Home / Politik / Ketika Jokowi Sebut Dirinya Panglima Tertinggi TNI Di Depan Jenderal Carper

Ketika Jokowi Sebut Dirinya Panglima Tertinggi TNI Di Depan Jenderal Carper

Salah satu hal yang baik dilakukan oleh seorang pemimpin bukanlah memblowup atau menggoreng isu-isu panas dalam struktur organisasi yang dipimpinnya ke media untuk dijadikan konsumsi publik, melainkan menggunakan instrumen resmi seperti rapat untuk menegur dan juga mengingatkan, serta mengevaluasi setiap kegaduhan.

Penyelesaian konflik dengan tidak memperpanjang saling kritik dan serang di media dan menjadi konsumsi publik adalah hal yang tidak disukai oleh Presiden Jokowi. Sudah ada contoh menteri yang kena reshuffle hanya karena dia buat kegaduhan di depan publik dan akhirnya menjadi sorotan yang tidak baik.

Presiden Jokowi jelas ingin supaya internal kabinet tidak banyak buat kegaduhan, tetapi lebih banyak berkerja. Itulah mengapa Presiden Jokowi memberi nama kabinetnya adalah kabinet kerja. Tidak suka yang gaduh tetapi yang banyak berkerja. Karena itu jangan heran Presiden Jokowi sangat suka dengan Menteri Basuki yang kalem tetapi terus berkerja.

Nah, dalam kesempatan melakukan Sidang Kabinet Paripurna, Presiden Jokowi pun menyampaikan sebuah pesan penting kepada kabinetnya. Pesan yang pada intinya sama saja, tetapi ada hal yang menjadi sebuah penekanan Presiden Jokowi untuk seseorang yang baru saja membuat kegaduhan.

Ya, dalam pembukaan sidang kabinet tersebut, Presiden Jokowi menyebutkan dengan lengkap statusnya sebagai seorang Presiden yaitu sebagai kepala pemerintahan, sebagai kepala negara, sebagai panglima tertinggi Angkatan Darat, Laut, dan Udara. Status sebagai Panglima Tertinggi menjadi sangat mencolok karena baru-baru ini ada seorang Jenderal membuat kegaduhan.

Presiden Jokowi dengan sangat tegas menyampaikan pesannya dengan menekankan status dirinya sebagai Panglima Tertinggi untuk fokus pada tugas masing-masing. Pesan yang kiranya bisa dipahami oleh Jendera Caper, Panglima TNI Gatot Nurmantyo, si pembuat kegaduhan dengan isu 5000 senjata.

Kegaduhan mengenai pembelian senjata tersebut sangatlah terlihat modusnya. Melakukan pembicaraan, lalu menyebarkan rekaman pembicaraan tersebut. Sebagai orang yang sudah lama di dunia politik, Presiden Jokowi sadar betul bahwa ini adalah sebuah setingan. Tetapi dengan lihainya Presiden Jokowi tidak menambah kegaduhan dan memberikan pesan tegas dalam sebuah sidang kabinet.

Presiden Jokowi ingin memberikan teladan kepada kabinetnya bagaimana seharusnya menyelesaikan konflik dan menyampaikan protes dan gagasan terhadap sesuatu. Menggunakan rapat-rapat resmi dan tidak perlu membuat kegaduhan. Masalah 5000 pucuk senjata tidak perlu jadi kegaduhan kalaulah Jenderal Caper mau gunakan rapat-rapat resmi.

Tetapi memang namanya sudah ada modus tidak baik, maka kegaduhan pun terjadi. Jenderal Caper sepertinya masih terus memperjuangkan supaya dia juga dapat anggaran pengadaan alutsista bukan Kemenhan. Apalagi modusnya kalau masalah dapat fee proyek. Tidak ada orang yang ngotot ingin mendapatkan anggaran kalau ujung-ujungnya masalah duit.

Padahal, kalau tujuannya adalah pengadaan senjata, siapapun yang melakukan pengadaan tidaklah penting. Yang penting alatnya tersedia. Kalau mau gaduh bukan mempersoalkan siapa pegang anggaran, melainkan alatnya sudah disediakan atau tidak. Itulah kalau memang fokus pada pengadaan, bukan anggarannya.

Karena itu, menjadi sangat penting pesan tegas yang disampaikan oleh Presiden Jokowi yang disertai pernyataan dirinya adalah Panglima Tertinggi TNI. Ini menjadi sebuah pesan keras bagi para jenderal yang berada di kabinetnya untuk mematuhi setiap instruksinya dan tidak buat kegaduhan. Khususnya si Jenderal Caper.

Semoga saja dengan pesan dan pernyataan Presiden Jokowi ini, Jenderal Caper bisa kembali fokus kepada tugasnya sebagai Panglima TNI, yaitu mengurusi Pertahanan bukan keamanan. Tidak perlu lagi sibuk mengurusin anggaran yang sudah disepakati dipegang oleh Menhan.

Jenderal Caper kini harus kena uppercut dari Presiden Jokowi setelah sebelumnya kena hook kanan dalam acara nobar G30SPKI di Bogor. Jenderal Caper harusnya dengan ini sadar bahwa yang dihadapinya bukan orang biasa, melainkan satria piningit yang punya banyak strategi dan penglaman berpolitik. Kalau mau coba lagi silahkan, tetapi siap-siap kena pukulan KO dari Presiden Jokowi.

Inilah yang membuat saya sangat kagum dengan strategi perang politik yang dilakukan Presiden Jokowi. Tahu kapan diam dan bertahan, tetapi tahu juga kapan momen menyerang dan menggunakan cara yang bagaimana. Semua dilakukan dengan satu fokus untuk membangun Indonesia lebih baik, khususnya di luar Jawa.

Masihkah ada yang mau melakukan manuver politik menyerang Presiden Jokowi?? Siap-siap kena tampol.

Salam Tampol.

Loading...

About Palti Hutabarat

Die Hard Jokowi-Ahok Sejak 2012 sampai selamanya.. Pengelola Indovoices.. Info, diskusi, kerjasama, dan bergabung silahkan WA: 085820189205 atau email: paltiwest@gmail.com

Check Also

Survei Capres Muncul Nama Rizieq Dan Somad, Survei Median Menggelikan

Bukannya salah melakukan survei, tetapi kalau lembaga survei ingin terlihat lebih elegan dan terlihat netral …

  • Novita Ita

    mantap jiwaa