Home / Politik / Anies Gantikan Aduan Balai Kota Jadi Berjenjang Dari Kecamatan, Ini Kemunduran
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di TMP Kalibata, Jakarta Selatan. (Zhacky/detikcom)

Anies Gantikan Aduan Balai Kota Jadi Berjenjang Dari Kecamatan, Ini Kemunduran

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di TMP Kalibata, Jakarta Selatan. (Zhacky/detikcom)

Semua orang ingin maju, tidak ada yang stagnan dan bahkan mundur. Kalau pun terpaksa mundur selangkah, maunya pasti maju dua langkah. Mengapa?? Karena secara kodrat dan alamiahnya, manusia diciptakan berpikir untuk maju. Peradaban manusia itu maju, tidak mundur. Itulah mengapa kalau kita melihat, banyak kemajuan terjadi dalam kehidupan manusia.

Begitu juga dengan sebuah daerah. Tidak ada satu orang pun ingin daerahnya stagnan dan bahkan mengalami kemunduran. Itulah mengapa, setiap daerah berlomba-lomba untuk memajukan daerah dan kotanya. Jika satu kota sudah melakukan konsep smart city, maka kota lain akan berlomba-lomba melakukannya. Karena konsep smart city mempercepat semua proses pelayanan publik.

Itulah yang dilakukan oleh Ahok selama dia menjadi Gubernur. Ahok berusaha supaya semua bisa berjalan dengan cepat dan menyeluruh. Caranya adalah dengan menggunakan aplikasi qlue. Semua orang bisa melaporkan masalahnya tanpa harus menunggu waktu lama ke kecamatan atau ke kelurahan. Tetapi bukan berarti kecamatan dan kelurahan tidak ada layanan aduan. Kedua-duanya dijalankan.

Selain menggunakan qlue dan layanan aduan di tingkat kelurahan dan kecamatan, Ahok juga menambahkan aduan di Balai Kota. Aduan di Balai Kota tentu melengkapi semua layanan yang sudah ada. Dan dalam beberapa kesempatan saya membaca berita bahwa apa yang dilaporkan ke Ahok umumnya adalah laporan yang lambat di kecamatan atau kelurahan.

Semua strategi ini dilakukan Ahok tentu saja supaya pelayanan publik kepada msyarakat dan aduan-aduan bisa dengan segera dan secepat mungkin dilakukan. Karena masalah di daerah Jakarta itu proses penyelesaiannya harusnya dalam hitungan menit dan jam dengan sebuah SOP yang jelas berdasarkan kewenangan masing-masing.

Sayangnya, pelayanan publik yang serba cepat dan menyeluruh tersebut, kini malah diubah oleh Gubernur Anies Baswedan. Gubernur Anies malah membuat sistem pelayanan birokrasi berjenjang gaya birokrasi lama. Laporan di mulai dari kecamatan, lalu dirapatkan tiap senin di level kecamatan. Tidak dapat solusi naik ke rapat level walikota setiap selasa-rabu, tidak dapat juga baru ke Balai Kota.

Birokrasi berjenjang beginilah sebenarnya yang ingin dihindari oleh Ahok. Dan birokrasi berjenjang beginilah yang tidak disukai publik. Pelayanan menjadi lambat dan tidak jelas SOPnya. Padahal sudah ada sebenarnya kewenangan dan alokasi tugas dan dananya. Tidaklah perlu rapat-rapat lagi. Kalau ada aduan yah tinggal main perintah. Bukankah itu yang namanya pemerintah??

Dan itulah mengapa saya katakan ini kemunduran. Karena orang sudah berpikir tidak perlu lagi birokrasi berjenjang dan semua sudah jelas tugas dan wewenangnya karena sudah jelas aturan main di awal. Nanti lama-lama setiap rapat ada kajian pula lagi. Kapan selesainya masalah??

Ahok jauh lebih maju cara berpikirnya dan lebih cerdas. Saat dia diminta blusukan sama Jokowi, Ahok dengan sangat cerdas memikirkan memakai CCTV dan juga aplikasi qlue dalam sebuah sistem Jakarta Smart City. Karena dengan strategi tersebut dia bisa memantau semua tanpa harus blusukan. Yang sayangnya malah dikatain tidak punya sistem oleh Anies saat Pilkada, eh tahunya malah menikmati sistem tersebut.

Tetapi meski sudah memiliki sistem yang baik tersebut, Ahok akhirnya sadar bahwa blusukan dan menjumpai warga tetaplah sebuah tugas seorang Gubernur. Itulah mengapa setiap sabtu an minggu, beberapa kalai Ahok datangi hajatan warga yang menikah. Mengapa bisa?? Karena semua sudah by sistem dan dia tidak perlu khawatir lagi.

Membuka layanan khusus di Kecamatan di luar jam kerja sebenarnya tetap bukanlah jadi sebuah solusi. Karena tetap saja akan sedikit yang mengadu. Karena entah mengapa, kepercayaan publik saat ini kepada kinerjanya Kepala Darah yang besok berusia satu bulan ini sangatlah rendah. Aduan di Balai Kota yang sepi adalah indikasinya.

Saya sangsi akan banyak orang yang mau datang ke layanan aduan di kecamatan. Paling juga kondisinya sama aja seperti di Balai Kota yang sepi. Apakah karena tidak ada masalah?? Tentu ada. Tetapi ya itu tadi, mereka ragu masalah ini akan selesai dengan cepat. Karena ujung-ujungnya tunggu kajian dulu. Dan akhirnya kasian deh gue menunggu ketidakpastian.

Lalu masihkah mungkin Jakarta lebih maju dari sebelumnya?? Saya sangsi, karena itu target kita bukan lagi supaya Jakarta lebih maju, tetapi jangan sampai terlalu jauh kemundurannya. Sayang sekali kalau kemajuan yang terjadi menjadi sia-sia karena kemunduran dalam waktu 100 hari.

Caranya?? Mari bergabung dan bersuara melalui Indooices. Ikuti lomba penulisannya..

Lomba Menulis #100HariKepemimpinanAniesSandi, Kawal Jakarta Tetap Baik Dan Semakin Baik

Kalau tidak bisa menulis share ke teman anda untuk mengikuti lombanya. Jangan juga berpikir bahwa Jakarta hanya urusan orang Jakarta. Jakarta adalah Ibukota Negara dan sudah jadi tanggung jawab semua Warga Negara.

Salam IV.

About PeWe

Die Hard Jokowi-Ahok Sejak 2012 sampai selamanya.. Pengelola Indovoices..
Info, diskusi, kerjasama, dan bergabung silahkan WA: 085820189205 atau email: paltiwest@gmail.com

Check Also

Setnov Kecelakaan, KPK Tetap Bergerak, Pansus Angket di DPR Gelisah

Ketika menyaksikan siaran langsung Rosi di KompasTV, perdebatan yang sudah memamas antara 2 orang nara …

  • nasionalis asli

    1. Ini adalah jurus ngeles tingkat tinggi, agar dia tidak banyak mikir.
    Karena secara otak dia mamang tidak mampu.

    2. JKT58 tidak boleh maju [ sesuai kesepakatan bersama ], karena sudah menjadi sifat pendukung pentol korek, bahwa kemajuan itu akan memperlihatkan kebodohan mereka contoh manusia menciptakan kain dengan warna warni tetapi bahluler bangga pakai daster. Kota yg terlalu maju maka akan membuat mereka menjadi alien kekekekeke.

    3. Sudah sesuai moto gaberner ” MAJU KOTANYA BAHAGIA WARGANYA ”

    Persiapan di 2019 doi dan para kecoa, mau bikin NKRI menjadi padang pasir

    • Palti West

      kita padang rumputkan

      • nasionalis asli

        Hayuukk jangan pernah lelah menebar kebobrokan mereka kaum pentol korek dan para donaturnya.

        • Palti West

          siap… terus dukung IV

  • Kusuma Ningsih

    Sekarang aduan itu menjadi impian saja.
    Kembali pada sistem sebelumnya maka … ada uang surat2mu kuurus.

    Yg skrg adalah bos DKI Jangan bermimpi akan melayani, spt Ahok.

    • Palti West

      itu dia modusnya.. semua dapat bagian,,, hehehe

  • eddy hans

    salah satu faktor yg hambat kemajuan dan pemba gunan di negara kita adalah mslh birokrasi , lihat lah pd masa orba dulu , urus apa aja serba ribet , klo begini caranja kita akan mundur puluhan tahun ke belakang , hal hal seperti ini sebetulnja sudah usang dan kuno , sudah bnjk di bahas dr zaman dulu ampe skrg , ya udah JKT SMART CITY kita ganti aja jd JKT STUPID CITY , gampang diingat kan !…..

    • Palti West

      wkwkwkwk.. boleh tuh jadi judul.. Jakarta stupid city

  • minor13

    ini secara tidak langsung menyirami “budaya suap, sogok, uang penglicin apapun sebutannya” yg sedang diberantas saber pungli ……
    org yg ingin mengadu skrg langsung dapat kepastian kapan masalahnya selesai bilaperlu saat itu juga langsung ditangani akan ngga ragu “merogoh kantong” kalau dirasa harus menunggu lama tanpa kepastian …..
    dan laporan ABS pun sangat gampang masuk ke pak Gubernur ….

    • Palti West

      wah saya sebenarnya ga mau nyinggung itu.. ga enak.. hahaha

      • minor13

        semua ada sebab akibatnya ….. dan akibat dari birokrasi yg lambat ya munculnya “oli” pelumas yg sebenernya ngga perlu itu …..

        • Palti West

          nah itu dia sebenarnya modusnya kalau kita mau jujur.. qlue itu ga pakai pungli.. hahaha

          • minor13

            dan memang lebih efisien klo pengaduan di Balai Kota itu tetap ada karena Gubernur bisa dgn mudah memproses laporan yg masuk langsung dan memerintahkan langsung ke dinas/instansi terkait supaya langsung turun ke lapangan …… potensi laporan ABS juga berkurang …… dgn lewat aplikasi qlue mempermudah pengumpulan data dan bisa membantu analisa bahkan memprediksi masalah2 yg sering dihadapi warga supaya bisa sampai ke akar masalah bukan tambal sulam masalah yg ada di permukaan ……

          • sugeng hartono

            lalu dibalaikota dijawab ” anda yg punya masalah ya cari solusi donk, masak kita harus diskusi akademis disini”

          • minor13

            ini lah kemundurannya …… untuk apa gubernur digaji klo malah nyuruh balik warga cari solusi sendiri ….. minimal gubernur seharusnya mengarahkan ke instansi terkait bukan dikembalikan …..

          • Palti West

            betul tuh

          • Palti West

            alamak

          • Palti West

            tentu

    • Kusuma Ningsih

      Betul … itulah mengapa Ahok dihujat dan difitnah, karena yg spt itu jumlahnya banyak sekali.

      • Palti West

        yuppp

  • Sekar Pramudyo

    Dimana2 yang namanya orang baru kerja di 1 tempat itu semangat.. hasil maksimal karena otak masih fresh..
    Lha gubernur wakil gubernur ASU (!!!!!!!!!!!) belum 1 bulan udah dongo..

    Ini karena semua karma.. ‘tangan semesta’ sedang menampar mulut mereka yang ketika pilkada selalu nyinyir..

    #gapernahpinter

    • Palti West

      itulah kalau sok tahu dan sok jago.. ngelawan ga tahu kemampuan