Home / Hukum / Dapat Remisi Natal, Benarkah Ahok Akan Segera Bebas??

Dapat Remisi Natal, Benarkah Ahok Akan Segera Bebas??

Beberapa hari ini poster bahwa tanggal 25 Desember 2017, Basuki Tjahaya Purnama (Ahok), akan dibebaskan setelah mendapat remisi berseliweran di WA grup. Sebagai orang yang sedikit tahu tentang aturan remisi dan pembebasan bersyarat, saya pun kebingungan dengan isu yang menyebar ini.

Padahal, setahu saya, Ahok, masih akan lama di dalam penjara meski dia sudah mendapatkan remisi. Mengapa?? Karena pembebasan bersyarat tersebut seingat saya harus terlebih dahulu menjalani 2/3 masa tahanan. Masa tahanan sendiri tidak dihitung dari penetapan vonis melainkan sejak dia ditahan. Jadi, jika dalam persidangan sudah ditahan, maka masa tahanan tersebut sudah dihitung.

Ahok sendiri diputus bersalah dan divonis selama 2 tahun. Jika dihitung 2/3 dari 2 tahun (24 bulan), maka Ahok harus menjalani masa tahanan 16 bulan baru bisa mendapatkan pembebasan bersyarat. Jadi kalau dihitung dari awal ditahan 9 Mei 2017, maka Ahok akan bisa mengajukan pembebasan bersyarat paling cepat adalah tanggal 17 Agustus 2018.

Mengapa begitu?? Karena Ahok pada tanggal 17 Agustus akan mendapatkan remisi umum selama 1 bulan. Secara otomatis maka 2/3 bulan saat itu juga sudah menjadi syarat mengajukan pembebasan bersyarat. Jadi, Ahok tahun ini dipastikan tidak akan natalan bersama dengan keluarganya di luar penjara. Tetapi tentu saja masih bisa merayakan Natal bersama di dalam penjara.

Ahok sendiri saat Natal hanya akan mendapatkan remisi khusus selama 15 hari. Jumalah tersebut sudah sesuai dengan peraturan dan ketentuan yang berlaku. Remisi khusus yang diberikan pada hari raya dalam peraturannya memang hanya diberikan 15 hari setelah menjalani 6 bulan masa tahanan. Setelah itu baru akan mendapatkan remisi khusus selama 1 bulan untuk tahun pertama.

Bebasnya Ahok sendiri sepertinya sudah menjadi momen yang pas saat memasuki hiruk pikuk capres dan cawapres untuk Pilpres 2019. Dan bebasnya Ahok akan membuat suhu politik akan semakin ramai. Ramai karena nama Ahok akan menjadi pembeda dalam Pilpres kali ini. Tetapi pertanyaan besarnya, apakah Ahok akan mau langsung bertempur di dalam politik atau seperti yang pernah disampaikannya akan berlibur dengan keluarga??

Kemungkinan besar yang menjadi prioritas adalah liburan dengan keluarga. Tetapi hal ini tidak akan berlangsung lama. Sebagai seorang die hard, saya meyakini betul bahwa Ahok tidak akan tinggal diam melihat kondisi bangsa ini. Apalagi melihat langsung betapa hancurnya Jakarta yang dibangunnya dalam sekejap olleh pakar kata-kata dan pakar lip balm.

Hati yang lembut itu pasti tidak akan bisa lagi ditahan untuk kembali merebut Indonesia dan nasib rakyat dari para politisi penjual agama dan perongrong APBD. Apakah Ahok akan kembali dan langsung menjadi Wapres atau capres sekalian?? Semua itu masih menjadi sebuah misteri dan bahkan Ahok sendiri pun kalau ditanya tidak akan mampu menjawabnya.

Lalu siapkah para pendukung Ahok melihat Ahok kembali berkiprah dalam dunia politik dan kembali mengusung konsep Bersih, Transparan, dan Profesional (BTP)?? Ataukah para pendukung Ahok sudah kalah mental dan meper oleh para penjual agama yang merusak NKRI dengan alasan demi keamanan?? Saya yakin akan banyak yang tidak siap Ahok jadi cawapres. Mengapa?? Karena kita sudah kalah mental.

Dan itulah juga yang terjadi selama 350 tahun penjajahan Belanda dan 32 tahun orde baru. Rakyat mentalnya dihancurkan dan dibuat takut untuk melakukan perubahan. Dan pada Pilkada DKI, hal itu berhasil dilakukan oleh kaum 212. Mereka berhasil membuat pro Jokowi dan pro Ahok akhirnya memilih cara aman dan memberikan Jakarta digarong sedemikian rupa.

Kalau saya ditanya apakah saya siap dukung Ahok?? Kali ini tidak ada lagi alasan untuk tidak. Saya pasti akan mendukung dia maju di politik dan siap mendukung kapan pun Ahok siap. Bahkan akan dengan sedikit mendesak dan mendorong dia sekali lagi terjun ke dalam dunia politik.

Yakinlah, kalau kita menunda sebuah perjuangan, maka kita harus menunggu belasan dan puluhan tahun lagi mendapatkan orang seperti Jokowi-Ahok berkolaborasi sebagai dwi tunggal. Dan kali ini diyakini tidak akan ada konflik seperti Soekarno-Hatta.

Perjuangan kita demi Indonesia Baru memang akan sangat berat. Mungkin lebih berat dari masa merebut kemerdekaan.

Salam Merdeka!!

Loading...

About Palti Hutabarat

Die Hard Jokowi-Ahok Sejak 2012 sampai selamanya.. Pengelola Indovoices.. Info, diskusi, kerjasama, dan bergabung silahkan WA: 085820189205 atau email: paltiwest@gmail.com

Check Also

Memalukan, Oknum Dokter Pengagum Anies Tercyduk Kasus Ujaran Kebencian dan Penghinaan

  Dunia memang sedang diterpa bencana pengrusakan moral yang sangat luar biasa terkhusus Republik Indonesia …

  • capuholic

    Kalah mental? Itung2an politik bang. Kalo jdi capres jokowi bisa jadi malah kejadian tahun lalu makin wow. Aq lebih stuju kalo ahok jadi mentri sih

  • Eddy Lou

    memang jika harus menunggu th 2024 mngkn ahok sudah kehilangan momentum, minimal bisa jd menteri jika pak de jw terpilih lagi, langkah pertama bisa jd jur kam pak de jw, krn msh punja nama besar…

  • Ari

    Hmm membaca kalimat “pakar lipbalm” suatu anekdot yang lucu haha..pilihan rakyat yang mungkin karena nalarnya sudah terkurung dalam ancaman dan hasutan…kalau dicermati bagaimana tingkah wagabener dengan lipsbalmnya sudah bisa dinilai bahwa orang ini lebih memikirkan diri sendiri dari pada orang lain apalagi rakyat yang dipimpinnya …duh rakyat jakarta anda harus menderita 5 tahun kedepan…kasihan…segeralah kasusnya wagabener ini di tuntaskan sepertinya kok polisi gak ada perkembangannya setelah temannya dijadikan tersangka…#tanyakenapa