Home / Fiksi / Cerpen / Bidadari Jatuh dalam Pelukan – Bagian 30

Bidadari Jatuh dalam Pelukan – Bagian 30

Dengan langkah tegap dan mengangkat kepalanya penuh percaya diri, Kirana keluar dari ruang kerja atasannya. Tidak ada yang bisa membuatnya menundukkan kepala. Uang itu bukan miliknya, juga bukan hasil perbuatannya. Dia tidak kalah hanya karena bukti itu ditemukan di dalam lacinya. Sekuat tenaga dia akan membela diri dengan memakai pengacara terbaik.

Dia melihat sekretaris atasannya menatapnya sedih. Kirana tersenyum. Dia mengulurkan tangannya kepada wanita baik hati itu. “Aku tahu kamu tidak bersalah, Kirana.” ucap Aprilia penuh simpati.

“Terima kasih sudah memercayaiku.” Kirana meremas tangannya sebelum melepaskannya.

Dia sedang berdiri menunggu di depan elevator saat satu-persatu orang datang dan berdiri di dekatnya. Kirana tidak perlu mengangkat kepala untuk tahu mereka menatapnya penuh simpati. Hal yang tidak dibutuhkannya saat ini. Air matanya nyaris memaksa keluar dari pelupuk matanya.

“Wah! Pencuri ada di sini. Apa yang kamu lakukan di lantai ini? Mencoba mencuri uang lagi?” Suara yang sudah tidak asing lagi di telinga Kirana. Dia hanya mengabaikannya saja.

“Ada apa? Lidahmu kelu? Kamu tidak punya sanggahan atau komentar atas temuan itu?” ejek Caraka. Kirana mengangkat kedua alisnya.

“Hanya orang bodoh yang percaya aku mencuri uang itu.” ucapnya tanpa melihat ke arah Caraka.

“Maksudmu, direktur kita orang bodoh?” tantang pria itu. Kirana tahu dia sengaja melakukan itu sehingga dia marah dan menghina bos mereka.

“Tergantung seberapa meyakinkannya seorang saksi mengatakan dia melihat perbuatan seseorang dan tiba-tiba tahu benar di mana bukti disimpan.” ucap Kirana tanpa basa-basi.

“Kalau saksi itu berbohong, tentu dia tidak bisa meyakinkan siapa pun mengenai perbuatan jahat yang disaksikannya sendiri.” balas Caraka.

Kirana tersenyum lalu menoleh ke arah pria itu. Dia melihat ada lima orang yang berdiri melihatnya dan pria itu sedang berdebat. Mereka melihat ke arahnya, menunggu tanggapannya selanjutnya.

“Kamu tahu mengapa aku bilang yang percaya aku mencuri uang itu adalah orang bodoh? Satu, laci itu tidak pernah dikunci. Aku menyimpan kuncinya di rumahku karena tidak membutuhkannya. Apa kamu pikir aku idiot menyimpan uang curian di tempat yang tidak terkunci?”

“Kedua, jumlah uang itu sangat besar, Caraka. Kalau itu aku, sudah aku belikan rumah atau mobil dan menggunakan nama kakakku. Untuk menutupi perbuatanku. Mengapa dia? Karena dia sanggup membelinya. Posisiku aman, lepas dari kecurigaan siapapun.”

“Ketiga, aku berlibur selama tiga hari di luar negeri. Apa iya ada orang yang pergi berlibur lupa bawa uang untuk berbelanja selama berada di sana? Aku perempuan, Caraka. Aku pasti akan membelanjakan uang sebanyak itu dengan membeli baju, tas, sepatu, atau perhiasan mahal yang asli, bukan palsu. Kesempatan seperti itu tidak akan aku sia-siakan. Dan Singapura adalah surganya. Ada banyak butik terkenal di sana.”

Lima orang pegawai itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Wajah Caraka pucat pasi. Mungkin sebelumnya dia tidak mempertimbangkan ketiga hal itu. Kirana senang begitu mengetahui dia berada di atas angin. Pria itu belum tahu siapa yang dipilihnya sebagai lawan. Dia akan menyesali perbuatannya karena niat jahatnya terlalu mudah untuk dipatahkan.

“Kalau saksi itu berpikir dia sudah berhasil membuatku dilempar keluar dari perusahaan ini, dia salah besar. Aku akan melawan. Aku tidak bersalah. Andai aku dipecat, aku akan mendapat sejumlah uang yang besar sebagai pesangon. Uang itu cukup untuk membiayai pengacara terbaik untuk membelaku di persidangan nanti. Itu pun kalau perusahaan ini cukup cerdas untuk menuntutku.” ucap Kirana sambil menaikkan dagunya. Menantang pria itu untuk membalas ucapannya.

Terdengar bunyi tanda elevator telah tiba. Kirana menegakkan badannya. Beberapa orang keluar dari lift tersebut. Mereka menatap heran ke arah Kirana dan orang-orang di dekatnya. Dia hanya tersenyum. Lalu Kirana menekan angka lantai di mana kantornya berada. Hanya lima pegawai tadi yang masuk ke dalam lift. Dia tidak melihat Caraka ada di antara mereka dan juga tidak peduli.

Begitu jam kerja berakhir, Kirana merapikan mejanya. Dia ingin segera keluar untuk berbelanja membeli kebutuhan sehari-hari karena isi kulkasnya kosong. Mendengar bunyi getar di atas meja kerjanya, dia menoleh ke arah ponselnya. Air matanya jatuh membaca pesan yang masuk. Bank memberitahu adanya uang masuk sebesar dua belas bulan gaji di dalam rekeningnya.

Dengan berat Kirana membuka pintu ruangannya. Matanya membulat melihat rekan-rekan kerjanya berdiri di hadapannya. Pasti ada yang memberitahu mereka mengenai pemecatannya. Sayang, dia hanya diberitahu lewat pesan dari banknya. Sungguh tragis. Dua belas tahun bekerja sepenuh hati dan penuh pengabdian, berakhir karena tuduhan yang sebenarnya mudah saja dilawannya.

Satu-persatu dari mereka memeluknya dan mengucapkan selamat tinggal. Mereka berjanji akan mendukungnya di pengadilan bila perusahaan menuntutnya. Mereka juga berjanji akan bersaksi mengenai kejujuran dan kerja kerasnya di perusahaan tersebut. Kirana berterima kasih. Dukungan mereka sangat dibutuhkannya, terutama sekarang, di mana hanya mereka yang berada di sisinya.

Kini dia telah kehilangan pekerjaannya juga. Apakah akan ada lagi yang menyusul sebagai hukuman berikutnya? Dia tidak punya apa pun lagi. Tidak ada orang tua, tidak ada Ratri, tidak ada pacar, apalagi suami, tidak ada seorang sahabat, tidak ada pekerjaan. Rekan-rekan kerja yang semula dia pikir akan menjadi harapan satu-satunya, harus dia tinggalkan.

Romeo, kamu benar-benar masih lajang ‘kan? Kamu benar-benar belum menikah ‘kan? Tidak ada istri yang sedang melindungimu dengan doanya dan menghukumku dengan doa yang sama? Kalau benar kamu masih sendiri, mengapa hukumannya tidak berakhir juga?

(Sumber gambar: pixabay.com oleh @aitoff dengan beberapa perubahan)

Bagian Sebelumnya

Bagian Selanjutnya

English Version

Angel Falls in My Embrace – Chapter 30

Loading...

About Angel R

I love imagination as I love real life. English and Japanese are my second and third languages. Jokowi and Ahok lover.

Check Also

Bidadari Jatuh dalam Pelukan – Bagian 59

Setelah lama hidup dalam penderitaan, untuk pertama kalinya dia merasa begitu bahagia. Dadanya sesak karena …