Home / Fiksi / Cerpen / Bidadari Jatuh dalam Pelukan – Bagian 33

Bidadari Jatuh dalam Pelukan – Bagian 33

Tinggal sendiri saja di dalam ruangannya, Miles meregangkan badannya. Dia melihat kalender di atas meja kerjanya. Ada yang tidak asing pada tanggal hari itu. Oh. Itu alasan istrinya begitu marah. Dasar wanita. Apa susahnya bicara terus terang dan berhenti bermain tebak-tebakan? Tanggal pada kalender adalah hari peringatan pernikahannya kedua puluh. Dia meminta asistennya membelikan buket bunga yang biasanya. Istrinya tidak akan marah lagi setelah melihat bunga itu nanti malam.

Aktivitas Miles di luar rumah berakhir pada jam sembilan malam. Markus dengan setia mengantar ke mana saja dia pergi. Dia tersenyum melihat buket bunga mawar merah yang telah dibeli Kemala. Walaupun pagi itu sangat berat, dia tidak ingin marah terlalu lama kepada istrinya. Biar bagaimana pun hari ini adalah hari peringatan pernikahan mereka yang kedua puluh. Waktu yang sangat lama untuk menghabiskan hidup bersama satu orang saja.

Dia mengizinkan Markus untuk beristirahat karena tugasnya hari itu telah selesai. Lampu ruang depan dan tengah telah dipadamkan, itu berarti para pembantunya telah berada di kamar mereka masing-masing. Dia menaiki tangga menuju lantai atas. Kamar pertama di sebelah kanan tidak mengeluarkan bunyi atau suara apa pun. Sepertinya Angelica belum pulang dari acara makan malamnya. Dia masih punya dua jam sebelum istrinya pulang.

Dia membuka pintu dan melihat kamarnya gelap. Kemudian dia menyalakan lampu dan menuju ruang pakaiannya untuk mengambil pakaian bersih. Keningnya berkerut. Hidungnya mencium bau yang tidak asing memenuhi kamar itu.

Jantungnya mendadak berdebar kencang. Bau darah. Melihat pintu kamar mandi sedikit terbuka dia bergegas ke sana. Dia meraih saklar dan menyalakan lampunya. Miles menemukan istrinya terbaring kaku di lantai kamar mandi. Salah satu pergelangan tangan bagian dalam istrinya basah dengan darah yang mulai mengering. Cairan kental berwarna merah itu menggenang di lantai di daerah bagian depan tubuh istrinya.

Pandangannya segera berputar-putar. Dia tidak tahan melihat darah sebanyak itu. Cepat-cepat dia menutup hidung dengan tangannya dan bersandar di pintu. Ketiga pelayannya pasti sudah tidur. Markus juga sudah kembali ke kamarnya. Mereka tidak akan bisa menolongnya. Kehadiran mereka akan membuatnya tambah panik. Hanya ada satu orang yang bisa menolongnya saat ini. Dia segera mengeluarkan ponsel dan menghubungi dokter keluarganya. Pada dering ketiga teleponnya dijawab.

“Pranaja, istriku tidak sadarkan diri di lantai kamar mandi. A, aku melihat pergelangan tangannya tersayat. Darah, em, ada banyak darah di lantai. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku, a… Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak berani menyentuhnya. Dan aku pikir aku akan segera pingsan.” Miles terbatuk-batuk karena bicara sambil menahan napas. Pranaja telah dua puluh tahun menjadi dokter pribadinya. Dia tahu Miles tidak tahan melihat atau mencium bau darah.

“Ani, segera minta ambulans dikirim ke rumah Miles Bradford.” ucap dokter itu yang diketahui Miles ditujukan kepada salah satu susternya. “Al, jangan panik. Tarik napas yang dalam dan segera cari handuk bersih. Tutup mulutmu dengan handuk itu. Jangan tatap darahnya. Arahkan pandanganmu ke hal lain yang tidak terkena darah. Apa saja, asal bukan darah itu.”

“Baik. Lalu? Istriku?” Miles meletakkan handuk kecil di depan hidungnya.

“Coba letakkan telingamu di bawah hidung istrimu. Apakah kamu merasakan hembusan napasnya?” ucap Pranaja.

Miles menyentuh tombol speaker dan meletakkan ponselnya di lantai. Tidak mudah untuk mengarahhkan pandangannya ke daerah yang bebas dari darah. Dia berlutut di belakang tubuh istrinya. Kepalanya dia dekatkan ke wajah istrinya. Dia menunggu dan tidak merasakan udara keluar dari lubang hidungnya.

“Tidak. Sama sekali tidak, Pranaja!” ucap Miles panik.

“Oke. Jangan panik, Al. Sekarang letakkan telingamu di dada istrimu. Apakah kamu bisa mendengar detak jantungnya?” ucap Pranaja lagi dengan suara tenang. Miles menurutinya. Lagi-lagi dia tidak mendengarkan apa pun. Wajahnya memucat.

“Aku tidak suka ini, Pranaja. Aku tidak mendengar apa pun. Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana ini bisa terjadi?”

“Alastair, ambulans sedang menuju ke sana. Tenaga medis akan memeriksa kondisi istrimu. Tapi kamu harus kuatkan dirimu. Dua tanda itu adalah sinyal buruk. Kemungkinan besar istrimu telah meninggal dunia.” ucap Pranaja. Dia memberikan beberapa instruksi tetapi Miles sudah tidak mendengarkannya lagi.

Dunianya runtuh mendengar ucapan dokternya. Meninggal? Istrinya telah meninggal dunia? Apa yang terjadi? Mengapa dia bisa berbaring kaku di lantai kamar mandi dengan pergelangan tangan tersayat? Dengan darah sebanyak itu, siapa pun bisa mati kehabisan darah. Siapa yang menginginkan kematian istrinya? Atau, mungkinkah dia sendiri yang melakukannya? Tetapi, mengapa?

Hanya karena dia begitu menginginkan seorang anak? Apakah dia mengakhiri hidupnya sendiri hanya karena dia tidak juga hamil? Kalau begitu, apakah ini juga adalah kesalahannya? Diakah yang menyebabkan istrinya meninggal?

Tidak. Dia tidak sanggup menghadapi ini. Setelah lima tahun hidup bagaikan di dalam neraka, dia tidak mau ke dalam neraka yang lain. Cepat-cepat dia mundur menjauhi tubuh istrinya. Keluarganya sangat melindunginya. Ketiga kakak laki-lakinya pasti akan menuduhnya sebagai penyebab kematian kematian saudara perempuan mereka satu-satunya. Dia tidak mau meninggalkan petunjuk apa pun yang bisa digunakan untuk menuduhnya sebagai penyebab kematian istrinya.

Perutnya kemudian terasa aneh. Miles mual-mual. Dia segera ke kamar kosong di sebelah kamar mereka dan bergegas menuju kamar mandinya. Dia memuntahkan semua isi perutnya di toilet. Mungkin mendengar suaranya sedang muntah di kamar mandi, Wanda datang ke kamar tersebut. Dia keluar dari kamar lalu kembali dengan segelas susu segar.

“Bapak tidak apa-apa? Mengapa bapak ada di sini? Apakah ada yang perlu saya bersihkan di kamar mandi bapak?” tanya Wanda khawatir.

“Tidak, Wanda.” Miles menyeka bibirnya dengan lengan bajunya. “Tidak ada yang salah dengan kamar mandinya. Kerjamu bagus. Tapi aku minta kamu jangan masuk ke kamar utama atau kamar mandinya. Sesuatu yang tidak menyenangkan baru saja terjadi dan aku tidak ingin satu pun dari kalian masuk ke dalam. Akan ada ambulans datang, juga Pranaja. Aku tidak tahu apakah mereka juga menghubungi polisi. Tolong sampaikan kepada yang lain agar tidak panik.”

“Ba, baik, pak.” ucapnya dengan patuh.

Dua puluh menit kemudian tenaga medis beserta sebuah mobil polisi datang disusul oleh dokter keluarganya. Mereka memeriksa tubuh istrinya secara menyeluruh. Tanpa perlu mendengarnya sekali lagi, dia tahu istrinya telah meninggal. Tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan. Petugas polisi memeriksa kamar mandi dan kamar dengan seksama. Mereka hanya menemukan sebuah pisau silet di lantai kamar mandi. Tidak ada catatan terakhir yang kadang ditulis pelaku bunuh diri.

(Sumber gambar: pixabay.com oleh @aitoff dengan beberapa perubahan)

Bagian Sebelumnya

Bagian Selanjutnya

English Version

Angel Falls in My Embrace – Chapter 33

Loading...

About Angel R

I love imagination as I love real life. English and Japanese are my second and third languages. Jokowi and Ahok lover.

Check Also

Bidadari Jatuh dalam Pelukan – Bagian 59

Setelah lama hidup dalam penderitaan, untuk pertama kalinya dia merasa begitu bahagia. Dadanya sesak karena …