Home / Lingkungan / Sampah Antara Dilema Dan Solusi

Sampah Antara Dilema Dan Solusi

Sampah adalah sesuatu yang begitu dekat dengan kita. Kita hanya tahu bahwa sampah adalah bahan atau barang atau benda yang sudah tidak terpakai dan tidak memiliki nilai ekonomis yang bersumber dari aktifitas manusia maupun proses alam atau secara singkatnya sampah adalah barang atau benda yang sudah tidak berguna. 

Jakarta sebagai sebuah Ibukota Republik Indonesia, tentu menyimpan berbagai permasalahan yang berkaitan dengan sampah. Menurut National Geographic, sampah di Jakarta perharinya mencapai 6000 ton. Gila! Enam Ribu Ton atau 6.000.000 kilogram PER HARI! 

Bandingkan dengan jumlah penduduk Jakarta yang mencapai angka 10 juta orang. Artinya, setiap individu yang tinggal atau berada di Jakarta, masing-masing dari mereka memproduksi sampah minimal 600 gram sampah. Itu mulai dari bayi, anak-anak, remaja, orang dewasa, orang tua, yang sehat, yang sakit, yang waras bahkan orang gila sekalipun, semuanya memproduksi sampah!

Mana mungkin bayi, anak-anak, atau masyarakat muda disamakan dengan usaha yang memproduksi sampah industri dan lain sebagainya?  Memang betul, namanya juga RATA-RATA, saya hanya membagi 6000 ton sampah dengan jumlah penduduk kota Jakarta. Saya setuju bahwa tidak mungkin ke 6000 ton sampah tersebut diproduksi semuanya oleh masyarakat. 

Namun, ini adalah gambaran bahwa sampah kita banyaknya 6000 ton PER HARI !

Di Jakarta, akan dengan mudah kita temui berbagai tumpukan sampah di setiap ruas jalan. Tumpukan sampah di ruas jalan terjadi karena kemalasan serta ketidak pedulian warganya untuk sedikit bergerak menuju tempat sampah yang sudah ditentukan.Dengan gampang kita bisa melihat orang dengan seenaknya saja melempar bungkusan sampah di jalan dan di sungai. Dengan gampang kita melihat orang meletakkan sisa makanannya, bekas minuman di berbagai tempat tanpa ada usaha sedikitpun untuk mengambil dan melangkah kemudian membuang sampah tersebut pada tempat sampah yang telah disediakan, bahkan bak atau tempat sampah itu hanya berjarak beberapa meter dari tempat duduknya.

Saya yakin, pembaca tahu perbedaan sampah yang ada disekitar kita. Yaitu sampah organik dan sampah anorganik.

Sampah organik adalah sampah yang berasal dari limbah makhluk hidup, seperti misalnya kotoran, sisa sayuran, kayu, daun, sisa makanan, bangkai hewan dan sebagainya

Sampah organik sangat mudah terurai dan banyak dimanfaatkan sebagai pupuk oleh para petani. Tumbuhan yang mendapatkan pupuk dari sampah organik ini biasanya tumbuh lebih subur serta lebih sehat dibanding tumbuhan yang diberi pupuk kimia. Namun sampah organik bila tidak ditangani dengan benar merupakan sumber penularan berbagai penyakit. 

Sebagai contoh, Kali Ciliwung yang membelah kota Jakarta, sebelum masa pemerintahan Jokowi-Ahok merupakan sungai terkotor di Indonesia bahkan mungkin di Asia Tenggara. Orang membuang sampah, membuang bangkai, membuang kotoran ditempat yang sama dengan org yg memanfaatkan air tersebut untuk keperluan mandi, sikat gigi, mencuci bahkan memasak air minum, dapatkah anda bayangkan betapa menjijikkannya hal tersebut? Tak heran penyakit kulit menyebar kemana mana. Diare dan muntaber merupakan hal yang biasa bagi penduduk yang tinggal di sepanjang aliran sungai tersebut

Beruntunglah saat pemerintahan kota Jakarta dipegang oleh Jokowi dan kemudian diteruskan oleh Ahok, pembenahan besar-besaran dilakukan. Sampah sampai dikeruk, sungai dibersihkan. Kabarnya bahkan butuh puluhan sampai ratusan truk sampah setiap harinya untuk mengangkut sampah sampah tersebut menuju pembuangan akhir di Bantar Gebang. Untuk penduduk yang tinggal di sekitarnya dialokasikan ke Rusunawa dengan difasilitasi oleh pemprov DKI sehingga memperoleh kehidupan dan kesehatan yang lebih baik

Sampah anorganik adalah sampah yang dihasilkan dari bahan bahan non hayati yang sulit atau tidak dapat terurai seperti plastik, kaca, bahan sintetis, besi dan sebagainya

Sebagai contoh, barang berbahan dasar plastik sangatlah sulit terurai, kantong plastik butuh 12 tahun untuk terurai, botol plastik butuh 50-90 tahun untuk terurai, styrofoam butuh 500 tahun untuk terurai, jadi bila saat anda lahir, org tua anda menanam sekeping styrofoam ke dalam tanah, maka cicitnya dari cicit anda mungkin masih akan dapat melihat styrofoam tersebut, tapi bila yang anda tanam adalah kulkas, mungkin saat ditemukan bentuknya sudah berbentuk fosil atau minyak bumi.

Untuk barang barang yang sulit terurai tersebut biasanya dilakukan daur ulang, dimanfaatkan sebagai perhiasan atau barang kerajinan tangan dan cukup banyak organisasi yang sudah terjun di dalam daur ulang ini. Bahkan Pemprov DKI di bawah kepemimpinan Djarot sudah mulai menginisiasi pemanfaatan plastik untuk bahan aspal sedangkan di sisi lain ada juga usulan dari ilmuwan untuk memanfaatkan puntung rokok sebagai bahan aspal.

Reuse-Reduse-Recycle

Sering kita mendengar istilah reuse, reduce dan recycle. Tapi apa itu reuse, reduce dan recycle? Istilah itu adalah yang saat ini dapat kita pergunakan untuk mengolah sampah. Reduce sendiri berarti menekan atau mengurangi pemakaian produk yang berpotensi menjadi sampah, misalnya lebih memilih membawa tas atau keranjang belanja sendiri dari rumah. Reuse yaitu memanfaatkan kembali barang barang yang telah terpakai, misalnya botol bekas minuman bisa kita pergunakan ulang untuk menyimpan air. Sedangkan Recycle atau daur ulang yaitu menggunakan kembali barang dengan fungsi yang berbeda, misalnya menggunakan ember bekas sebagai pot tanaman. Mengolah puntung rokok atau plastik menjadi bahan aspal masuk ke dalam kategory Recycle ini

Kesimpulan

Sebenarnya slogan, iklan, penyuluhan dan informasi tentang bahaya sampah ini sudah sangat sering didengungkan. Namun perubahan dari sikap warga, terutama warga kota besar, tidak bergeser begitu signifikan.

Kenyataan jumlah volume sampah dalam satu hari masih tetap tinggi. Apakah Indonesia harus menerapkan peraturan tentang sampah seperti Singapura? Dimana setiap orang yang membuang sampah sembarang akan mendapatkan hukuman. Kalau tidak hukuman denda uang, ya hukuman kurungan badan.

Itukah yang kita inginkan? Tidak, kan? Itupun kalau kalian peduli……

Ref;
nationalgeographic.co.id/berita/2015/02/sampah-di-jakarta-diperkirakan-capai-6-000-ton-per-hari

https://jakarta.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/142).

http://sains.kompas.com/read/2017/08/09/090500323/lawan-limbah-ilmuwan-usulkan-aspal-dari-puntung-rokok.

Loading...

About Robin

Check Also

Pak Anies, Anda Itu Gubernur Pencari Solusi dan Menjadi Teladan, Bukan Menjadi Solusinya

Di Penghujung tahun 2017 kemarin, tepatnya dalam kegiatan Grebek Sampah yang digelar oleh Lingkungan Hidup …

  • Gbu Wyatb

    Terimakasih tulisannya mas Robin.

  • Indri Giber

    Welldone mas Robin!
    Saya juga passionate bgt soal lingkungan. IMHO kita sudah darurat sampah plastik, terakhir saya diving di Bunaken harus ‘menembus’ lapisan sampah plastik (yikes!) sebelum turun ke coral. Malu2in bgt krn saya ajakin bbrp temen dari Jerman.

    Jakarta masalahnya unik, karena sgt byk perkampungsn kumuh yg tdk terjangkau fasilitas pengelolaan sampah, atau pada gak mau bayar tukang ngumpulin sampah spt di perumahan2, atau sulit mengorganisir krn gangnya super sempit, dan penduduknya silih berganti, atau malas jalan keluar kampung untuk buang sampah di fasilitas yg disediakan, misal di mulut gang. Makanya gak heran kasur aja dibuang ke kali 🙁

    Andai mereka tahu, kita di Europe musti naik/turun tangga dan jalan kadang ratusan meter buat buang sampah, tidak peduli panas, hujan, atau salju. Udah gitu musti pilah2 kaca, kertas, plastik, dan organik. BTW di Jerman kaca juga dipilah yg bening, hijau, atau coklat. Tapi kita gak ngeluh kok. Jadi dua2nya lah, mental&kesadaran diperbaiki dan fasilitasnya diperbanyak.

    • Robin

      Benar, semua tergantung mental penduduknya, sebagus apapun peraturan, tanpa mental yg baik juga percuma