Home / Politik / Dukungan Bukan Dari Prabowo, Demiz Dan PKS Kecele, Siap-Siap Rugi Bandar
KOMPAS.com/ Muhamad Syahri Romdhon

Dukungan Bukan Dari Prabowo, Demiz Dan PKS Kecele, Siap-Siap Rugi Bandar

Sudah terlalu sering kita melihat bagaimana kelakuan PKS yang sering sekali melakukan politik SARA dan Hoax dalam manuver-manuver politiknya. Di Pilkada Jakarta hal tersebut terjadi dan menimbulkan sebuah luka dan trauma mendalam. Sampai terasa dalam setiap relasi warga Jakarta hingga saat ini.

Dalam sebuah kesempatan, seorang warga di Jakarta melakukan audiensi dengan saya dan meminta saya hadir memberikan advice dalam rapat kecil yang mereka lakukan untuk melakukan perlawanan terhadap isu SARA. Ya, isu SARA semakin tajam di lapisan masyarakat paling bawah di RT dan RW. Ada indikasi mereka berusaha merebut dan menguasai RT dan RW di Jakarta.

Afiliasinya bukan hanya PKS dan HTI saja, tetapi pada intinya adalah kelompok kaum intoleran dan Islam radikal yang kehadirannya merusak dan merobek kebhinekaan. Sangat sulit rasanya bertoleransi dan bertenggang rasa ketika kaum yang merasa paling benar sendiri ini sudah ada di sebuah lingkungan. Jangankan yang berbeda keyakinan, yang sesama umatnya aja mereka kafir-kafirkan.

Karena itu, saya paling senang dan bangga saat Presiden Jokowi mengeluarkan Perppu Ormas. Perppu yang membungkam dan membubarkan HTI. Perppu ini juga akan memberedel ormas yang kerjaannya anarkis dan membuat kerusuhan. Akhirnya memang memberikan efek jera bagi FPI dan yang lainnya. Mereka kini tidak lagi banyak melakukan persekusi.

Bahkan terkesan mereka ini sedang berkamuflase menjadi ormas yang peduli kemanusiaan. Entah berapa lama bertahannya tetapi yang pasti begitu mereka buat kerusuhan, Presiden Jokowi akan segera bubarkan. Ketegasan Presiden Jokowi ini malah dianggap sebagai pengekangan HAM oleh para aktivis HAM kelas coro.

Baca juga:   Ingin Dinilai Merakyat, Anies Pamer Naik KRL Ke Pernikahan Putri BW

PKS yang juga pentolan Islam Radikal, kini seperti sedang kena karma. Mereka yang suka tipu-tipu dengan memakai ayat dan agama, kena batunya. Mereka seperti kena balasan yang menyakitkan ketika status pasangan mereka Deddy Mizwar-Ahmad Syaikhu sebagai bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat dalam ajang Pilkada Jawa Barat 2018 terancam.

KOMPAS.com/ Muhamad Syahri Romdhon

Keikutsertaan pasangan ini bisa batal karena Gerindra menarik dukungannya. Kursi PKS untuk mengusung sendiri pasangan Demiz-Syaikhu tidak cukup dan membutuhkan suara partai lain. Yang paling memungkinkan tentu saja adalah Gerindra, tetapi karena Gerindra menarik dukungan, PKS akan sulit menarik dukungan yang lain.

Pilkada Jakarta memang menjadi cerminan Pilkada Jabar. Kemungkinan yang bisa diraih adalah suara PAN yang jadi koalisi mereka di Pilkada Jakarta. Tetapi apakah PAN mau bergabung?? Kemungkinan sepertinya sangat sulit dilakukan. Lalu apa yang menyebabkan Gerindra mencabut dukungannya?? Sepertinya ada pembicaraan yang tidak fix di antara Gerindra dan PKS.

Demiz dan PKS sendiri merasa bahwa tarikan dukungan tersebut bukanlah dari Ketua Umum Prabowo Subianto. Pernyataan baru dari Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Parta Gerindra Jawa Barat Mulyadi bukan dari Prabowo. Menanggapi klaim Demiz dan PKS tersebut, Mulyadi mengingatkan bahwa pernyataan dukungan tidak pernah langsung dari Prabowo tetapi dari dirinya.

Mulyadi menyatakan bahwa untuk menyatakan siapa yang didukung dalam Pilkada di daerah mana saja bukanlah level Ketua Umum. Itu adalah kewenangan Ketua DPD.  Jadi penarikan kembali pernyataan tanggal 17 Agustus 2017 terkait pasangan Demiz-Syaikhu kembali harus datangnya dari Ketua DPD Jabar, yaitu Mulyadi.

Baca juga:   Cerdik, Anies Gunakan Dikembalikannya Mobil Ratna Sarumpaet Serang Ahok

Pernyataan Mulayadi ini tentu saja menohok Demiz dan PKS. Meski mereka berusaha tenang, tetapi penegasan Mulayadi ini tentu saja menimbulkan ketidakpastian pasangan yang akan mereka usung. Demiz dan PKS sepertinya sedang kecele dan dipermainkan oleh Gerindra. Bagaimana tidak dipermainkan, Demiz dan PKS tentu saja berharap bahwa dukungan di Pilkada Jakarta berbalas dukungan di Pilkada Jabar.

Tetapi namanya Gerindra, mungkin saja ada deal-deal politik yang gagal disepakati. Paling tidak adalah kesepakatan mendukung Prabowo di Pilpres. PKS sendiri masih belum memastikan hal tersebut. Apalagi setelah kesepakatan PT 20 persen yang disahkan dalam Paripurna. Ataukah ada isu transaksi jabatan dan uang yang belum kelar??

Apapun alasannya, kalau dukungan Gerindra benar-benar batal, maka Demiz dan PKS harus siap-siap gigit jari. PKS juga harus siap-siap rugi bandar. Karena dukungan di Pilkada Jakarta tidak berbalas di Pilkada Jabar. Lalu siapa yang diuntungkan?? Entahlah, tetapi kalau Demiz-Syaikhu gagal, maka akan ada poros baru, Demokrat-PAN-Gerindra. Siapa yang diusung?? Mungkin saja AHY.

Nasib Demiz dan PKS diujung tanduk. Semoga memang benar tidak ada lagi yang dukung mereka ini. Biar hilang PKS dan Islam radikal di bumi Jabar. Amin.

Salam dipermainkan.

Loading...

About Palti Hutabarat

Die Hard Jokowi-Ahok Sejak 2012 sampai selamanya.. Pengelola Indovoices.. Info, diskusi, kerjasama, dan bergabung silahkan WA: 085820189205 atau email: paltiwest@gmail.com

Check Also

Amien Jadikan Balai Kota Ajang Kampanye, Balai Kota Sudah Tidak Netral

Diundang dalam acara Ustadzah Peduli Negeri di Balai Kota, Selasa (24/4/2018), Amien Rais berkesempatan melakukan pidato …