempercayai saya, pak. Dua belas tahun saya bekerja di sini. Namun masa pengabdian saya tidak dipertimbangkan sebagai kemungkinan saya tidak bersalah. Sayang sekali, anda lebih percaya kepada pegawai yang baru bekerja selama dua tahun di sini.” Kirana berdiri. “Saya sarankan bapak mulai mempertimbangkan untuk memasang kamera pengawas di beberapa lokasi penting di perusahaan anda. Anda tentu tidak mau kehilangan uang lagi ‘kan?”

“Kamu mengancamku?” Herbert menyipitkan matanya.

“Hanya memberi saran. Pencuri yang sebenarnya masih ada di perusahaan ini. Percayalah.”

(Sumber gambar: pixabay.com oleh @aitoff dengan beberapa perubahan)

Bagian Sebelumnya

Bagian Selanjutnya

English Version

Angel Falls in My Embrace – Chapter 29

Loading...

About Angel R

I love imagination as I love real life. English and Japanese are my second and third languages. Jokowi and Ahok lover.

Check Also

Bidadari Jatuh dalam Pelukan – Bagian 59

Setelah lama hidup dalam penderitaan, untuk pertama kalinya dia merasa begitu bahagia. Dadanya sesak karena …