Home / Politik / Pencitraan Jokowi Di Bali, Beri Bantuan 7,1 Miliar Dan Presiden “Anak-Anak”

Pencitraan Jokowi Di Bali, Beri Bantuan 7,1 Miliar Dan Presiden “Anak-Anak”

Pencitraan yang dibuat oleh Presiden Jokowi tidak akan pernah bisa diikuti oleh siapapun. Bapak Pencitraan Nasional sekaliber SBY saja kalah. Kalau SBY melakukan pencitraan dengan melakukan latihan rutin dan membayar konsultan politik, maka Presiden Jokowi melakukannya secara alamiah.

Karena begitu alamiahnya, tidak ada yang sanggup mengikuti gaya pencitraan Presiden Jokowi. Mereka yang tidak sanggup melakukan pencitraan ini akhirnya nyinyir dan menyebut semua yang dilakukan Presiden Jokowi adalah pencitraan dalam artian sudah diseting seperti yang dilakukan oleh SBY. Padahal, kalau dilihat dari gesturenya, Presiden Jokowi memang orangnya begitu.

Kalau pencitraan versi SBY jelas terlihat bagaimana gesturenya dipaksakan, tetapi kalau Presiden Jokowi jelas dari awal masuk politik menjadi Walikota Solo dan sampai jadi Presiden indonesia tetap saja sama. Mulai dari membagikan bantuan, bahkan sampai relasi dengan rakyat.

Tidak ada yang dibuat-buat karena memang itulah aslinya Presiden Jokowi. Presiden yang ndeso dan sangat dekat dengan rakyatnya. Pencitraan seperti inilah yang sepertinya juga sedang ditiru oleh AHY yang sedang bergerilya ke daerah-daerah mencari simpati. Tetapi bisakah AHY seperti Presiden Jokowi?? Jawabannya tidak akan bisa.

Presiden Jokowi jelas sekali memang terbentuk seperti saat ini, bukan karena dibuat-buat. Yang mengetahuinya sejarah Presiden Jokowi pasti tidak akan menyinyir kalau ini hanya pencitraan belaka. Karena memang begitulan pencitraan hidup Presiden Jokowi.

Tidak perlu mengingatkan Presiden Jokowi untuk memberikan bantuan karena kalau kita melihat apa yang ada di dalam mobil dan rombongannya, Presiden Jokowi selalu siap sedia dengan buku-buku untuk dikasih. Kalau sedang dalam kunjungan kerja, Presiden Jokowi juga memberikan sepeda. Bahkan saat Presiden Jokowi melihat ada video youtube anak-anak minta tas, Jokowi malah memberikan sstu paket lengkap tas dan isinya serta sepatu.

Lalu mengapa ketika Presiden Jokowi disebut pencitraan atau akting saja saat memberikan bantuan?? Tentu saja itu tidak lepas karena perebutan kekuasaan. Presiden Jokowi memang harus diserang measlian dan keunikannya tersebut karena menjadi sebuah pencitraan yang pada akhirnya membuat lawan akan menjadi sangat sulit mengalahkannya.

Pada saat kunjungan ke Bali, Presiden Jokowi kembali melakukan pencitraan alamiahnya. Datang memberikan bantuan sebesar 7,1 Miliar dan kembali menjadi rebutan pengungsi untuk berjabat tangan. Kalau sudah melayani rakyat bersalaman, sudah bisa dipastikan, paspampres akan mengalami kesulitan karena harus tetap menjaga keselamatan Presiden.

Diantara pencitraan yang dibuat oleh Presiden Jokowi, yang paling kuat menunjukkan bahwa dia sangat alamiah dalam melakukan pendekatan sebagai seorang Presiden rakyat adalah pendekatannya kepada anak-anak. Jika saat perayaan hari anak Presiden Jokowi mati-matian belajar sulap, maka di Bali Presiden kembali menunjukkan bagaimana melakukan pendekatan kepada anak-anak.

Bagaimana caranya?? Biarlah cuitan ini yang menjelaskannya..

Anehnya, Presiden yang sudah begini baik dan dekatnya dengan rakyat, malah mau diganti dengan Presiden tukang nyinyir Prabowo, bahkan mulai muncul nama Gatot yang digadang-gadang jadi capres. Padahal, kita tahu kalau mereka yang dari militer mana bisa melakukan hal yang seperti ini. Yang ada malah kerjanya hanya bisa bicara tidak ada empati.

Kalau saya ditanya pencitraan yang bagaimana yang dipilih, apakah pencitraan seperti SBY atau Jokowi, maka saya akan pilih Jokowi. Kalau saya disuruh memilih pencitraan seperti militer atau sipil, maka saya akan memilih pendekatan sipil seperti yang dilakukan oleh Presiden Jokowi.

Bisa dibayangkan kalau negara ini kembali dipimpin kader militer yang dalam rekam jejaknya gagal memberikan perubahan yang signifikan dan ketika lengser malah meninggalkan masalah. Diskontuinitas pembangunan akan kembali terjadi dan kita akan kembali melihat negeri ini pembangunanya mandek.

Sudah cukup militer diberi kesempatan memimpin di negeri ini selama 32 tahun dan ditambah lagi 10 tahun dimana hasilnya sangat memprihatinkan. Kini, biarlah negara ini terus dipimpin sipil yang pencitraannya seperti Presiden Jokowi. Membangun dan dekat dengan rakyat. Membuat kita bisa tenang dan anak-anak juga merasa nyaman dengan Presidennya.

Lalu setelah Presiden Jokowi, siapa lagi yang akan meneruskan kepemimpinan sipil yang bekelanjutan dan dekat dengan rakyat?? Siapa lagi kalau bukan yang sedang ada di Mako Brimob sekarang. Sesuai dengan ramalan Gus Dur, saya berharap negara ini sudah maju peradabannya, para onta sudah balik ke ekosistemnya dan kita akan punya Presiden dari kalangan minoritas yang pertama.

Jadi, masih mau dipimpin militer?? Kalau saya ORA SUDI.

Salam Jokowi Dua Periode.

Loading...

About Palti Hutabarat

Die Hard Jokowi-Ahok Sejak 2012 sampai selamanya.. Pengelola Indovoices.. Info, diskusi, kerjasama, dan bergabung silahkan WA: 085820189205 atau email: paltiwest@gmail.com

Check Also

Ketua BNN Ragu Anies Tegas Tutup Diskotik Jual Narkoba, Alexis Saja Masih Buka

Ternyata bukan hanya kaum cebong saja yang ragu dengan kepemimpinan Gubernur Jakarta, Anies Baswedan. Ternyata …