Home / Fiksi / Cerpen / Bidadari Jatuh dalam Pelukan – Bagian 32

Bidadari Jatuh dalam Pelukan – Bagian 32

Angelica melihat suaminya dengan mata membulat. Mulutnya yang terbuka lebar ditutupnya dengan kedua tangannya. Air mata menggenangi pelupuk matanya. Miles tidak berekspresi sama sekali saat melihatnya.

“Apa? Jadi dugaanku benar. Kamu tidak pernah mau memberiku seorang anak.” tuduhnya.

“Bukankah kamu sendiri yang begitu yakin aku mandul? Kalau kamu ingin seorang anak, kamu harus cari pria lain.” ucap Miles tenang.

“Supaya kamu bisa mencari wanita lain. Iya ‘kan?” Angelica kembali menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. “Aku tahu mengapa kamu tinggal lebih lama dua sampai tiga hari setiap kali kamu dinas keluar kota. Kamu menemui wanitamu di luar sana. Aku tahu, Alastair. Bagaimana? Adakah dari mereka yang berhasil memberimu seorang anak? Ada? Atau mereka juga akhirnya menjadi bukti bahwa kamu mandul?”

Setiap kali istrinya menyebut tentang wanita lain, dia selalu teringat kepada Juliett. Apa yang terjadi di Singapura hampir lima tahun yang lalu adalah hal pertama dan terakhir dia tidur dengan wanita lain. Semarah apa pun dia, betapa pun besar rasa kecewanya kepada istri dan pernikahannya, dia tidak tertarik untuk tidur dengan wanita lain lagi.

Sekalipun dia berlibur selama akhir pekan setiap kali melakukan perjalanan dinas atau ada wanita yang terang-terangan tertarik kepadanya, dia menghabiskan waktu seorang diri.

“Aku tidak punya wanita simpanan, Angelica.” ucap Miles dingin. Lelah dengan semua tuduhan yang sama yang harus didengarnya itu. Dia tahu ini saatnya untuk keluar dari kamar mereka. “Aku tidak ingin cepat pulang karena tidak ingin melakukan ini lagi denganmu. Bertengkar tanpa alasan dan mendengar suaramu yang meninggi. Seolah-olah dengan begitu kamu bisa meyakinkan aku bahwa kamulah yang paling benar.”

“Sialan kamu, Alastair! Brengsek!” teriak Angelica. Miles tidak menunggu lagi. Dia mundur dan berjalan keluar dari kamar mereka. Istrinya terus berteriak dan mengikutinya dari belakang. Dia tidak memedulikannya.

“Selamat pagi, Pak Miles.” ucap Markus yang membukakan pintu mobil untuknya.

“Selamat pagi, Mark. Terima kasih.” ucap Miles saat duduk di jok belakang.

“Sebentar, pak.” Wanda berlari tergopoh-gopoh dari dalam rumah. Markus menahan pintu tetap terbuka. Wanita itu menyodorkan sebuah tas bekal. “Ini sarapan bapak.”

“Terima kasih, Wanda. Maaf sudah membuatmu repot.” ucap Miles penuh simpati.

“Ini sudah pekerjaan saya, pak.” Senyum wanita itu mengembang.

Miles tersenyum dengan kebaikan semua pelayannya. Sepanjang perjalanan dia menikmati roti isi hamnya yang lezat. Dia tersenyum melihat ke arah supirnya. Markus menyetir dengan hati-hati dan sabar. Dia kagum dengan sikapnya itu. Memiliki keluarga yang menunggu di rumah memang memberi efek itu kepada seorang pria.

Begitu keluar dari lift di lantai di mana ruangannya berada, dia melihat kepala bagian IT telah menunggunya di luar ruangannya. Miles tertawa kecil melihatnya. Pria itu cemberut. Dia tidak bisa melupakan pertemuan pertama mereka setiap kali dia melihat Reynand. Pengendara sepeda motor yang STNK-nya pernah dia tahan. Dua hari kemudian pria itu berhasil mengetahui siapa dia yang sebenarnya.

Dia tidak hanya memberi tujuh juta yang Miles minta, dia juga minta maaf, dan memohon diberi kesempatan bekerja di perusahaannya. Melihat kemampuannya dalam bidang IT, dia menerimanya. Kini pria itu seorang kepala IT yang telah banyak membantunya dalam memberi informasi maupun melaporkan informasi yang perlu diketahui atasannya.

“Reynand, ada kabar buruk?” Hanya itu satu-satunya alasan dia menemuinya langsung. Semua hal lainnya biasanya dia laporkan lewat telepon atau surel, kecuali berita buruk yang harus diketahui atasannya langsung darinya.

“Sangat buruk, pak.” ucapnya dengan nada sangat serius. Miles mengangguk.

“Baik. Kita bicara di ruanganku.” Miles melihat ke arah asistennya. “Kemala, tolong minta dua cangkir kopi diantar ke ruanganku. Kamu baru boleh masuk ke ruangan setelah Reynand keluar.”

“Baik, pak.” ucap Kemala patuh.

Saat Miles masuk ke dalam ruangannya, pria itu telah meletakkan sebuah laptop di atas mejanya menghadap kursi kerjanya. Miles duduk di kursinya dan melihat layar laptop tersebut. Tanpa menunggu penjelasan dari Reynand, dia mengerti apa yang sedang dibacanya. Mendengar bunyi ketukan pintu, dia mempersilakan masuk. Seorang pria masuk sambil membawa baki berisi dua cangkir kopi. Setelah dia meletakkannya di atas meja, pria itu pamit.

“Minta Kemala untuk memanggil kepala bagian SDM menemuiku.” ucap Miles sebelum pria itu keluar dari ruangannya. Dia mengangguk lalu keluar dari ruangan. Miles kembali melihat ke arah Reynand. “Bisa lakukan sesuatu dengan transaksi keuangan ini?”

“Akan saya batalkan. Sisa uang lain yang telah masuk ke dalam rekeningnya?”

“Cetak bukti transaksinya. Itu bisa jadi bukti untuk menuntutnya.”

“Apa anda akan meminta ganti rugi yang lebih besar dari uang yang telah dicurinya?” tanya Reynand penasaran.

“Apa kamu masih perlu menanyakan itu?”

“Tidak, pak. Segera saya selesaikan.” Reynand mengambil laptopnya kembali. “Tidak boleh ada yang tahu. Benar?”

“Tidak boleh ada yang tahu. Aku ingin tahu siapa lagi yang berani mencuri dariku.” Ini sudah ketiga kalinya terjadi dan jumlah yang dicuri semakin besar. Pelakunya selalu orang yang berada pada posisi yang di atas. Bukan bawahan atau pun pegawai baru. Dia sangat menyayangkan hal itu karena tidak mudah mencari penggantinya.

“Baik. Saya permisi sekarang, pak.” ucap Reynand sopan.

“Tidak perlu. Cukup kerjakan di sini. Aku ingin melihat langsung hasilnya.” ucap Miles. “Lagipula kopi itu harus kamu habiskan sebelum keluar dari ruanganku.”

“Baik, pak. Saya akan duduk di sini.” Reynand duduk di salah satu sofa yang ada di ruangan itu. Miles tidak bisa menjawabnya karena dia sedang tertawa kecil. “Pak, tolonglah, kejadian itu sudah lima tahun yang lalu.”

“Aku tahu, aku tahu. Sudah. Kerjakan saja tugasmu.” Miles tertawa terbahak-bahak. Reynand kembali cemberut.

Melihat wajah Reynand pagi itu membuatnya lupa pada pertengkaran dengan istrinya. Begitu Nathan, kepala bagian SDM, memasuki kantornya, Miles memberi perintah kepadanya untuk meminta kepala bagian keuangan mengundurkan diri dan membayar ganti rugi uang yang telah diambilnya dari perusahaan. Dia mempersilakan pria itu untuk meminta bukti kejahatannya dari Reynand. Nathan menurut dan berjanji akan memberitahu perkembangannya kepada atasannya.

(Cover source: pixabay.com by @aitoff with some changes)

Bagian Sebelumnya

Bagian Selanjutnya

English Version

Angel Falls in My Embrace – Chapter 32

Loading...

About Angel R

I love imagination as I love real life. English and Japanese are my second and third languages. Jokowi and Ahok lover.

Check Also

Bidadari Jatuh dalam Pelukan – Bagian 59

Setelah lama hidup dalam penderitaan, untuk pertama kalinya dia merasa begitu bahagia. Dadanya sesak karena …