Demi Sebuah Prinsip, Gue Mungkin Harus Berhenti Nge-fans Sama Ahok

100
SHARES
244
VIEWS


Jujur saya sangat tidak ingin menuliskan ini, karena ini urusan pribadi saya, tapi karena kemarin saat saya mem-posting status ini (Status Facebook gue)di facebook terkait surat gugatan cerai Ahok kepada Vero, ada beberapa teman yang memberi komentar seperti saya lemahlah, saya berharap kesempurnaan-lah atau saya mengurusin urusan rumah tangga orang alias tidak menghargai privasi Ahok.

Namun sangat sayangnya, tidak ada yang bertanya kenapa saya punya rencana berbuat keputusan seperti itu, padahal di status saya jelas ada tulisan “syok” yang artinya terpukul berat karena informasi ini. Dengan kata lain, ada yang menjadi pertimbangan saya secara serius. Ini bukan hanya soal politik, juga bukan hanya soal privasi Ahok dan keluarganya, tapi juga privasi saya sendiri.

Tapi ok lah, tentu saya tetap menghargai mereka walaupun ada yang sampai maki-maki saya, mungkin mereka berusaha untuk menghargai privasi Ahok hingga lupa kalau saya juga manusia yang perlu dihargai privasi dan keputusannya.

Ok lah.

Buat saya pribadi, perceraian adalah masalah yang sensitif dan ribet, pasti ada pihak yang salah. Bahkan ketika seseorang mengugat cerai istrinya hanya karena tidak mau merepotkan, itupun sudah pemikiran yang tidak tepat.

Sebagai pendukung Ahok, tentu saya akan bersikap aktif untuk membela Ahok saat ada yang berusaha menyudutkan atau menfitnah dia. Namun, dalam hal ini, siapa yang harus saya bela? Baik Ahok ataupun Vero adalah satu paket yang telah menginspirasi saya dalam segala aspek kehidupan saya, termasuk aspek kehidupan pribadi saya.

Selain itu, saat kita berusaha untuk membela Ahok ataupun Vero, secara tidak sengaja kita pun akan mengungkit-ungkit privasi mereka. loe bela Ahok, loe akan sentuh privasi Vero, begitu juga sebaliknya. Jadi, untuk menghindari itu, saya perlu berhenti nge-fans sama mereka. Dengan demikian, saya bisa berhenti ikut campur (kepo-in) yang kemungkinan akan berakhir dengan menghakimi dan menganggu privasi satu di antara mereka sekaligus memperkeruh suasana dengan spekulasi-spekulasi yang sesat.

Selain alasan itu, ada hal yang menjadi pertimbangan saya, yaitu soal prisip.

Baca juga:   Pikiran Negatif Bagaikan Racun Dalam Hidup Kita

Ada yang bilang, pendukung Ahok berharap kesempurnaan Ahok, maka akan terdapat ketidak-sempurnaan saat Ahok cerai dengan istrinya. Ini jelas pemikiran yang konyol.

Kalau saya hanya mendukung sosok yang sempurna, maka sesungguhnya Jokowi-Ahok bukan sosok yang sempurna untuk saya dukung. Jokowi ada kekurangan (pernah saya bahas di sini Jokowi dan Lawannya yang Tidak Jelas Siapa), Ahok pun ada diluar gugatan cerainya. Saya bahkan mungkin tidak punya sosok yang harus saya dukung, emang ada manusia yang sempurna di dunia ini?

Tapi prisip saya, keluarga adalah yang paling penting, saya pernah diajarkan untuk selalu mementingkan keluarga dibanding yang lain, apapun keadaannya, segenting apapun kondisinya. Bahkan, saat melakukan kebaikan ataupun sosial, tidak boleh mengabaikan keluarga. Lalai dalam mempertahankan keluarga, buat saya adalah kegagalan yang tidak bisa di tolerir.

Kekurangan lain dalam hal karakter sangat bisa di tolerir, tapi tidak dengan kelalaian dalam mempertahankan keluarga. Tentu ini hanyalah prinsip pribadi saya saja dan saya tentu akan tetap menghargai dan tidak akan mencampuri apapun putusan Ahok nantinya.

Ada yang bilang, pendukung Ahok takut dibully hingga harus berpaling dari Ahok. Saya pikir selama saya membela Ahok atau Jokowi dari 2012, banyak makian, cacian, bullyan bahkan ancaman lewat message telah saya terima, tapi tidak sekalipun saya berpikir untuk mundur, pembelaan terus saya lakukan. Jadi bullyan apa lagi yang saya takutkan lagi?

Rencana untuk membuat putusan ini saya buat dengan sangat berat dan pemikiran yang panjang, bagaimana tidak berat? Sosok yang menginspirasi saya dalam banyak hal, tidak hanya soal kejujuran, ketegasan tapi juga keharmonisan keluarga, yang selama ini saya idolakan harus saya tinggalkan. Tapi prinsip tetaplah prinsip, walaupun berat, keputusan tetap harus saya lakukan.

Pertanyaannya, apakah saya akan menjadi hatersnya Ahok dan memaki-maki pendukung Ahok saat mereka memposting kebaikan Ahok? Jelas tidak, kebaikan Ahok adalah sebuah fakta yang tidak mungkin terbantahkan, sampai mulutmu berbusa untuk membantahnya pu , tetap tidak akan terbantahkan.

Baca juga:   Jangan Menjerumuskan Anak Menjadi ”Anak Mami”

Tidak mengidolakan Ahok hanyalah untuk memberikan ruang yang lebih luas kepada Ahok beserta seluruh keluarga baik keluarga kecil ataupun besarnya untuk menyelesaikan masalah privasinya, sekaligus supaya saya bisa mengimplementasikan prinsip saya dengan baik.

Selain itu, ada hal lain yang menurut saya lebih penting. Supaya bisa lebih fokus untuk mendukung Jokowi. Biarlah urusan gugatan cerai menjadi urusan pribadi Ahok. Saya tidak ingin terlalu fokus ke sana hingga lalai dalam memperjuangankan kemenangan Jokowi di Pilpres 2019 nanti. Bahaya sudah di depan mata (Selengkapnya baca di sini: Waspada Pilpres 2019, Jokowi dan Pendukungnya Harus Siap Melawan Penjajah Bertopeng Nasionalis), masa kita harus fokus pada hal yang pribadi hingga abai terhadap yang lebih penting?

Pertanyaan selanjutnya, kalau kelak Ahok kembali masuk ke politik, apakah saya akan tetap membelanya atau setidaknya memilihnya?

Kalau memilihnya tentu masih bisa, tentu itu balik lagi tergantung lawannya nanti, tapi yang pasti saya tidak akan membelanya mati-matian sampai ngotot-ngototan ma haters-nya lagi. Toh dalam memilih, kita wajib memilih yang terbaik dari yang ada kan?

Ini kurang lebih sama seperti saat dulu saya memilih SBY di 2009 lalu. Saya hanya mencoblosnya di hari pencoblosan. Tidak lebih dan tidak kurang, tidak sampai berdebat dan ngotot-ngototan dengan orang yang memilih lawannya. Ahok, saya kira nanti juga demikian kalau hasil akhirnya tidak sesuai prinsip saya.

Selain itu, saya juga masih tetap akan mendoakan yang terbaik untuk Ahok. Saya pikir tidak perlu jadi pendukung atau fans untuk mendoakan seseorang.

Tentu saja, kelak saya juga akan ceritakan kepada keturunan saya, kalau dulu ada sosok yang berjuang hingga harus dipenjara demi membangun bangsa ini lebih baik lagi, tentu dengan catatan-catatan yang harus menjadi perhatian keturunan saya kelak. Ini kurang lebih sama seperti saya menceritakan sosok pahlawan yang berjuang memerdekakan Indonesia, saya mengapresiasi perjuangan mereka tapi saya tidak mengidolakan mereka.

Namun semua ini masih tergantung akhir dari permasalahan ini.

Kira-kira seperti itu.

Ok lah Sekian..
Hans Steve

Hans Steve

Hans Steve

Saya sangat simple, kritis, dan cuek.. tidak takut dibenci untuk mengungkapkan sesuatu yang benar.

Next Post

Comments 163

  1. No Fear says:

    Anda yg Paling benar, Best writer in IV, karya2 tulisan anda sangat indah, akurat, puitis, romantis, menggelegar…
    All the best, Piss.. ahhh !!??????

    • Hans Steve says:

      itu menurutmu kan??
      dasar komentar sampah macam anak kecil sedang ngambek… wkwkwk

      • No Fear says:

        Wah dipuji masih salah juga ???
        “dasar penulis sampah macam anak kecil sedang ngambek… wkwkwk”
        It really shows what you are.
        Ayooh ganti tuh “softex”-nya , sis , udah penuh tuh !!!

  2. No Fear says:

    Baca comments di lapak lu non, semua yg Komen kamu reply dgn hati panas. Kalo tulisan elu emang gak nyampe kualitas-nya , jangan Baper-an gitu, tapi tingkatkan skill kamu . Hahahahh… Kasiaaann sampe ngga bisa tidur hati illfeel overheat, hihihi…
    Yg lebay tuh yourself, yg ngaku jadi fans fanatik Ahok juga kamu, kasiaaann banget Anak Mami….
    Daripada nyampahin IV mending lu nonton KPop aja ate sambil nangis nonton drama Korea gih …!!! Hahahha

    • Hans Steve says:

      NGACAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

    • Hans Steve says:

      Hati panas… Daripada ada yang commentnya ga berqualitas tapi SOK BERQUALITAS DAN SOK TAU.. wkwkwkwk

      Gpplah..

    • Hans Steve says:

      Hati panas… Daripada ada yang commentnya ga berqualitas tapi SOK BERQUALITAS DAN SOK TAU.. wkwkwkwk

      Jujur nih ya, mending commentnya @majt lina dibanding commentmu..

      Dia walauapun commentnya balik bolak, tapi saya bisa dapat pointnya.. Dia merasa terganggu dan merasa saya nyerempet privacy Ahok.. Gitu

      Sedangkan menurut syaa, saya sama sekali tidak menyerempet privacy Ahok, aku hanya mengambil kasus yang sedang menimpa Ahok untuk menegaskan prinsip saya..

      Tapi minimal, dia masih menghargai orang, tidak menyindir dan merendahkan orang..

      Sedangkan KOMENTAR MU.. hanya cuma bisa menyindir dan merendahkan orang lain.. Tanpa poin yang jelas..

      SANGAT TIDAK BERQUALITAS…

      Jadi percuma juga meladeni orang tidak berqualiatas macam anda..

      Paham ya… Kalau memang loe mau blok ya silakan saja…

      • Majt Lina says:

        “….aku hanya mengambil kasus yang sedang menimpa Ahok untuk menegaskan prinsip saya..”

        Anda ini koq gak merasa sungkan ya, menuliskan kasus rumah tangga Ahok di ranah publik, hanya untuk menegaskan ‘prinsip’ Anda..?? Ck..ck..ck…

        Kalau Anda (sesuai pengakuan Anda) pernah mengidolakan Ahok, hargailah Ahok dengan tidak menuliskan kasus yang sedang menimpanya.

        • Hans Steve says:

          Itu hak saya, dan syaa juga tulis dijudul.. Ini soal ahok…
          Kalau ga suka, ga usah baca..

          Loe mau jadi Ahoker itu urusan loe…
          Tapi saya mau bahas atau ngak itu urusan saya..

          Sudah ya, bahasan ini sampai disini.. Makin dibahas ga akan habis habis.. Ini hanya soal sudut pandang…

          Saya menghargai komentarmu, poinmu jelas dan saya sudah menangkapnya.. Tapi maaf anda melampau batasan.

          Tulis ga tulis itu hak saya. Jangan melampaui batasan itu..

          Anggaplah saya menulis privacy ahok, Kalaupun saya berspekulasi aneh aneh soal Ahok, itu pun tidak jadi urusan mu… Itu urusan saya dengan Ahok… Bukan kamu…

          • Majt Lina says:

            “Anggaplah saya menulis privacy ahok, kalaupun saya berspekulasi aneh aneh soal Ahok, itu pun tidak jadi urusan mu…”

            Sudah saya jawab argumen Anda ini kemarin.

            Selama Anda menuliskan opini ngablak di ranah publik, selama itu pula orang lain akan berkomentar. Itulah gunanya kolom komentar.

          • Hans Steve says:

            ya,,, dan sya juga sudah jelaskan panjang x lebar x tinggi.. kalau masih tidak bisa terima ya sudah,,, terserah anda

            sudah ya.. saya kira bahasan ini sudah selesai, karena kalau lanjut trus ga akan selesai selesai bahkan ampe 10 tahun, karena akan bolak balik ga jelas aja…

            silakan hargai hak masing masing..

            saya menghargai komentarmu dan kritikanmu, poinnya sudah saya tangkap……
            dan saya harap kamu juga menghargai hak saya dalam menulis…

          • Majt Lina says:

            Goodlah kalau Anda bisa menghargai kritikan.

          • Hans Steve says:

            ya donk… setiap kritikan baik yang membangun atau yang baper tetap harus dihargai…

          • No Fear says:

            Kritikan baper gw dihargai brape , non ?

          • Majt Lina says:

            Anda masih menyindir BangNoFear baper? Itu artinya Anda belum berbesar hati menerima kritik. Anda menulis di ranah publik agar dibaca semua orang kan? Ya berarti harus siap dengan komentar2 yang masuk.

          • Hans Steve says:

            Jangan mengurui orang yang bahkan tidak kamu kenal..

            saya menghargai komentarmu.. karena arahnya jelas… walaupun berbeda pandangan..

            tapi bukan berarti saya juga harus menerima komentar yang sifatnya sindiran atau ledekan…..

            silakan saja berkomentar menyampaikan pandangan..
            tapi jangan nyampah…

          • Majt Lina says:

            Menggurui? Anda sendiri yang mengatakan di atas “…setiap kritikan baik yang membangun atau yang baper tetap harus dihargai…”

            Saya gak melihat Anda menghargai kritikan, sejak kemarin Anda mendebat dan berkeras dengan ‘hak’ dan ‘prinsip’ yang terus-menerus Anda suarakan, terkait urusan rumah tangga Ahok.

          • Hans Steve says:

            Menurut anda komentar non fair itu sebagai kritikan?

            Kalau saya tidak menghargai kritikan anda, anda sudah saya blok atau tidak menanggapi kritikan anda dari kemarin. Jadi jangan melampaui apa yang sepantasnya anda dapatkan.

            Sorry ya sis… Terlepas dia memang memuji atau memang menyindir atau meledek, itu tetap aja tidak relevan dengan pembahasan atau tulisan saya. Jadi apa yang mau diterima dari sebuah hal yang tidak relevan?

            Dari awal saya dah menjawab seluruh kritikan anda, berdiskusi dengan anda.. Saya pikir sudah selesai….
            Kenyataannya anda yang tidak bisa menerima pandangan saya, bolak balik kemrin itu kau bahas, bolak balik juga saya dah jelasin.
            Tapi tentu hak anda..
            Terserah anda aja…

            Cuma saya kira bahasan ini sudah selesai …
            Anda mau lanjut. Silakan lanjut berkomentae sendiri ya…
            Saya dah selesai dengan semua pandangan saya yang sudah bolak balik saya jelasin ke anda…
            Terima ga terima itu urusan anda

            Thx atas kritikan anda..

          • Majt Lina says:

            Penjelasan Anda juga bolak-balik melulu soal ‘hak’ dan ‘prinsip’ Anda, maka saya juga bolak-balik menjawab bahwa bukan hak Anda menuliskan urusan rumah tangga Ahok di ranah publik. Terlebih karena Anda mengaku2 pernah mengidolakan Ahok dan blablabla….

            Dan soal ‘prinsip’ Anda yang Anda katakan bertentangan dengan tindakan/ gugatan cerai Ahok, itu juga bagi saya gak perlu ditulis ngablak di ranah publik oleh seorang yang mengaku2 pernah jadi fans Ahok. Setiap orang punya prinsip sendiri2, tapi bukan sepantasnya prinsip itu menjadi tolok-ukur untuk menilai gagal atau tidaknya hidup orang lain. Sama sekali gak pantas. Jika menyangkut ranah privat orang lain, silence is golden. Terlebih ini menyangkut seorang Ahok yang sudah berjasa besar bagi negeri ini, khususnya bagi Jakarta.

            Mengenai komentar yang menyindir atau mengejek, itu akan menjadi risiko semua penulis. Kalau Anda sudah menuliskan opini di ranah publik, maka publik akan bereaksi. Simple as that.

          • Hans Steve says:

            Ya sudah, anggap aja gua sial ketemu pembaca yang rewel yang tidak bisa membedakan inti pembahasan.

          • Majt Lina says:

            Ya, Anda sial kali ini. Mungkin selama ini selalu beruntung. Supaya Anda bisa belajar bahwa Anda gak bisa mengontrol komentar yang beragam.

          • No Fear says:

            Buseeeetttt…. Masih “on” niihh hahahahh.
            Mending Nyanyi yoo… Tariikk maanngg..
            …”Sakitnya tuh di sini
            Di dalam hatiku
            Sakitnya tuh di sini
            Melihat kau selingkuh
            Sakitnya tuh di sini
            Pas kena hatiku
            Sakitnya tuh di sini
            Kau menduakan aku

            Sakit… Sakit…
            Sakitnya tuh di sini
            Sakit… Sakit…
            Sakitnya tuh di sini”…

          • Majt Lina says:

            Hapal amat Bang…. wkwkwkkk….

          • No Fear says:

            Copas dari website anu.

          • Majt Lina says:

            Met malem minggu Bang, bersama keluarga….

          • No Fear says:

            Thnx, @the movie w/my daughters going2watch Jumanji, hope you have quality times w/loved ones also.
            #beenabadboyhurtingothersfeelingbadbadbad

          • Majt Lina says:

            Nyantai Bang… Diriku cool ajjah kooq….

            Btw, daku mo cerita dikit neh. Ada temen yg becanda gini : Andai terjadi (amit2) mereka bercerai, maka akan ada kemungkinan dibentuk “Perkumpulan Mantan Fans Ahok”…. (wkwkwkwkk)…. Dan temenku itu ngomonknya pas daku lagi minum… diriku sampe keselek en batuk2 gak karuan…! Temenku itu emank kocak abeezz….

          • No Fear says:

            Hehehe ada org setrééss hobi nulis nih Suz Lina, kyk kelinci battre enegizer, alkaline, gak abis2….

  3. No Fear says:

    Penulis Baper-an, alay doyan idol, eks fans Ahok fanatik, can’t take critics, ABG lagi PMS. Now everybody laughs @your small brain. You did it to yourself with your own stupid replies.
    Hahahahahhhh. Gak bisa tidur ? Kasiaaann Nona hans

    • Hans Steve says:

      Kasihan Ahok punya fans yang agak lebay lebay gitu… Wkwkwk

      Keknya cuma loe doank yang laughs.. Karena memangg loe agak lebay lebay gitu

  4. No Fear says:

    Ente ane block ajahh, capee baca sedu-sedan tangis &rengekan-mu Nona Hans

    • Majt Lina says:

      Kita emank sesekali kudu ngomen Broh. Wong disediakan kolom komentar koq. Tapi gua bersyukur, dia pengen berhenti ngefans sama Ahok. Harapan gua mah dia bukan cuma berhenti ngefans, tapi juga berhenti nyenggol nama Ahok seumur hidupnyah. Konsisten sajah dahh.