Home / Fiksi / Cerpen / Bidadari Jatuh dalam Pelukan – Bagian 34

Bidadari Jatuh dalam Pelukan – Bagian 34

Sebelum penyebab kematian istrinya diketahui, dia tidak bisa tenang. Dia membiarkan polisi mengambil ponsel dan laptop milik istrinya untuk diperiksa. Semua pertanyaan yang mereka ajukan padanya, dijawabnya dengan jujur. Dia duduk di ruang depan sambil meminum susu yang disiapkan oleh pembantunya. Tidak sanggup melihat situasi kamar apalagi kamar mandinya. Markus juga ikut berada di ruangan itu bersamanya. Bersiap-siap andai tenaganya dibutuhkan.

“Kami akan melakukan autopsi untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Walau aku yakin istrimu meninggal karena kehabisan banyak darah. Tapi tidak ada salahnya kita mencari penyebab yang lain. Apa kamu mengizinkan kami melakukannya?” tanya Pranaja. Miles mengangguk.

“Tentu saja. Silakan.”

Pranaja menggerakkan tangannya ke arah petugas medis yang telah memasukkan mayat istrinya ke dalam kantong mayat. Memberi sinyal bahwa mereka boleh membawanya. Mereka membawanya menggunakan tempat tidur beroda. Dokternya mendekatinya begitu petugas medis keluar.

“Aku bawa obat mual kalau kamu butuh beberapa.” ucapnya. Miles menggeleng pelan.

“Tidak perlu. Wanda sudah memberiku segelas susu. Keadaanku sudah lebih baik.”

“Baiklah. Segera beritahu aku kalau kamu butuh sesuatu.” ucap Pranaja. Miles mengangguk pelan. “Kamu mau ikut di ambulans, di mobilku, atau mau pergi ke rumah sakit dengan mobilmu sendiri?”

“Dengan mobilku sendiri.” Miles menyisir rambut dengan tangannya. Pranaja menepuk bahunya pelan lalu keluar dari ruangan itu.

Tanpa menunggu perintah darinya, Markus keluar dari ruangan itu. Miles mengikutinya beberapa menit kemudian. Markus mengikuti mobil Pranaja dan ambulans berada di barisan paling depan. Para polisi tadi tidak ikut karena harus kembali ke markas mereka untuk melanjutkan pemeriksaan.

Lima belas menit kemudian mereka tiba di rumah sakit. Miles meminta supirnya menunggu di mobil. Pria itu menurut. Di depan ruang autopsi, seorang wanita memintanya mengikutinya. Beberapa lembar kertas disodorkan kepadanya. Dia dipersilakan membacanya baik-baik sebelum membubuhi tanda tangan. Menunggu hasil autopsi jasad istrinya dia dipersilakan pulang. Dokternya sendiri yang akan memberitahu hasilnya.

Ponselnya bergetar begitu Markus mengendarai mobilnya keluar dari tempat parkir rumah sakit. Miles mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Dia memejamkan matanya begitu melihat nama yang tertera pada layar. Dia menarik napas panjang lalu mengeluarkannya perlahan.

Mom,” sapanya.

Alastair! Happy anniversary!” ucap Amanda riang. Mamanya. Selamat ulang tahun. Miles memejamkan matanya sesaat. Dia sedang tidak siap menerima telepon dari mereka.

Terima kasih, Mom.” jawabnya.

Kamu tidak terdengar bahagia. Ada apa?” tanya mamanya khawatir.

Miles diam sejenak. Dia mempertimbangkan apa sebaiknya dia berkata jujur atau menyembunyikan apa yang sedang terjadi dari kedua orang tuanya. Mereka tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada pernikahannya. Dia tidak ingin membuat mereka khawatir. Mereka tinggal jauh darinya. Kalau mereka tahu dia sedang menghadapi masalah, mereka pasti memaksa untuk datang mengunjunginya. Saat ini dia tidak ingin menambah beban mereka.

Banyak yang terjadi. Aku selama ini berbohong kepada Mom dan Dad.” Miles memijat puncak hidungnya pelan.

Sayang, kamu membuatku takut.” ucap Amanda lagi. Miles menarik napas panjang.

Aku dan Angelica tidak bahagia selama sepuluh tahun terakhir, Mom.” ucap Miles pelan. Terdengar tarikan napas terkejut dari seberang telepon.

Apa yang terjadi?” tanya mamanya dengan suara sedih. Miles membenci percakapan seperti ini.

Kami tidak bisa punya anak, Angelica sangat kecewa kepadaku.” Miles menghela napas dengan cepat karena udara semakin sulit dihirup.

Nak, kamu tahu kami tidak pernah memaksamu memberi kami seorang cucu.” Terdengar suara Shane, papanya.

Aku tahu, Dad. Tapi istriku sangat menginginkannya.

Apa kalian berencana untuk berpisah?

Tidak, Dad. Kejadiannya lebih buruk. Aku mohon Mom dan Dad duduk dan tarik napas panjang.” Dia mendengar Shane dan Amanda bicara berdua. Hening sejenak. Tetapi dia tahu mereka sedang melakukan apa yang dimintanya.

Nak, kamu membuat kami takut.” ucap Amanda pelan.

Aku juga takut, Mom.” Miles terisak. Dia tidak bisa menahannya lagi. “Angelica meninggal. Aku menemukannya di kamar mandi di atas genangan darahnya sendiri. Aku baru saja dari rumah sakit dan mengizinkan mereka melakukan otopsi.

Kami akan datang.” ucap Shane tegas.

Tidak, Dad. Aku mohon, jangan.” ucap Miles cepat. “Awal tahun ini kamu baru mengalami serangan jantung ringan. Aku tidak ingin keadaanmu jadi lebih buruk.

Aku tidak mungkin membiarkan anakku berjuang sendiri.” ucap Shane bersikeras.

Aku punya Pranaja dan Charles yang menolongku, Dad. Jangan khawatir. Mereka teman yang baik. Begitu semua urusan di sini selesai, aku akan datang menemui kalian.

Janji?” tanya Shane dengan lembut.

Janji, Dad.” Miles berusaha meyakinkannya.

Miles melihat Markus membelokkan mobil memasuki halaman rumahnya. Ada sedikit rasa lega bisa kembali ke rumahnya, sekaligus rasa bersalah. Pemandangan yang dilihatnya di kamar mandi tidak akan bisa dilupakannya begitu saja. Tetapi itu masalah yang akan dipikirkannya nanti. Saat ini dia hanya ingin beristirahat.

Aku sudah sampai di rumah.” lapornya kepada orang tuanya.

Markus yang menyetir?” tanya ayahnya dengan nada khawatir yang menghangatkan dada Miles. Dia mencintai orang tuanya yang tidak pernah berhenti memperlakukannya sebagai anak mereka satu-satunya.

Iya, Dad.” jawabnya dengan senyum di wajahnya.

Baiklah. Kami akan menelepon lagi besok sore. Sekarang, istirahatlah.

Kami mencintaimu, sayang.” timpal mamanya.

Terima kasih, Dad, Mom. Aku sayang kalian berdua.

Tidak ingin melihat darah di lantai kamar mandi, dia memilih tidur di kamar lain. Pintu kamar mandi itu ditutup sehingga dia tidak perlu melihatnya ketika mengambil beberapa pakaiannya dari ruang pakaian. Dia sengaja membiarkan kamar mandi tidak dibersihkan atau disentuh sampai hasil autopsi keluar. Andai ini adalah peristiwa pembunuhan, dia tidak ingin pihak berwajib kehilangan bukti yang mereka butuhkan. Sekalipun mereka sudah memeriksa kamar itu berjam-jam.

Untuk saat ini dia hanya ingin istirahat. Hasil autopsi dan penyelidikan polisi akan dipikirkannya nanti.

(Sumber gambar: pixabay.com by @aitoff dengan perubahan seperlunya)

Bagian Sebelumnya

Bagian Selanjutnya

English Version

Angel Falls in My Embrace – Chapter 34

Loading...

About Angel R

I love imagination as I love real life. English and Japanese are my second and third languages. Jokowi and Ahok lover.

Check Also

Bidadari Jatuh dalam Pelukan – Bagian 59

Setelah lama hidup dalam penderitaan, untuk pertama kalinya dia merasa begitu bahagia. Dadanya sesak karena …