Home / Politik / Pilkada 2018 / Potret Sumut jelang Pilgub 2018

Potret Sumut jelang Pilgub 2018

Menelusuri jalanan di kota Medan dan Sumatera Utara adalah ibarat menunggangi seekor kuda liar yang belum dijinakkan ataupun bermain motorcross. Hal ini dialami oleh semua pemilik kenderaan bermotor dari roda dua hingga roda lebih dari delapan. Bahkan bila lengah sedikit akan menyebabkan kecelakaan fatal, mulai dari terjebak di dalam lubang besar hingga terbalik. Terutama dimusim hujan.
Slogan Sumut Paten sudah menggaung ke seantro jagad memang sungguh hebat. Bagaimana tidak, mulai dari kolam renang musiman, track motorcross tersulit, danau kecil hingga bukit sampah hanya ada di kota Medan dan sekitarnya. Walikota Medan yang terpilih periode 2017-2022 juga terkesan BENAR berhasil menyabet dua piagam predikat terbaik se Indonesia.
Mungkin hal yang menjadi bahan pertimbangan pemberi piagam adalah keunikan infrastruktur. Ditambah dengan aksi begal yang tidak mengenal siang ataupun malam siap mengancam keselamatan warga. Aparat terkesan main mata, hal ini banyak dikeluhkan warga. Bilamana begal tertangkap dan dimassa, aparat akan sigap dan cepat tiba. Namun bila lolos dari massa, aparat datangnya bisa dalam hitungan jam. Sungguh suatu kebetulan yang sangat sering terjadi. Suatu keunikan khas tersendiri yang tidak ada di kota manapun.
Bahkan untuk menikmati dugem tanpa perlu menghabiskan biaya ke tempat hiburan. Listrik dengan voltase bisa naik turun, padam hidup berjadwal tiga kali sehari sesuai dosis dokter telah memberikan kesempatan untuk mengganti barang elektronik di rumah dengan yang baru.
Sebagai tambahan, ukuran volume otak sebagian warga juga menyumbangkan banyaknya sampah di jalan. Tinggal buka kaca jendela dan lempar, bila batuk berdahak tinggal meludah keluar. Sampah rumah bertumpuk hanya membuat beberapa penghuninya melakoni detektif di dekat daerah parit pembuangan. Begitu tidak ada orang, campakkan. Salahkan   siapa? Apakah tidak ada pemimpin yang memberikan penyuluhan, ataukah penyuluhan yang diterima masuk telinga kanan keluar juga dari kanan (belum sempat masuk karena main medsos)? Sumber kemacetan selain populasi cicilan mudah pada kenderaan (bukan untuk rumah tinggal) juga tingkat kesabaran masyarakat yang tidak ada. Izin mengemudi yang dikeluarkan tanpa tes, calon stroke berat parkir sembarangan. Kenapa? Silakan tanya pada rumput yang bergoyang.
Yuk kembali ke topik pembahasan.. Bagaimana peta politik di Medan dan Sumut hingga saat ini masih belum jelas. Belasan calon mendaftar. Persaingan politik jelang Pilgub 2018 tinggal menghitung bulan. Arah sosialisasi belum ada, apalagi program kerja yang ditawarkan. Yang banyak cuma baleho dan spanduk jati diri yang menghiasi segala penjuru tanpa menghiraukan izin, apalagi keselamatan penduduk. Mulai dari menutupi rambu lalu lintas, penyangga yang tidak kokoh, hingga mengorbankan pohon-pohon yang harus dipaku.
Kita bisa menghitung berapa kepala daerah di Sumut yang ketanggol KPK karena korupsi. Namun bukannya malu, mantan narapidana juga menyalonkan diri untuk Pilgub 2018. Bukankah ini suatu keunikan yang luar biasa dari Medan selain kulinernya yang terkenal maknyus. Mampukah masyarakat mempertahankan kesabaran? 2016 lalu masyarakat sudah menjawabnya dengan Golput sebanyak 70% lebih, dan diperkirakan untuk 2018 tidak akan berubah jauh.
Warga Medan hanya bisa gigit jari melihat kemajuan Jakarta, warga Medan juga hanya bisa geram melihat pemimpin terbaik negeri ini dihujat dan dihina dengan berita Hoax, warga Medan hanya bisa berharap sang idola memimpin provinsi ataupun kota nan majemuk ini. Apakah harapan masyarakat kota Medan akan terwujud? Apakah masyarakat Sumut lebih cerdas dari warga Jakarta dalam menelan pil Hoax dan sirup SARA yang kerap kali dihembuskan jelang pemilihan kepala daerah? Mari kita tidur dan bermimpi bersama.
Salam dari warga kota Medan “the autopilot city” yang menunggu satu jam untuk bisa menjalankan kenderaannya 25 meter karena kemacetan yang parah (saya menulisnya diantara jalan Mandala by Pass simpang Perguruan hingga jalan Mandala by Pass simpang Tangguk Bongkar dua berjarak 30 meter pada pukul 18.00 WIB)
Simak potretnya..
 
Loading...

About Hansen Tevin

Aktifis Sosial - Aktifis Buddhis - Aktifis Kemanusiaan- Tokoh Masyarakat

Check Also

Sumut Darurat Korupsi, Djoss Menjadi Solusi

Sempat beredar penggalan foto yang diduga merupakan surat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) beredar. Surat dengan …