Home / Fiksi / Cerpen / Bidadari Jatuh dalam Pelukan – Bagian 31

Bidadari Jatuh dalam Pelukan – Bagian 31

Sepuluh tahun. Selama itu mereka telah mencoba untuk memiliki anak. Belum juga ada hasil. Kemarahan istrinya kian menjadi. Tetapi dia bukan pria yang sama lagi. Yang hanya sabar menunggu dan mendengarkan istrinya mengeluarkan semua kata yang ingin disampaikannya. Begitu suara istrinya meninggi, detik itu juga dia keluar dari ruangan di mana mereka berada. Tidak ingin mendengar semua tuduhan dan intimidasinya. Sudah cukup selama ini dia diam saja mendengar semua yang ingin dilontarkan istrinya. Tidak lagi.

Dua tahun terakhir dia membujuk istrinya untuk menemui konselor pernikahan. Mereka berdua membutuhkan pertolongan. Semua pertengkaran mereka membuatnya lelah. Tetapi sesuai dugaan, istrinya menolak. Miles sampai bingung mengapa dia begitu percaya istrinya mau berubah dan mau berjuang bersama untuk pernikahan mereka.

Selama dua tahun terakhir juga dia mengajaknya untuk memeriksakan diri ke dokter. Jam biologis mereka terus berdetak. Angelica tidak punya banyak waktu lagi untuk mencoba. Dia khawatir kepada istrinya. Tetapi lagi-lagi istrinya menolak. Ingin menghormati keputusan dan permohonan wanita yang dinikahinya itu, dia menurut. Karena penasaran, dia berencana untuk pergi sendiri memeriksakan diri tanpanya. Sayangnya, urusan perusahaan yang bersiap membuka dua cabang selama dua tahun terakhir menguras waktunya.

Dia meringis pelan saat mengoleskan krim di lehernya. Tepat pada bekas gigitan istrinya. Dia menoleh ke arah cermin di hadapannya. Ada bekas gigitan dan cakaran di sekitar leher, bahu, dada, lengan bagian atas, dan punggungnya. Semalam Angelica mendapat energi entah dari mana. Mereka berhubungan intim berulang kali sepanjang malam. Istrinya begitu kalap hanya demi mendapatkan seorang anak. Tidak peduli apakah dia menyakiti tubuh suaminya atau tidak.

Rambutnya dia beri gel dengan hati-hati, lalu dengan sisir dia merapikan rambutnya. Tidak heran melihat jumlah rambut yang rontok di sisirnya, dia membuang kumpulan rambut tersebut ke tempat sampah. Kalau bukan karena dia pergi ke dokter kulit langganannya dengan teratur, sudah lama dia mengalami kebotakan dini dan bekas luka permanen.

Charles, pengacaranya, sudah diberitahu mengenai rencananya. Dua puluh tahun adalah waktu yang cukup baginya untuk berharap dan bertahan dalam pernikahannya. Satu bulan. Dia hanya memberi satu bulan lagi untuk melihat apakah Angelica mau berubah. Istrinya tidak tahu kalau dia berencana menceraikannya.

Dia harus keluar dari rumah dan membiarkan Charles yang mengurusnya. Dengan begitu dia tidak perlu bertengkar lagi dengan istrinya. Juga tidak perlu berhadapan dengan keluarga Angelica yang suka gelap mata dan membelanya mati-matian. Sudah cukup drama yang dihadapinya dalam hidupnya. Dia tidak mau menghadapinya lagi.

Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Istrinya berdiri di sana. Miles melihatnya dari cermin di hadapannya. Angelica sudah berpakaian rapi, siap untuk berangkat kerja. Seperti namanya, dia cantik bagaikan malaikat. Namun entah sejak kapan, kecantikan itu memudar.

“Aku akan pulang larut. Ada janji makan malam bersama teman-temanku. Jangan khawatir, aku tidak akan menginap. Aku akan pulang.”

“Baik.” jawab Miles sambil meletakkan sisirnya kembali ke atas konter. Angelica membulatkan mata.

“Baik? Itu saja? Kamu tidak keberatan sama sekali kalau malam ini aku pulang larut?” tanya istrinya. Miles memejamkan matanya. Suaranya meninggi. Dia keluar dari kamar mandi menuju ruang pakaian. Angelica mengikutinya.

“Aku tidak pernah keberatan kalau kamu ingin menghabiskan malam bersama teman-temanmu. Mengapa kamu kelihatan kesal?” Miles mengambil salah satu kemeja putihnya lalu mengenakannya.

“Jadi, begitu saja? Aku pulang larut karena makan malam bersama teman-temanku dan jawabanmu hanya ‘baik’?” tanyanya.

“Kalau ada yang salah dari jawabanku, bisakah beritahu aku di mana letak salahnya? Kita terlalu tua untuk bermain tebak-tebakan, Angelica.” Miles kemudian mengambil salah satu jasnya.

“Terlalu tua? Jadi kamu ingat kalau kita sudah tua? Aku pikir selama ini kamu bersikap begitu tenang dan santai saja karena menurutmu kita masih muda.” ucap Angelica sarkas. “Berdoalah semoga usaha kita semalam berhasil. Atau kita kehabisan waktu untuk mencoba.”

Miles berhenti saat sedang mengaitkan dasi di kerah kemejanya. Dia menoleh ke arah istrinya. Angelica mengangkat dagu sambil menyilangkan kedua tangan di depan dadanya, siap membalas apa yang akan diucapkan suaminya. Miles mendekat.

“Ke mana perginya wanita penuh semangat hidup dan gairah yang telah membuatku jatuh cinta?” Miles membelai lembut pipi istrinya. Angelica mengerutkan keningnya. “Ke mana istri yang selalu mengatakan cinta dan membangunkan aku dengan ciuman hebatnya setiap pagi?”

“Mungkin dia hilang sejak kamu tidak berhasil memberi apa yang diinginkannya. Dan bisa saja dia akan kembali begitu kamu berhasil membuatnya hamil.” ucap istrinya dingin.

“Apa yang terjadi dengan pernikahan kita, honey? Apa yang tidak bisa aku mengerti di sini? Apa yang sebenarnya sedang terjadi, darling? Karena aku tidak mengerti. Anak tidak pernah menjadi topik utama pembicaraan kita selama menjalin hubungan.” Dia membingkai wajah istrinya dengan kedua tangannya. Tatapan wanita itu melembut.

“Bukankah kita sepakat apa pun yang terjadi dalam pernikahan kita akan kita hadapi bersama? Mengapa sekarang aku merasa aku sedang berjuang sendiri? Mengapa kamu juga harus berperang sendiri? Kita bisa menghadapinya dan menyelesaikan semua masalah bersama.”

Miles merasakan matanya memanas. Dia juga melihat mata istrinya berkaca-kaca. Sesaat lagi Angelica pasti akan mencurahkan isi hatinya. Dia perlu tahu. Apa yang tidak diketahuinya di sini? Benarkah masalahnya hanya karena seorang anak? Dia tahu tidak ada orang ketiga dalam pernikahan mereka. Istrinya tidak mungkin memiliki pria lain.

Lalu, mengapa dia berubah? Apa yang membuatnya selalu mengkonfrontasinya setiap kali usaha mereka gagal? Apa yang sedang ditakutkan istrinya? Dia selalu mengajukan jalan keluar yang akan menguntungkan istrinya. Selalu. Jadi sekarang, apa yang dikhawatirkannya lagi?

“Kamu tidak akan bisa memengaruhiku dengan semua ucapanmu itu, Alastair. Percayalah. Kamu yang mandul.”

“Kamu masih ingin memiliki anak?” Mata Miles melembut saat ia menatap istrinya.

“Iya. Tentu saja iya!” jawab Angelica dengan suara serak.

“Kamu tidak akan pernah mendapatkannya dariku.” Miles menurunkan tangannya. Angelica mundur satu langkah seolah-olah kalimat itu memberinya pukulan telak.

(Sumber gambar: pixabay.com oleh @aitoff dengan beberapa perubahan)

Bagian Sebelumnya

Bagian Selanjutnya

English Version

Angel Falls in My Embrace – Chapter 31

Loading...

About Angel R

I love imagination as I love real life. English and Japanese are my second and third languages. Jokowi and Ahok lover.

Check Also

Bidadari Jatuh dalam Pelukan – Bagian 59

Setelah lama hidup dalam penderitaan, untuk pertama kalinya dia merasa begitu bahagia. Dadanya sesak karena …