Home / Politik / Ketika Warga Singapura Lihat Hati Halima Yacob, Bisakah Indonesia Lihat Hati Ahok??

Ketika Warga Singapura Lihat Hati Halima Yacob, Bisakah Indonesia Lihat Hati Ahok??

Sangat menarik kalau melihat bagaimana negara lain bisa berkembang maju dan lebih baik. Maju bukan hanya dilihat dari sisi ekonomi dan infrastrukturnya, tetapi juga dari sisi peradaban kemanusiaannya. Kemajuan peradaban ini dapat dilihat dari mulai majunya cara berpikir dan bersosialisasi masyarakatnya.

Peradaban maju dibuktikan dengan cara sederhana, tidak berpikir saling bunuh, saling perang, dan hidupnya seperti orang barbar. Segala sesuatu diselesaikan dengan kekerasan fisik dan hantam-hantaman. Negara dengan peradaban tinggi menjunjung tinggi kemanusiaan dan tidak merendahkannya.

Peradaban inilah yang menjadi kunci sukses pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan sebuah negara. Hidup yang melihat manusianya, bukan apa yang dipakainya dan apa yang diyakininya. Memisahkan ranah privasi dan ranah negara dengan baik dan tidak digesek-gesekkan. Singapura salah satu negara yang membuktikan hal tersebut.

Bukti yang tidak hanya terlihat dalam kehidupan negaranya yang maju dan baik. Tetapi juga ditegaskan dengan terpilihnya Halimah Yacob sebagai Presiden Wanita pertama di Singapura dan Presiden Melayu pertama Singapura dalam 47 tahun. Terlepas dari sistem pemilihan mereka yang memang memberikan kesempatan kali ini kepada suku Melayu untuk mencalonkan diri, tetapi terpilihnya Halima menjadi terobosan baru.

Terobosan ini jelas terlihat dari perjalanan politik Halima yang diterima masyarakat meski dirinya wanita dan memakai kerudung. Halima sebelumnya pernh menjabat sebagai Menteri Negara Pengembangan Komunitas. Semua berjalan dengan baik dan tanpa pergesekan SARA yang meresahkan.

Halima sendiri menyebut bahwa dirinya bisa sampai pada tahap seperti ini tidak terlepas dari penerimaan warga Singapura terhadap dirinya. Halima menyebut bahwa warga yang memilihnya melihat dia bukan dari kerudungnya tetapi hatinya. Hal inilah yang membuat dirinya menjadi satu-satunya anggota parlemen yang memakai tudung.

Penjelasan Halima ini menurut saya memang hanya mungkin terjadi dalam kehidupan dan peradaban kemanusiaan yang sudah maju. Melihat manusia karena hatinya yang mau melayani dan mengabdi bagi masyarakat. Tidak melihat tampilannya dan juga keyakinannya. Karena bagaimanapun kita, kita semua adalah manusia yang punya hak yang sama untuk hidup dan berpolitik.

Hak sipil untuk memilih dan dipilih serta mendapatkan sebuah proses pemilihan yang fair dan tidak berdasarkan SARA tidak boleh dilanggar begitu saja. Karena ketika manusia tidak lagi dipilih karena kemanusiaannya (hati), maka yang ada adalah diskriminasi dan terkotak-kotaknya kemanusiaan.

Itulah mengapa Indonesia harus belajar dari sejarah Halima sebagai Presiden Wanita pertama dan juga Presiden Melayu pertama setelah 47 tahun. Halima menerobos double minority, yaitu sebagai wanita serta suku minoritas. Dari 5,7 juta penduduk Singapura, 74% terdiri dari Cina, 13% Melayu, 9% India dan selebihnya kategori “lainnya”.

Sejarah Indonesia baru menghasilkan Presiden Wanita pertama, yaitu Megawati. Saya pikir, sebagai negara yang mengagungkan toleransi dan menghargai keragaman, maka Indonesia perlu mempertegasnya dengan mengizinkan seorang double minority menjadi Presiden. Tidak harus seperti sistem Singapura, cukup jangan memainkan politik SARA.

Kalau lah Indonesia benar-benar menerapkan pemilihan yang adil dan tidak memandang SARA, maka tidak mungkin kalau akhirnya Indonesia akan punya Presiden Kristen dan Cina pertama dalam sejarahnya. Ya, mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), punya kualifikasi dan kapasitas tersebut. Masalahnya tinggal apakah Indonesia mau lihat hati daripada mata sipitnya.

Saya yakin kalau itu terjadi, maka kita akan bangga menjadi negara kebhinekaan seutuhnya. Tetapi kalau Ahok masih saja dijegal karena mata sipitnya dan keyakinannya, maka negara kita masih jadi negara abstrak, tidak nyata. Bicara NKRI dan kebhinekaan, tetapi pemimpin dari kaum minoritas dijegal.

Negara kita ini tidak akan sempurna meski sudah paripurna menjadi sebuah negara yang menjunjung tinggi keberagaman dan toleransi. Aneh saja rasanya kalau Indonesia mengaku negara bhineka tetapi faktanya belum punya Presiden dari kaum minoritas. Kalau itu terjadi tentu saja tidak ada lagi yang menyangsikan kebhinekaan Indonesia.

Mungkinkah itu terjadi?? Saya yakin akan terjadi. Syaratnya peradaban Indonesia maju secara manusiawi bukan ontawi. Sehingga warganya melihat hati bukan masalah keyakinannya. Kalau sekarang gagal di Jakarta, semoga berhasil di Pilpres. Indonesia punya Presiden dari minoritas?? Kenapa tidak.

Salam Hati.

Loading...

About Palti Hutabarat

Die Hard Jokowi-Ahok Sejak 2012 sampai selamanya.. Pengelola Indovoices.. Info, diskusi, kerjasama, dan bergabung silahkan WA: 085820189205 atau email: paltiwest@gmail.com

Check Also

Ketua BNN Ragu Anies Tegas Tutup Diskotik Jual Narkoba, Alexis Saja Masih Buka

Ternyata bukan hanya kaum cebong saja yang ragu dengan kepemimpinan Gubernur Jakarta, Anies Baswedan. Ternyata …