Home / Politik / Jokowi: Penyuluh Agama Adalah Pemandu Umat Bukan Pemandu Yang Menakut-Nakuti
Foto: Biro Pers Presiden

Jokowi: Penyuluh Agama Adalah Pemandu Umat Bukan Pemandu Yang Menakut-Nakuti

Foto: Biro Pers Presiden

Setelah melakukan kunjungan kerja ke Papua dan Papua Barat, Jokowi melanjutkan kunjungan kerja ke Semarang, Jawa Tengah. Jokowi dijadwalkan akan menutup acara Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama PPP serta melakukan silahturahmi dengan para Penyuluh Agama se-Jawa Tengah. Dalam kunjungan kali ini, Jokowi juga menyempatkan diri melakukan kuliner ke Soto Pak Man.

Dalam kunjungan kali ini, memang nuansa PPP menjadi kental terasa. Apalagi kalau mengingat bahwa Penyuluh Agama merupakan bagian dari program Kementerian Agama dimana menterinya adalah tokoh PPP. Karena itu, suasana teduh dan tenang sangat terasa. Bahkan dalam tulisan saya sebelumnya, Jokowi terlihat nyaman dengan PPP.

Di tengah-tengah maraknya politisasi agama dan agama menjadi alat memecah belah, kehadiran partai berbasis agama seperti PPP yang memberikan keteduhan sangat dibutuhkan. Karena kalau partai agama semuanya buat kegaduhan, maka akan semakin banyak kekacauan yang terjadi.
Partai berbasis agama yang beberapa kali buat kegaduhan adalah PAN dan PKS. Kalau PKB gaduhnya cuma karena Cak Imin ngotot jadi cawapres. Hehehe..

Hal inilah yang saya pikir membuat Jokowi dalam sambutannya saat silahturahmi dengan para Penyuluh Agama mengingatkan mereka untuk tidak melakukan hal yang sama. Jokowi menekankan bahwa sebagai penyuluh mereka harus menyampaikan rasa optimis dan tidak menjelek-jelekkan.

“Ini harus disampaikan pada masyarakat, sering tidak bisa bedakan mana yang kritik mana yang mencela, mana kritik mana cemooh, mana kritik mana menjelek-jelekkan. Kritik itu memberi solusi, kalau tidak ada ya menjele-jelekkan. Ini yang tidak boleh dikembangkan dalam kotbah-kotbah agama,” terang Presiden.

“Penyuluh agama adalah pemandu umat, bukan pemandu yang menakut-nakuti, menimbulkan pesimisme. Tapi pemandu yang memancarkan aura semangat kepada seluruh umat,” katanya.

Pernyataan Jokowi ini secara tidak langsung menjadi counter literasi atas apa yang baru-baru ini disampaikan oleh Amien Rais dalam tausiyahnya. Amien menyebut adanya partai yang membela agama Allah dan ada agama yang tidak. Mereka dikategorikan menjadi partai Allah dan partai Setan. Tausiyah pun dijadikan ajang orasi politik.

Partai Allah adalah partai yang melakukan perjuangan bersama 212. Mereka adalah PAN, PKS, dan Gerindra. Masuknya Gerindra sendiri menjadi keanehan bagi saya pribadi. Selain bukan partai Islam, keIslaman Prabowo saja diragukan. Tetapi karena memang suka-suka mereka saja beragama, Gerindra pun dimasukkan jadi partai agama.

Berkembangnya tausiyah dan khutbah-khutbah yang menjadi ajang menjelek-jelekkan dan menakut-nakuti membuat Jokowi perlu mengingatkan para Penyuluh Agama. Jangan sampai ikut terseret dalam praktek politik praktis yang malah merendahkan status mereka sebagai penyuluh. Yaitu sebagai pemandu umat untuk terus optimis dan yakin akan kehidupan saat ini dan ke depannya.

Bangsa ini memang membutuhkan para pemandu umat yang menebar kebaikan dan optimisme. Di saat para elit agama jatuh dalam kapitalksme dan ambisi politik praktis merebut kekuasaan. Saatnya agama dikembalikan sebagai penebar kebaikan, bukan ketakutan.

Salam Pemandu Umat.

Loading...

About Palti Hutabarat

Die Hard Jokowi-Ahok Sejak 2012 sampai selamanya.. Pengelola Indovoices.. Info, diskusi, kerjasama, dan bergabung silahkan WA: 085820189205 atau email: paltiwest@gmail.com

Check Also

Jokowi vs Ahok dalam Pilpres 2019!!

    Menarik menunggu pengumuman siapa saja yang maju menjadi calon presiden 2019. Dari “koalisi” …