Home / Hukum / Divonis Tetapi Tidak Dipenjara, Setelah Buni Yani Kini Asma Dewi Nikmati Keuntungan
KOMPAS.com/NURSITA SARI Terdakwa Asma Dewi seusai divonis 5 bulan 15 hari oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (15/3/2018).

Divonis Tetapi Tidak Dipenjara, Setelah Buni Yani Kini Asma Dewi Nikmati Keuntungan

KOMPAS.com/NURSITA SARI
Terdakwa Asma Dewi seusai divonis 5 bulan 15 hari oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (15/3/2018).. 

Beberapa pelaku hoaks dan ujaran kebencian dari kubu sebelah sepertinya akan terus menikmati keuntungan menjadi terpidana tetapi tidak harus dipenjara. Setelah Buni Yani menikmati keuntungan tersebut, maka kini ada nama Asma Dewi yang juga mendapatkan keuntungan. Tidak heran kalau melihat kenikmatan Buni Yani didapatkan juga oleh Asma Dewi karena mereka satu kubu.

Buni Yani dan Asma Dewi adalah pendukung Anies-Sandi di Pilkada Jakarta. Mereka melakukan aksi memecah belah dengan postingan mereka. Kalau Buni Yani memprovokasi dengan menggunakan video pidato Ahok yang diedit dan diberi keterangan memancing emosi, maka Asma Dewi diduga melakukan ujaran kebencian kepada pemerintah.

Asma Dewi seharusnya didakwa bukan hanya karena kasus ujaran kebencian tetapi juga gerakan tamasya Al Maidah yang menjadi ancaman nyata di Pilkada Jakarta. Tetapi entah kenapa hanya soal ujaran kebencian saja yang dikaitkan. Apakah memang ada deal untuk menyelamatkan Asma Dewi dan ingin menunjukkan bahwa pengadilan adil karena menghukum juga kubu sebelah?? Saya sendiri tidak begitu senang kalau dugaan ini benar adanya.

Kalau memang Asma Dewi patut didakwa dengan tuduhan Saracen dan juga tamasya Al Maidah maka penyidik harus berani mengungkapkannya. Jangan sampai jadi preseden buruk di tengah-tengah masyarakat.

Asma Dewi memang kesannya mendapatkan banyak keuntungan dari vonis yang didapatkannya. Tuntutan Jaksa adalah 2 tahun penjara dan membayar denda Rp 300 juta subsider 3 bulan penjara. Tetapi oleh hakim Asma Dewi divonis hanya pidana penjara selama 5 bulan 15 hari dan tidak langsung ditahan.

“Karena dia (Asma Dewi) sudah keluar demi hukum kan kemarin, itu nanti sampai ini inkrah,” kata Kepala Seksi Pidana Umum Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan Dedyng W Atabay di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (15/3/2018).

“Jadi, tidak serta merta dia pas putusan ini langsung masuk kalau masih ada sisa (hukuman), enggak. Nanti kalau sudah inkrah, dihitung, kalau masih ada sisa, masuk (tahanan),” kata Dedyng.

Kalau hukuman begini yang diberikan, kapan kita bisa berantas penyebar ujaran kebencian dan hoaks?? Pemerintah bukan tidak boleh dikritik, tetapi kalau mengakibatkan ketidaktenangan dan bahkan termasuk orang yang terlibat dalam isu pecah belah di Pilkada Jakarta, maka sudah seharusnya dihukum berat.

Hasil vonis ringan tanpa penjara hanya akan memberikan pesan kepada para pelaku lain yang belum tertangkap untuk tidak takut terus melakukan aksi hoaks dan ujaran kebencian. Vonis ini tidak sejalan dengan apa yang disampaikan polri bahwa kita sedang mengalami darurat akal sehat. Apakah hakim tidak melihat kegentingan tersebut??

Vonis ini membuat saya menjadi pesimis kalau MCA akan divonis berat. Saya juga pesimis kalau pendana MCA akan ditemukan pendananya. Apakah memang benar di dunia hukum sampai sekarang dikendalikan oleh kubu sebelah?? Entahlah, tetapi kalau hukum sudah diintervensi sedemikian kuat, jangan heran kalau saatnya tiba dimana masyarakat akan semakin banyak yang main hakim sendiri.

Mari kita terus dorong supaya dunia peradilan bisa direformasi. Kalau tidak, percuma saja kita punya eksekutif bagus tetapi Yudikatif hancur kualitasnya.

Salam Vonis Tidak Ditahan.

Loading...

About Palti Hutabarat

Die Hard Jokowi-Ahok Sejak 2012 sampai selamanya.. Pengelola Indovoices.. Info, diskusi, kerjasama, dan bergabung silahkan WA: 085820189205 atau email: paltiwest@gmail.com

Check Also

Satu Lagi! Pendemo Ahok Ditahan KPK, “Masuk Barang Tu!”…

  Akhirnya satu lagi personel demo 212 memakai rompi oranye khas tahanan KPK. Setelah sempat …